Pesawat paling pagi dari Penang mendarat saat langit Solo masih berwarna abu-abu basah. Ratri Wening turun tanpa koper besar, hanya tas kulit tua yang jahitannya sudah dua kali ia perbaiki sendiri. Di pintu kedatangan, udara lembap menyambut seperti kain mori yang belum kering—menempel di leher, di pergelangan, di bagian dada yang sejak tadi sesak.
Ia sempat berhenti di bawah papan kedatangan, bukan karena ragu, melainkan karena tubuhnya mengenali kota ini lebih cepat daripada keberaniannya. Bau hujan, asap kendaraan pertama, dan kopi bandara yang terlalu manis menyusup bersamaan. Solo tidak bertanya mengapa ia pulang. Solo hanya menunggu, seperti saksi tua yang menyimpan terlalu banyak nama.
Sopir taksi menatapnya lewat spion. “Ke Laweyan, Bu?”
“Ya. Jalan Sidoluhur. Rumah besar yang baru dipugar.”
“Yang hari ini ada lelang itu?”
Ratri menahan napas. Jari-jarinya mengencang di tali tas kulit. “Bapak tahu?”
“Solo kecil, Bu. Kalau rumah lama mendadak jadi galeri, semua orang tahu.” Sopir tertawa pendek, hati-hati, seolah takut tawanya menyinggung penumpang yang terlalu pucat untuk pagi. “Katanya batik peninggalan keluarga bangsawan. Mahal-mahal.”
“Bukan peninggalan,” gumam Ratri.
“Apa, Bu?”
“Bukan apa-apa. Jalan saja.”
Mobil bergerak melewati jalanan subuh yang licin oleh hujan semalam. Wiper menyapu kaca dengan irama berat. Warung soto baru menyalakan kompor, aroma kaldu dan bawang goreng menyelinap masuk dari jendela retak, bercampur bau tanah basah dan knalpot angkot. Ratri memandang deretan tembok tua Laweyan, lorong sempit, pintu kayu tinggi yang dulu ia hafal seperti punggung tangannya sendiri.
Di salah satu tikungan, ia teringat cara ibunya menggulung kain di pangkuan, telapak tangan berbau malam dan kapur barus, suara pelan yang selalu berkata, “Motif itu bahasa, Nduk. Yang tak boleh diucapkan, bisa disembunyikan.”
Ratri menutup mata sebentar.
Ia pernah pergi dari sini sebagai buronan.
Pagi ini ia kembali sebelum polisi sempat mengenali wajahnya. Di imigrasi, ia masuk dengan nama lama yang masih terselip di dokumen sementara Penang; kalau aparat akhirnya menemukan jejaknya, itu bukan dari bandara, melainkan dari laporan Murni Laksana atau sistem registrasi lelang yang terlalu rajin membaca wajah.
Di depan rumah besar Laweyan itu, spanduk krem terbentang angkuh: *Lelang Aset Heritage Dekoratif—Koleksi Batik Keluarga Wening*. Hurufnya dibuat halus, berkelas, seperti kebohongan yang dibatik dengan malam terbaik.
Sebelum taksi berhenti penuh, mata Ratri menangkap satu sedan hitam di bawah pohon sawo tua. Di balik kaca depannya terselip kartu akses tamu, dicetak rapi dengan huruf kecil yang tetap menusuk dari kejauhan:
**KUASA PENAWAR JAKARTA — MAHENDRA PORTDATA**
Di bawahnya, hanya inisial kontak: **A.M.**
Darah Ratri terasa turun ke telapak kaki.
Sopir taksi mengikuti arah pandangnya. “Itu mobil orang Jakarta, Bu. Dari tadi satpam bolak-balik hormat ke sana.”
Ratri membayar tunai.
Sopir berkata, “Bu, kalau mau ikut lelang harus daftar.”
“Saya bukan pembeli.”
“Wartawan?”
Ratri tersenyum tipis. “Lebih buruk.”
Sopir menoleh sedikit, ingin bertanya lagi, tetapi wajah Ratri membuatnya menelan pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk, lalu menunggu sampai perempuan itu melewati gerbang.
Ratri melangkah masuk lewat gerbang samping. Batu halaman masih basah. Bau malam cair, batu hujan, dan kayu jati tua menyergapnya. Di meja registrasi dekat pendapa, map cokelat terbuka separuh. Seorang petugas buru-buru menutupnya ketika Ratri lewat, tetapi terlambat: di daftar penawar jarak jauh, satu baris telah diberi penanda merah.
**Perwakilan: Mahendra PortData.**
Nama itu tidak perlu ditulis lengkap untuk membuat bekas luka lama membuka mata.
Di paviliun belakang, puluhan kursi sudah penuh: kolektor, kurator, pengacara, orang bank, wajah-wajah Jakarta yang terlalu rapi untuk pagi di Solo. Sepatu kulit mereka bersih, suara mereka rendah, parfum mereka mahal; semuanya tampak seperti orang-orang yang datang bukan untuk melihat sejarah, melainkan menaksir harga luka orang lain.
Di sudut, seorang pria memegang ponsel dengan gimbal kecil, berbisik ke kamera. Kemejanya digulung sampai siku, rambutnya belum sempat benar-benar rapi, matanya cekatan dan lelah.
“Teman-teman, saya Anton Priyono, langsung dari Laweyan. Hari ini ada lelang yang katanya cuma dekoratif, tapi sumber saya bilang ada cerita gelap di balik motif-motif ini. Jangan ke mana-mana.”
Ratri berhenti.
Anton Priyono menoleh, matanya cepat menilai. Bukan mata kolektor. Bukan mata polisi. Mata orang yang terbiasa mencari pintu belakang dari setiap kalimat. “Mau kasih komentar, Bu?”
“Matikan itu.”
“Kalau Ibu panitia, saya punya hak meliput.”
“Saya bukan panitia.”
“Lebih menarik.” Ia mendekat setengah langkah, kamera masih menyala. “Nama?”
Ratri menatap kamera. Lingkaran hitam kecil di lensa itu terasa seperti lubang senjata. Jantungnya memukul tulang rusuk. “Kalau kau butuh berita, cari kebenaran, bukan wajah.”
Anton Priyono menurunkan ponsel sedikit. Ada jeda pendek di antara mereka, cukup untuk membuat suaranya kehilangan gaya siaran. “Saya butuh dua-duanya. Adik saya butuh obat minggu ini.”
Kejujuran itu terlalu telanjang. Ratri mengalihkan mata ke meja pajang.
Di sana, di bawah lampu hangat, terbentang kain-kain ibunya. Motif parang pecah, kawung retak, truntum kecil yang terlihat manis bagi orang asing. Tapi Ratri melihat yang lain: tiga titik indigo di pinggir yang terlalu teratur untuk hiasan, dan satu sulur patah yang dulu tidak pernah dibiarkan ibunya muncul tanpa alasan. Dua tanda kecil itu cukup membuat tenggorokannya mengering.
Dalam kepalanya, suara ibunya menyambung seperti benang yang ditarik dari lipatan lama: *tiga cecek tandanya hitung, sulur putus tandanya jangan ikut arus.*
Bukan sekadar koleksi. Bukan sekadar batik tua.
Ibunya masih berbicara dari dalam kain.
Tangannya hampir terangkat untuk menyentuh kain pertama, lalu berhenti di udara. Ibunya pernah melarang siapa pun menyentuh batik yang belum selesai ditulis. Sekarang kain-kain itu sudah diberi label, nomor lot, dan harga pembuka.
“Tidak,” bisiknya.
Suara perempuan dari belakang menyayat lembut. “Kau selalu bilang begitu sebelum merusak sesuatu.”
Ratri berbalik.
Murni Laksana berdiri dalam kebaya hitam modern, rambut disanggul tanpa sehelai pun membangkang. Senyumnya hangat untuk penonton, dingin untuk darah sendiri. Di dadanya, bros emas berbentuk bunga tampak terlalu cerah, seperti mata kecil yang ikut mengawasi.
“Ratri Wening,” kata Murni Laksana cukup keras hingga kepala-kepala menoleh. “Akhirnya pulang juga.”
Anton Priyono langsung mengangkat kamera. “Ibu Ratri Wening? Yang terkait kasus ekspor batik fiktif?”
Ratri tidak memandangnya. “Kau menjual buku ibuku sebagai dekorasi.”
“Ledger berkode yang kau khayalkan itu tidak punya nilai hukum.” Murni Laksana merapikan brosnya. Gerakannya tenang, hampir malas. “Yang ada hanya kain tua, biaya restorasi, dan utang keluarga. Ada yang harus membayar agar nama Wening tidak tinggal jadi nota kosong.”
“Utang siapa?”
“Utang nama Wening yang kau hancurkan.”
Ratri melangkah ke meja. Seorang petugas lelang menghalangi. Tubuhnya lebih muda dari suaranya yang dipaksa tegas.
“Maaf, Bu, area koleksi—”
“Jangan sentuh saya.” Suara Ratri pelan, tapi petugas itu mundur.
Murni Laksana tertawa kecil. “Lihat? Masih sama. Dramatis. Kasar. Selalu merasa paling berhak.”
“Karena aku memang berhak. Ibuku menyembunyikan sesuatu di motif ini sebelum dia meninggal.”
“Almarhumah sakit. Kau buron. Dan sekarang kau masuk tanpa undangan.”
Anton Priyono menyela, “Ibu Murni Laksana, benar koleksi ini dijadikan kolateral?”
Senyum Murni Laksana mengeras setipis porselen retak. “Ini lelang resmi.”
“Untuk pembeli anonim Jakarta?”
Beberapa orang bergumam. Ratri menangkap kilatan marah di mata Murni Laksana, cepat sekali, tetapi cukup. Bibir perempuan itu tetap tersenyum; matanya tidak.
“Mas Anton Priyono,” kata Murni Laksana manis, “kalau siaran Anda menyebarkan fitnah, pengacara saya akan menyapa sebelum makan siang.”
Anton Priyono menelan ludah, tapi kameranya tetap menyala. “Publik suka sapaan.”
Petugas lelang mengetuk mikrofon. Bunyi tok-tok itu memantul di langit-langit kayu, rapuh dan memaksa. “Bapak-Ibu, acara akan dimulai. Lot pertama, satu set batik tulis Laweyan, era akhir abad dua puluh, fungsi dekoratif—”
“Bukan dekoratif.” Ratri maju. “Itu catatan.”
Keributan kecil pecah.
Petugas lelang pucat. “Ibu, silakan duduk atau keluar.”
Ratri menunjuk kain pertama. “Tiga cecek di sisi kiri itu bukan isen. Ibu saya tidak pernah menaruh tanda seperti itu tanpa maksud. Dan sulur patah di tengah—” Ia berhenti, menelan sisa kalimat yang hampir membocorkan terlalu banyak. “Kalau kain ini benar hanya dekorasi, kenapa pembelinya harus disembunyikan?”
Murni Laksana bertepuk tangan sekali, pelan. Suaranya ringan, tetapi setiap orang mendengar ejekannya. “Indah. Sangat teatrikal. Mungkin Penang membuatmu rindu panggung.”
“Aku rindu kuburan ibu yang kau jual sepotong demi sepotong.”
Wajah Murni Laksana berubah. Hanya sebentar, tetapi cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang lebih tua dari marah: takut. “Jaga mulutmu.”
“Jaga arsip itu.”
“Arsip itu menyelamatkan rumah ini.”
“Tidak. Arsip itu menyelamatkan pembunuh reputasiku.”
Anton Priyono mendekat. “Siapa pembeli Jakarta, Ibu Murni Laksana?”
“Anonimitas dilindungi kontrak.”
“Kontrak dengan siapa?”
“Dengan pihak yang mampu membayar, bukan perempuan yang kabur ketika polisi mengetuk pintu.”
Kata *polisi* jatuh tepat saat dua pria berkemeja batik abu-abu masuk dari sisi paviliun. Mereka tidak memakai seragam. Tapi cara mata mereka menyapu ruangan, cara tangan kanan salah satunya dekat pinggang, membuat kulit tengkuk Ratri dingin.
Ratri mengenali pola itu: pintu belakang, langkah pendek, pandangan yang lebih dulu mencari jalan keluar. Dulu, di malam ia meninggalkan Solo, orang-orang seperti itu juga datang tanpa seragam.
Salah satu pria menerima pesan di ponsel. Lalu menatap Ratri. Di layar kecil itu, Ratri sempat melihat potongan foto registrasi dan nama acara, bukan stempel imigrasi.
Murni Laksana melihat arah tatapan itu dan tersenyum.
“Kau yang mengirim alert?” tanya Ratri.
“Aku hanya warga patuh hukum.”
“Pembohong.”
“Buron.”
Anton Priyono berbisik, masih live, “Teman-teman, ada aparat berpakaian sipil masuk. Situasi memanas.”
Ratri menoleh tajam. “Matikan siaranmu kalau kau tak mau ikut terseret.”
“Kalau saya matikan, mereka bisa menyeret Ibu tanpa saksi.”
Kalimat itu membuat Ratri terdiam sepersekian detik.
Di wajah Anton Priyono, keberanian dan ketakutan tidak saling menghapus; keduanya berdiri berdampingan, sama jelasnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, Ratri merasa tidak sepenuhnya sendirian—dan perasaan itu justru lebih berbahaya daripada dikepung.
Petugas lelang, berkeringat, mengangkat palu. “Kita lanjutkan. Harga pembuka dua miliar rupiah.”
Seorang pria berjas mengangkat paddle. “Dua koma lima.”
Dari baris depan, asisten Murni Laksana mengangguk ke telepon. Petugas lelang berkata, “Ada penawaran jarak jauh. Tiga miliar.”
Ratri meraih tepi meja. Kayu jati di bawah telapak tangannya dingin dan licin. “Hentikan.”
Petugas keamanan bergerak.
Murni Laksana mendesis, “Keluar sekarang, Ratri Wening. Kau sudah kalah sebelum turun dari pesawat.”
“Siapa di Jakarta itu?”
“Orang yang mengerti nilai warisan.”
“Nama.”
“Tidak semua laki-laki yang menghancurkanmu harus kuperkenalkan ulang.”
Ratri menatapnya. Seluruh suara di paviliun seperti mundur beberapa langkah. “Aditya Mahendra?”
Untuk pertama kali, Murni Laksana tidak menjawab terlalu cepat.
Anton Priyono menangkapnya. “Aditya Mahendra? Pemilik Mahendra PortData?”
Palu lelang terangkat lebih tinggi.
Pria berpakaian sipil pertama mendekati Ratri. “Ibu Ratri Wening, kami perlu bicara.”
“Di sini saja.”
“Jangan mempersulit.”
Murni Laksana mengangkat dagu. “Biarkan petugas bekerja.”
Ratri tertawa tanpa suara. “Kau takut kain bicara.”
“Tidak. Aku takut kau merusak kesempatan terakhir keluarga ini.”
“Keluarga?” Ratri mendekat satu langkah. “Keluarga tidak menjual tulisan orang mati kepada orang yang mungkin membunuh kebenarannya.”
Petugas lelang berseru, “Penawaran jarak jauh empat miliar lima ratus juta. Sekali—”
Lampu paviliun berkedip.
Layar presentasi di belakang meja tiba-tiba mati. Ponsel para tamu yang terhubung ke Wi-Fi acara dan tautan siaran Anton Priyono bergetar hampir bersamaan. Kamera Anton Priyono menampilkan garis-garis hijau, lalu gambar pecah menjadi piksel.
“Apa ini?” Murni Laksana berbalik. Suaranya kehilangan kehalusan yang sejak tadi ia poles. “Matikan Wi-Fi!”
Petugas teknis panik di pojok. “Bukan dari sistem kami, Bu! Yang kena lapisan tayang dan relay live!”
Palu masih menggantung di udara.
Semua layar acara menyala lagi. Beberapa ponsel tamu yang tetap berada di jaringan lelang ikut memantulkan gambar yang sama, terlambat sepersekian detik.
Dua avatar balita muncul: satu perempuan berpipi bulat dengan pita merah, satu laki-laki gembil berkaus kuning. Keduanya melompat-lompat di atas latar motif kawung, mata besar mereka terlalu lucu untuk teror yang mereka bawa. Garis animasinya sederhana, seperti stiker anak-anak, tetapi sinkron dengan tampilan resmi dan siaran yang sedang berjalan.
Avatar perempuan melambaikan tangan. Suaranya nyaring seperti lagu TK. “Halo, Tante-Tante pencuci kain!”
Avatar laki-laki terkikik. “Halo, Om-Om pembeli dosa!”
Ruangan membeku.
Anton Priyono hampir menjatuhkan ponsel. “Ini... masuk live.”
Murni Laksana pucat. “Siapa kalian?”
Avatar perempuan membungkuk. “Nonik.”
Avatar laki-laki mengangkat kedua tangan. “Gembul!”
Lalu mereka bernyanyi, fals dan riang:
“Cublak-cublak batik suweng, yang mencuri duduk neng ngarep. Ada bayi, ada kain, ada bapak pura-pura kalem.”
Bisik-bisik berubah menjadi kegaduhan.
Ratri merasakan darah meninggalkan wajahnya. *Ada bayi.*
Dua kata itu belum lengkap, tetapi menancap lebih dalam daripada nama Aditya, lebih dingin daripada genggaman aparat di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana suara kecil itu mendapatkan frasa tersebut, tetapi tubuhnya bereaksi seolah pernah mendengarnya dalam mimpi buruk yang sengaja ia kubur.
Nonik menunjuk layar kecil di tangannya. “Lot pertama bukan dekorasi.”
Gembul menambahkan, “Lot pertama punya indeks yang disembunyikan oleh almarhumah ibu Ratri Wening. Ih, kok panitia bohong?”
Murni Laksana berteriak, “Ini kriminal! Putuskan listrik!”
Lampu mati sekejap, tetapi layar presentasi kembali menyala lewat baterai cadangan, dan siaran Anton Priyono tetap hidup dari ponselnya sendiri. Ponsel tamu yang masih tersambung ke tautan live menyala lebih terang, seperti kunang-kunang jahat. Dalam gelap singkat itu, Ratri mendengar kursi bergeser, napas tertahan, seseorang mengumpat dalam bahasa Inggris.
Pria berpakaian sipil meraih lengan Ratri. “Ibu ikut kami.”
Ratri menyentak. “Lihat layar itu.”
“Kami punya perintah.”
Anton Priyono maju, kamera diarahkan ke tangan pria itu. “Perintah menangkap saksi atau menutup lelang?”
“Jangan halangi tugas.”
“Jangan halangi siaran.”
Nonik bertepuk tangan. “Wah, ada polisi juga. Mau tangkap siapa? Yang teriak, yang jual, atau yang beli?”
Gembul menari. “Petunjuk! Petunjuk! Pembeli anonim bukan anonim kalau servernya cerewet.”
Layar berubah. Deretan transaksi muncul: perusahaan lisensi mewah, escrow, nomor kontrak, alamat Jakarta. Angka-angka bergulir terlalu cepat bagi sebagian tamu, tetapi cukup lambat bagi orang bank di barisan kedua untuk memucat. Lalu sebuah foto memenuhi layar.
Wajah seorang pria dewasa, dingin, terukur, dengan mata yang pernah Ratri kenal dalam gelap ruang rapat dan terang pengkhianatan.
Di bawahnya tertulis:
**PENAWAR UTAMA: ADITYA MAHENDRA**
Tidak ada suara selama tiga detik.
Lalu ruangan meledak.
“Aditya Mahendra?”
“Mahendra PortData?”
“Kenapa dia beli batik Laweyan?”
“Bukannya dia yang dulu melaporkan kasus ekspor itu?”
Murni Laksana memekik, “Palsu! Itu fitnah digital!”
Ratri menatap wajah di layar. Tahun-tahun Penang, nama buruk, surat panggilan, malam-malam tanpa tidur—semuanya merapat menjadi satu titik tajam. Ia melihat lagi tanda tangannya sendiri di dokumen yang dulu ia percayai, suara Aditya Mahendra yang tenang saat berkata semua akan beres, pintu yang tertutup dari luar ketika polisi datang ke kantor.
Anton Priyono menoleh padanya. Suaranya tak lagi berlagak reporter. “Ibu Ratri Wening... Ibu tahu?”
Ratri membuka mulut, tetapi yang keluar hanya napas.
Di layar, Gembul tersenyum lebar. “Palu jangan diketuk dulu, ya.”
Nonik mengedip. “Kalau diketuk, kami nyanyi bait kedua.”
Palu petugas lelang jatuh ke lantai, bukan ke meja.
Pria berpakaian sipil masih menggenggam lengan Ratri, tapi cengkeramannya ragu. Semua kamera kini mengarah bukan pada buronan lama itu, melainkan pada wajah Aditya Mahendra yang menyala di layar utama dan siaran Anton Priyono.
Murni Laksana berbisik, cukup dekat untuk didengar Ratri, “Kau membawa setan pulang.”
Ratri akhirnya menoleh kepadanya. Kali ini, rasa takut belum pergi, tetapi ia sudah menemukan bentuk yang bisa ia pegang. “Tidak, Murni Laksana.”
Hujan mulai turun lagi di atas genting paviliun, deras dan rapat seperti tepuk tangan ribuan jari.
“Aku hanya pulang sebelum setan selesai membeli makam ibuku.”