Sebelum subuh, Pasar Bantul selalu terdengar seperti orang tua yang menahan batuk.
Air menetes dari seng, tikus berlari di balik peti malam, dan bau lilin panas dari tungku batik menempel di kulit Sekar Raina Wiratama seperti dosa yang belum dicuci. Di depannya, selembar kain mori tua terbentang di meja kayu: sobek di tepi, bernoda karat, tetapi motifnya masih angkuh—canting halus, parang patah, dan lambang kecil keluarga Sembada yang hanya berani disentuh orang dengan tangan bersih.
Pada kain itu, darah kering sebesar biji asam tersangkut di antara serat mori. Ia sudah menggosoknya dengan air lerak, tetap saja merahnya tinggal, keras kepala. Bukan noda baru, bukan pula noda yang mau tua dengan sopan; warnanya seperti sesuatu yang diam-diam menolak dikubur.
Kain itu datang tiga hari lalu dari gudang rumah tua Sembada yang dibongkar diam-diam di pinggir kota, dibawa seorang kuli pasar dengan pesan singkat: perbaiki sebelum dimusnahkan. Sekar Raina Wiratama tidak bertanya terlalu banyak saat menerimanya. Di pasar, barang-barang yang selamat dari rumah orang kaya sering lebih jujur daripada pemiliknya.
“Jangan terlalu lama, Nduk,” kata Tatik Sutrisna dari kios seberang. Ia sedang menekan kertas pemberitahuan penggusuran yang berkibar di pintu rolling door dengan batu ulekan, supaya ancaman itu tidak terus menampar angin. “Kalau matahari naik, orang-orang mereka datang lagi.”
Sekar Raina Wiratama tidak mengangkat kepala. “Kalau sobekannya dibiarkan, benangnya lari. Seperti utang.”
“Utang siapa?”
“Utang orang besar yang selalu ditagihkan ke orang kecil.”
Tatik Sutrisna mendengus. “Mulutmu itu kalau dijual, cukup buat bayar listrik pasar.”
Sekar Raina Wiratama tersenyum tipis, lalu mencelupkan canting ke malam cair. Panasnya merambat dari gagang bambu ke jari.
Dari luar, angin subuh menggoyang puluhan surat pengosongan lapak. Kertas-kertas itu bertepuk seperti tangan orang kaya yang baru menang lelang. Di sudut bawah setiap surat, nama perusahaan pengembangnya dicetak kecil, tetapi semua orang pasar sudah tahu siapa bayangan yang berdiri di belakangnya: Sembada. Nama yang sama dengan lambang kecil di kain mori tua di meja Sekar Raina Wiratama.
“Sekar,” panggil Tatik Sutrisna lebih pelan. Suaranya kehilangan olok-olok, tinggal serak orang yang terlalu sering menghitung rugi. “Kalau mereka ratakan pasar ini, kau ikut ke mana?”
“Ke tempat yang butuh kain diperbaiki.”
“Dan kami?”
Sekar Raina Wiratama menatap perempuan-perempuan pasar yang tertidur bersandar pada karung, orang-orang yang pernah memberinya nasi ketika ia pulang tanpa uang, yang pura-pura tidak melihat saat ia menangis di belakang kios selepas Saminah Marni Rohadi menyebutnya beban.
“Kita cari cara,” katanya.
“Cara tidak mengalahkan buldoser.”
“Belum tentu.”
Sebelum Tatik Sutrisna menjawab, suara sandal basah menghantam lorong. Saminah Marni Rohadi masuk seperti angin buruk, kain jariknya terangkat, wajahnya keras oleh kurang tidur. Di belakangnya Kabul Rohadi menunduk, menggenggam topi lusuh seolah itu bisa melindunginya dari apa pun. Matanya tidak berani mencari mata Sekar; itu saja sudah membuat dada Sekar mengencang.
“Bereskan tanganmu,” kata Saminah Marni Rohadi. “Ikut.”
Sekar Raina Wiratama tetap memegang canting. “Aku kerja.”
“Kerjamu hari ini membayar nasi tiga puluh empat tahun.”
Tatik Sutrisna maju. “Saminah Marni Rohadi, subuh-subuh jangan teriak di pasar.”
“Ini urusan keluarga.”
“Keluarga macam apa menyeret anaknya waktu orang masih wudu?”
Kabul Rohadi berdeham. “Sekar, sebentar saja. Ada pemeriksaan.”
“Pemeriksaan apa?” Sekar Raina Wiratama meletakkan canting. Ujung canting meninggalkan titik malam di kayu, hitam dan gemetar. “Aku tidak sakit.”
Saminah Marni Rohadi meraih pergelangan tangannya. “Yang sakit bukan kau.”
Dingin merayap di punggung Sekar Raina Wiratama. “Siapa?”
Nama itu keluar seperti koin emas dilempar ke lantai becek.
“Vina Clara Kartasasmita.”
Tatik Sutrisna mematung. Bahkan tungku lilin seakan mengecil apinya.
Sekar Raina Wiratama tertawa sekali, pendek. “Ahli waris Sembada? Putri yang wajahnya ada di baliho donasi itu? Dia butuh apa dariku? Doa?”
“Jaringan,” kata Kabul Rohadi hampir tak terdengar.
Saminah Marni Rohadi menajamkan mata. “Kau cocok. Klinik sudah panggil.”
“Cocok dari mana? Aku tidak pernah dites.”
“Sudah.”
Sekar Raina Wiratama menarik tangannya. “Siapa yang memberi izin?”
“Jangan bicara izin di depanku.” Suara Saminah Marni Rohadi pecah menjadi bisik yang lebih kejam. “Kau makan beras rumahku. Tidur di tikarku. Pakai namaku. Tiga puluh empat tahun, Sekar. Hari ini kau tanda tangan.”
Tatik Sutrisna meraih bahu Sekar Raina Wiratama. “Tidak. Dia bukan karung gabah.”
Saminah Marni Rohadi menoleh. “Kau mau semua orang pasar ikut menanggung keras kepalanya?”
Tatik Sutrisna mengerjap.
“Aku punya catatan,” lanjut Saminah Marni Rohadi. “Cukup kuberikan satu daftar ke Brama Sutedjo, sebelum zuhur lorong ini tidak akan punya pintu yang masih utuh.”
Nama itu membuat lorong pasar menjadi sempit. Sekar Raina Wiratama melihat wajah Tatik Sutrisna mengeras, tetapi matanya—matanya menghitung luka orang lain. Brama Sutedjo bukan sekadar bayangan di belakang surat penggusuran; ia adalah kepala penagih yang bekerja dengan teriakan, cat semprot, dan orang-orang berjaket gelap. Tanda tangannya bisa membuat gerobak hilang, izin dicabut, dan orang baik tiba-tiba punya perkara.
“Jangan,” kata Tatik Sutrisna.
Saminah Marni Rohadi tersenyum tanpa hangat. “Maka suruh dia jadi anak tahu diri.”
Sekar Raina Wiratama menatap kain mori di meja. Darah kering itu seperti mata kecil yang memperingatkan. Di atas serat tua itu, lambang Sembada tampak terlalu tenang untuk sesuatu yang ikut menyeret tubuhnya pagi ini. Ia menyelipkan jarum di lipatan, menutup tungku, lalu berkata, “Aku ikut. Tapi aku baca semua kertas.”
“Baca, asal tanganmu tetap tanda tangan.”
Klinik itu berdiri di jalan sepi, terlalu putih untuk tempat yang buka sebelum matahari. Lantainya mengilap, udaranya dingin, tetapi Sekar Raina Wiratama masih mencium malam panas dari batik di bajunya sendiri—lilin, asap, pewarna soga. Bau itu bercampur dengan antiseptik sampai ia mual.
Di ruang tunggu, kaca besar berwarna gelap memantulkan wajahnya: rambut diikat asal, lengan penuh bercak malam, mata belum tidur. Di balik kaca itu ada gerak halus. Seseorang memperhatikannya.
Seorang perawat meletakkan map di meja. “Tanda tangan di sini.”
Sekar Raina Wiratama tidak mengambil pena. “Namamu?”
Perawat itu tersenyum kaku. “Tidak perlu.”
“Kalau jarum masuk ke tubuhku, nama perlu.”
Saminah Marni Rohadi mencubit lengannya. “Jangan bikin malu.”
Sekar Raina Wiratama membuka map. Huruf-huruf hukum berbaris rapi, tetapi rapi bukan berarti benar. Tanggalnya mundur dua minggu. Kolom saksi kosong. Cap klinik buram, bukan stempel basah. Persetujuan donor jaringan ditulis seolah ia sudah menerima penjelasan risiko. Ada kolom kecocokan HLA dan penanda genetik yang ditutup garis tipis, terlalu rapi untuk kesalahan, terlalu sengaja untuk kebetulan.
Ia mengangkat kertas. “Ini ilegal.”
Kabul Rohadi memucat. “Sekar…”
“Tidak ada saksi. Tanggalnya dipalsukan. Tanda dokter juga hasil pindai.”
Perawat itu menjawab cepat, “Prosedur internal.”
“Tubuhku bukan prosedur internal.”
Pintu samping terbuka. Seorang perempuan masuk dengan gaun krem, syal sutra menutupi leher. Wajahnya terlalu dikenal dari televisi: Vina Clara Kartasasmita. Namun tanpa lampu panggung, kecantikannya tampak tipis, seperti porselen yang retak di bagian dalam. Jemarinya mencengkeram ujung syal, seakan kain mahal itu satu-satunya benda yang menahan kepalanya tetap tegak.
“Biarkan dia bertanya,” kata Vina Clara Kartasasmita.
Saminah Marni Rohadi langsung menunduk setengah. “Non—”
“Jangan panggil begitu.” Vina Clara Kartasasmita menatap Sekar Raina Wiratama. “Kau ingin tahu untuk apa?”
“Aku ingin tahu kenapa pewaris Sembada mencuri tanda tangan orang pasar.”
Wajah Vina Clara Kartasasmita berubah, sedikit saja. Di matanya lewat sesuatu yang bukan marah, lebih dekat pada rasa sakit yang malu terlihat. “Aku tidak mencuri.”
“Kalau begitu suruh mereka buat formulir benar.”
“Tidak ada waktu.”
“Selalu begitu. Orang kaya tidak punya waktu, orang miskin yang kehilangan darah.”
Kabul Rohadi berbisik, “Cukup, Sekar.”
Sekar Raina Wiratama menoleh padanya. “Bapak tahu ini salah?”
Kabul Rohadi menggenggam topinya makin erat. Benang pada tepi topi itu sudah hampir putus, sama seperti suaranya. “Kadang salah itu… menghindari salah yang lebih besar.”
“Kalimat pengecut selalu panjang.”
Tamparan Saminah Marni Rohadi mendarat tidak keras, tapi cukup membuat ruang itu diam.
Vina Clara Kartasasmita menahan napas. “Jangan pukul dia.”
“Dia anak saya,” kata Saminah Marni Rohadi.
“Kalau anak, kenapa dijual?”
Kata itu menggantung.
Saminah Marni Rohadi memerah. “Kami hanya meminta balas budi.”
Sekar Raina Wiratama menyentuh pipinya. Panas tamparan itu membuat kepalanya jernih. “Aku mau salinan.”
Perawat tertawa pendek. “Tidak bisa.”
“Kalau tidak, aku teriak. Aku sebut nama Vina Clara Kartasasmita dari pintu sampai jalan. Biar wartawan tanya kenapa putri Sembada bersembunyi di klinik sebelum subuh.”
Vina Clara Kartasasmita memejamkan mata. Ketika membukanya, ketakutan di sana tidak lagi bisa disembunyikan.
“Beri dia salinan,” katanya.
“Tidak ada karbon,” jawab perawat.
Sekar Raina Wiratama mengetuk map. “Ada. Lembar bawahnya biru.”
Perawat itu melirik ke kaca gelap. Sekar Raina Wiratama mengikuti pandangannya, tetapi hanya melihat bayangannya sendiri: pipi merah, dagu terangkat, dan mata yang mulai mengerti bahwa ruangan ini punya lebih banyak mulut tertutup daripada pintu.
Vina Clara Kartasasmita berkata lebih keras, “Beri.”
Pena disodorkan. Sekar Raina Wiratama membaca lagi tiap baris, lalu menulis tanda tangan dengan tangan yang sengaja diperlambat. Bukan karena patuh. Karena ia menghafal: nomor dokumen, tanggal palsu, jenis donor, kode sampel, dan istilah-istilah asing yang mendadak terasa seperti kunci: HLA, penanda keluarga, kecocokan primer.
Saat jarum masuk ke lipat sikunya, ia menggigit bagian dalam pipi. Darahnya mengalir ke tabung kecil, merah gelap, hangat, miliknya. Untuk sesaat ia merasa bukan manusia, melainkan catatan di meja orang lain: tubuh yang dipakai, nama yang dipinjam, darah yang sudah dijadwalkan sebelum ia diminta setuju.
Vina Clara Kartasasmita berdiri di balik kaca gelap sekarang. Hanya siluetnya terlihat, tetapi Sekar Raina Wiratama tahu perempuan itu menonton.
“Puas?” tanya Sekar Raina Wiratama pada kaca.
Dari pengeras kecil, suara Vina Clara Kartasasmita terdengar lirih. “Tidak.”
“Takut mati?”
Jeda. Mesin pendingin berdengung, panjang dan dingin.
“Takut hidup sebagai orang yang semua orang doakan, tapi tidak ada yang bertanya apakah aku ingin hidup begitu.”
Sekar Raina Wiratama hampir menjawab, tetapi perawat mencabut jarum. Kapas ditekan terlalu keras ke kulitnya. Perihnya menahan kata-kata yang sempat naik ke lidah.
“Jangan banyak bergerak,” kata perawat.
Sekar Raina Wiratama menunduk, berpura-pura pusing. Saat map ditutup, jarinya menyambar lembar karbon biru dari bawah meja dan menyelipkannya ke balik blouse, tepat di bawah kancing yang longgar karena sering dicuci. Kertas itu dingin di kulitnya, seperti rahasia yang belum tahu akan membunuh siapa.
Saminah Marni Rohadi melihatnya berdiri. “Sudah. Pulang.”
Vina Clara Kartasasmita keluar dari balik kaca sebelum mereka pergi. Dari dekat, aroma parfumnya mahal tetapi samar-samar tertutup bau obat.
“Kau membenciku?” tanyanya.
Sekar Raina Wiratama menatap perban di lengannya. “Aku belum punya cukup informasi.”
“Kalau aku minta maaf?”
“Maaf bukan pengganti stempel saksi.”
Untuk pertama kali, mulut Vina Clara Kartasasmita bergerak seperti ingin tersenyum, namun gagal. “Kau lucu.”
“Aku mahal. Kalian saja yang biasa menawar murah.”
Saminah Marni Rohadi menarik Sekar Raina Wiratama keluar.
Hari berjalan seperti kain basah diseret di lantai: berat, dingin, meninggalkan bekas. Dari klinik, Saminah Marni Rohadi membawanya pulang dengan becak motor, tidak banyak bicara selain menyuruhnya menunduk kalau melewati pos satpam. Kabul Rohadi duduk di depan, punggungnya melengkung seperti orang yang memikul karung kosong tetapi tetap keberatan. Sekar Raina Wiratama menjaga tangan kirinya rapat ke dada, bukan karena luka jarum, melainkan karena karbon biru di balik blouse terasa berdenyut setiap kali kendaraan melewati lubang.
Menjelang sore, ia sempat tertidur di bangku kios dengan suara pasar yang pecah-pecah di telinga: tawar-menawar, batuk, ember diseret, bisik-bisik tentang penggusuran. Tidak ada yang benar-benar bertanya ke mana ia dibawa; orang pasar tahu beberapa pertanyaan bisa membuat pemilik jawabannya semakin celaka.
Malam turun cepat, seperti pasar tidak pernah benar-benar melewati hari. Ketika Sekar Raina Wiratama kembali terjaga, hujan tipis mulai jatuh. Surat penggusuran basah dan robek di sudut-sudutnya, tetapi huruf ancamannya tetap jelas.
Tatik Sutrisna menunggu di dekat kios, membawa teh panas. Di belakangnya, beberapa pedagang masih pura-pura sibuk merapikan barang yang sebenarnya sudah rapi, sekadar memastikan Sekar Raina Wiratama pulang dengan dua kaki sendiri.
“Lenganmu,” katanya.
“Cuma darah.”
“Darah tidak pernah cuma.”
Sekar Raina Wiratama duduk di bangku kecil. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya menyala. Ia mengeluarkan lembar karbon dari balik blouse. Tatik Sutrisna menutup mulut.
“Kau mencuri?”
“Aku menyelamatkan bukti.”
“Beda tipis.”
“Beda niat.”
Mereka membentangkan kertas itu di bawah lampu kios yang berkelip. Tulisan biru tampak kabur, tapi cukup terbaca. Di luar, hujan menitik di ember seng, satu-satu, seperti jam yang dipukul pelan untuk orang yang sedang menunggu kabar buruk.
Tatik Sutrisna menunjuk tanggal. “Ini dua minggu lalu.”
“Aku tahu.”
“Berarti mereka sudah menulis tubuhmu sebelum tubuhmu datang.”
Sekar Raina Wiratama memandang kain mori tua yang belum selesai. Noda darah kecil itu masih ada. Di luar, angin mengibaskan pengumuman penggusuran seperti bendera kalah. Lambang kecil Sembada pada kain itu tiba-tiba tampak bukan hiasan, melainkan mata lain yang sejak tadi ikut membaca.
Ia menyentuh tepi mori dengan ujung jari. “Kain ini juga dari mereka.”
“Dari rumah tua itu?”
Sekar Raina Wiratama mengangguk. “Lambangnya sama dengan surat yang mau mengusir kita. Sama dengan nama perempuan yang butuh darahku.”
Tatik Sutrisna menatap noda kering di kain. “Kalau barang tua bisa bicara, mungkin kita semua sudah lama lari.”
“Tidak semua orang punya tempat untuk lari.”
Tatik Sutrisna menyodorkan teh. “Maka kita belajar berdiri.”
Untuk beberapa tarikan napas, tidak ada yang bicara. Sekar Raina Wiratama menangkup gelas panas itu dengan kedua tangan. Di pasar yang separuh gelap, ia mendengar orang-orang bernapas, batuk, bergeser di atas karung, mempertahankan tidur pendek mereka dari rasa takut. Ia mendadak ingin marah, tetapi di bawah marah itu ada sesuatu yang lebih sunyi: kesadaran bahwa hidupnya mungkin bukan cerita miskin yang salah nasib, melainkan sesuatu yang sejak awal sengaja ditukar. Jika itu benar, yang hilang bukan hanya uang, bukan hanya nama, bukan hanya kesempatan masuk rumah besar. Yang hilang adalah hak untuk memahami tiga puluh empat tahun dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar.
Nomor Jakarta. Tidak tersimpan. Pesan masuk tidak memakai aplikasi biasa; layar gelap sesaat, lalu muncul kalimat putih, rapi, dingin. Tidak ada nama pengirim, tidak ada tombol balas, hanya jejak saluran sekali pakai yang lenyap bahkan sebelum Sekar Raina Wiratama selesai membaca.
Bukan golongan darahmu. HLA dan penanda langka sampelmu cocok terlalu dekat dengan Harun Wiratama. Dengan Vina Clara Kartasasmita justru tidak. Itu bukan donor biasa. Itu bisa membuka pewaris. Lari sebelum sampelmu dihapus.
Sekar Raina Wiratama membaca sekali. Dua kali. Teh di tangan Tatik Sutrisna berhenti beruap.
“Siapa itu?” bisik Tatik Sutrisna.
Sekar Raina Wiratama merasakan perban di lengannya berdenyut, seolah darahnya sendiri baru menyebut nama yang selama ini dikubur.
“Aku tidak tahu.”
“Sekar…”
Di ujung lorong pasar, mesin mobil menyala tanpa lampu. Gelapnya terlalu tenang. Beberapa perempuan yang tidur di atas karung bergerak gelisah, seperti tubuh mereka lebih dulu mendengar bahaya daripada telinga.
Sekar Raina Wiratama melipat karbon biru, memasukkannya ke dalam belahan kain mori Sembada, tepat di bawah noda darah yang tak mau hilang.
Lalu ia mematikan lampu kios.
“Bangunkan yang lain,” katanya. “Kalau mereka mencari darahku, mereka harus melewati pasar dulu.”