Garis polisi sudah melingkari halaman klinik ketika Sekar Wibawa tiba menjelang pagi. Langit masih berwarna abu-abu cucian, dan bau arang basah menempel di pangkal lidahnya sejak ia turun dari ojek. Orang-orang pasar berdiri di seberang jalan dengan sandal seadanya, sarung yang belum sempat dirapikan, dan mata merah. Petugas berseragam menulis di papan formulir, sementara seorang lelaki berjaket pemadam menunjuk kotak listrik di dinding samping.
Di tepi kerumunan, Sekar Wibawa sempat melihat bekas ban motor kecil yang berhenti miring dekat warung tutup. Ingatannya menyala: semalam, sebelum hujan pecah sepenuhnya, sebuah motor kurir berbox putih pernah melintas pelan di mulut gang pasar. Pada box itu ada stiker cold-chain yang hampir terkelupas dan nama yang terbaca hanya sekejap di bawah lampu toko: Taufan Nugroho. Ia mengira itu hanya kurir obat yang tersesat. Kini, setelah ponsel lelaki itu berada di tangannya, ingatan kecil itu berubah menjadi jejak yang sengaja diarahkan ke tempat ia biasa lari.
“Hubungan pendek,” kata seorang polisi kepada kerumunan. Suaranya dibuat bulat, seperti palu yang ingin menutup perkara. “Tidak ada tanda kekerasan. Semua bubar.”
Seorang pedagang sayur mendengus. “Kalau semua terbakar, gampang sekali bilang pendek.”
Polisi itu menoleh tajam. “Ibu mau diperiksa juga?”
Pedagang itu mengatupkan mulut, tetapi matanya tetap menantang.
Sekar Wibawa tidak ikut bicara. Semalam namanya sudah terlalu banyak ditarik orang ke arah yang tidak ia mengerti: formulir donor, darah, Taufan Nugroho, dan klinik yang kini tinggal bau hangus. Ia menyusup di antara dua motor parkir, cukup dekat untuk melihat kotak sekring yang menghitam. Di pinggir tutup logamnya ada lapisan tipis seperti lilin kering, menggumpal di lekuk mur. Bukan minyak mesin. Bukan plastik leleh. Ia mengenal teksturnya dari malam-malam panjang membantu pesanan kain: malam batik yang dicampur bahan perintang, dipakai supaya api kecil berjalan lambat, rapi, tertunda.
“Jangan mendekat,” bentak polisi.
Sekar Wibawa mundur setengah langkah, tapi matanya tidak lepas dari engsel bawah yang tampak lebih hitam daripada bagian lain. “Itu bukan korslet biasa.”
“Saudari ahli listrik?”
“Bukan.”
“Kalau begitu dengarkan yang ahli.”
“Ahli mana yang mencium malam batik di kotak sekring?”
Beberapa kepala menoleh. Bisik-bisik yang tadi bergerak seperti lalat mendadak berhenti di udara. Polisi itu mempersempit mata.
“Nama?”
Sekar Wibawa menutup mulutnya. Nama, sejak semalam, sudah tidak terasa seperti miliknya sendiri.
Dari belakangnya, suara laki-laki masuk dengan tenang. “Nama tidak perlu, Pak. Saya yang akan catat.”
Sekar Wibawa berbalik. Kemal Darsono berdiri dengan kemeja abu-abu, tas kerja tipis, sepatu yang terlalu bersih untuk halaman klinik terbakar, dan tanda pengenal perusahaan asuransi yang terlalu baru untuk tidak mencurigakan. Ia tersenyum kepada polisi, lalu kepada warga, seolah semua orang di sana hanyalah bagian dari meja rapat yang belum tertib.
“Saya auditor klaim,” katanya. “Kebakaran fasilitas kesehatan. Nilainya cukup besar.”
Polisi menatap tanda pengenal itu. “Dari Jakarta?”
“Dokumen menyusul.”
“Semua orang dari Jakarta selalu bilang begitu.”
Kemal Darsono tidak tersinggung. Ia malah berpaling ke Sekar Wibawa. “Saudari. KTP.”
Sekar Wibawa merasa kerumunan mendekat tanpa benar-benar bergerak. Di pasar, rasa ingin tahu tidak perlu kaki; cukup telinga. “Untuk apa?”
“Untuk laporan saksi.”
“Saya bukan saksi.”
“Tadi Saudari menyampaikan analisis bahan kimia di lokasi tersegel. Itu membuat Saudari relevan.”
Seorang pedagang tertawa pendek. “Sekar Wibawa, kasih saja. Biar selesai.”
Nama itu meluncur terlalu mudah dari mulut orang lain. Sekar Wibawa menatap pedagang itu, lalu kembali ke Kemal Darsono.
Kemal Darsono mengeluarkan pulpen. “KTP, akta lahir, dan salinan formulir donor.”
Suara-suara kecil meletup di sekitar mereka.
“Formulir donor?”
“Akta lahir?”
“Sekar Wibawa punya urusan apa sama klinik?”
Wajah Sekar Wibawa panas. “Kau sengaja.”
Kemal Darsono berkata datar, cukup keras untuk semua telinga, “Saya tidak bisa memeriksa klaim jika orang yang mengaku terkait lokasi tidak punya identitas lengkap.”
“Aku tidak mengaku terkait.”
“Kau terkait dengan sampel.”
Kerumunan mendadak diam. Di seberang garis polisi, petugas berhenti menulis. Ujung pena menggantung di udara.
Sekar Wibawa mendekat satu langkah. “Kalau kau mau mempermalukan aku, pilih waktu yang lebih mahal.”
“Kalau aku mau menyelamatkanmu, aku perlu membuat mereka percaya aku sedang menekanmu.” Senyumnya tetap ada, suaranya berubah hanya untuk jarak Sekar Wibawa. “Ikuti marahmu. Jangan ikut aku.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang namanya tersambung dengan darahmu mulai hilang dari daftar hidup.”
Sekar Wibawa menggigit kata-katanya sampai terasa pahit. Dalam kepalanya, wajah Taufan Nugroho muncul: lelaki yang semalam masih menjadi pertanyaan, kini terdengar seperti calon berita pendek di halaman kriminal. Lalu ia menampar tas kerja Kemal Darsono hingga pulpen jatuh ke aspal dan berguling ke dekat sepatu polisi.
“Cari akta lahirku di tempat sampah Sembada!” katanya keras.
Beberapa pedagang berseru. Polisi melangkah, tetapi Kemal Darsono mengangkat tangan.
“Tidak apa-apa. Saya catat penolakan.”
“Catat juga kalau kau tukang ancam,” balas Sekar Wibawa.
“Sudah termasuk dalam nada bicaramu.”
Sekar Wibawa memutar badan dan berjalan cepat ke arah pasar. Di belakangnya, Kemal Darsono berkata kepada polisi, “Tolong foto kotak sekring dari empat sisi. Termasuk residu di engsel bawah.”
Polisi menjawab kesal, “Kami sudah tahu kerja kami.”
“Bagus. Berarti saya tidak perlu menjelaskan di berita acara kenapa bukti mudah menguap diabaikan.”
Sekar Wibawa tidak menoleh, tetapi ia mendengar langkah Kemal Darsono tidak mengikutinya. Itu membuat peringatannya lebih buruk, bukan lebih ringan. Jika Kemal Darsono benar-benar ingin menakutinya, ia akan mengejar. Jika ia memilih tinggal, berarti sesuatu di abu klinik itu lebih mendesak daripada wajah Sekar Wibawa yang baru saja dipermalukan.
Di kios Marni Rojali, pagi sudah berubah menjadi pengadilan kecil. Para perempuan pasar menumpuk pertanyaan di ambang. Bau bawang, kain basah, kopi pahit, dan gosip bercampur di ruang sempit itu. Marni Rojali berdiri di tengah ruang dagang, rambutnya tertata cepat, wajahnya disiapkan untuk bertahan.
Di tiang depan kios sebelah, selembar stiker merah baru menempel miring: **PENGOSONGAN TAHAP PERTAMA**. Pemilik kios itu duduk di bangku plastik tanpa membuka dagangan, memegang kunci rolling door seperti memegang benda mati. Dua lelaki berhelm hitam berdiri di dekat gerobak bubur, tidak membeli apa pun, hanya mengawasi daftar nama pedagang yang tertempel di papan. Seseorang berbisik bahwa mereka orang Bayu Cakrabuana, datang menagih utang sebelum tanah resmi berubah tangan. Pasar belum digusur, tetapi sebagian orang sudah mulai kehilangan suara.
“Sekar Wibawa!” kata Marni Rojali. “Kau dari mana?”
Sekar Wibawa masuk tanpa menjawab. Tumit sandalnya menyeret debu ke lantai papan. “Di mana akta lahirku?”
Suara pasar turun seperti kain dilempar ke lantai.
Marni Rojali tertawa sekali. Pendek, kering, salah nada. “Pagi-pagi kau minta benda yang hilang bertahun-tahun?”
“Hilang di mana?”
“Banjir waktu kau kecil.”
“Kita tidak pernah punya album banjir. Tidak ada lemari rusak. Tidak ada surat pengganti. Kenapa?”
Lukman Rojali muncul dari belakang rak benang. Wajahnya kurang tidur, kantong matanya seperti memar yang tidak jadi. “Sekar Wibawa—”
“Jangan kau yang jawab kalau jawabanmu hanya takut.”
Marni Rojali menunjuk keluar. “Kalian dengar? Anak dibesarkan, lalu bicara seperti penagih.”
Seorang pedagang berkata pelan, “Marni Rojali, kalau memang ada surat, kasih saja.”
“Tidak ada!” Marni Rojali membentak. “Akta lahirnya hanyut. Semua orang lama tahu.”
“Semua orang lama tahu dari mulutmu,” kata Sekar Wibawa. “Bukan dari air.”
Marni Rojali tersentak sejenak, lalu wajahnya kembali keras.
Sekar Wibawa menoleh kepada Lukman Rojali. “Kau tahu?”
Lukman Rojali mengusap tengkuknya, lalu menurunkan tangan seolah sadar gerak itu terlalu mudah dibaca. “Aku tahu Marni Rojali menyimpan sesuatu.”
Marni Rojali menatapnya. “Mulutmu minta celaka.”
“Celaka sudah datang,” kata Lukman Rojali. “Cuma kita pura-pura belum kenal.”
“Apa yang ia simpan?” Sekar Wibawa bertanya.
Lukman Rojali menelan ludah. “Bukan akta. Aku cuma pernah lihat kaleng.”
Marni Rojali maju setengah langkah. “Lukman Rojali.”
“Kaleng biskuit,” lanjut Lukman Rojali, suaranya makin kecil namun kali ini tidak berhenti. “Di bawah papan bilik. Aku tidak tahu isinya. Aku cuma tahu Marni Rojali selalu memindahkan barang lain, tapi kaleng itu tidak pernah dibiarkan jauh dari lantai itu.”
Ia berhenti, lalu matanya jatuh ke pergelangan tangan Sekar Wibawa, seakan masih melihat sesuatu yang sudah lama hilang.
“Waktu kau umur tiga tahun, kau demam tinggi,” katanya pelan. “Kau mengigau sambil menggenggam pergelanganmu sendiri. Kau menangis mencari gelang kecil yang tidak pernah kami pakaikan. Kau menyebut suara yang bukan suara kami. Aku tanya Marni Rojali waktu itu. Ia bilang anak demam bisa mengarang apa saja. Aku percaya karena lebih mudah percaya.”
Marni Rojali berkata rendah, “Cukup.”
“Tidak,” kata Lukman Rojali. “Hari itu aku memilih diam. Semalam aku buka jendela karena aku tidak sanggup memilih diam dua kali.”
Sekar Wibawa berjalan ke bilik kecil tempat Marni Rojali biasa shalat. Marni Rojali bergerak cepat menghadang, tetapi dua perempuan pasar menahan lengannya.
“Jangan ikut campur!” Marni Rojali menggeram.
“Kalau cuma sajadah, biarkan anakmu lihat,” kata salah satu perempuan.
“Aku bukan anaknya,” kata Sekar Wibawa, namun suaranya tak sekeras yang ia harapkan. Kalimat itu selama ini ia pakai seperti pisau; pagi itu, gagangnya ikut melukai telapak.
Di bawah tikar tipis, lantai papan punya satu bagian yang warnanya lebih kusam. Sekar Wibawa mencungkilnya dengan ujung gunting kecil dari meja. Kayu tua mengeluarkan bunyi retak pelan, seolah kios itu sendiri keberatan membuka rahasia. Ada kaleng biskuit datar di rongga bawah. Tutupnya lengket oleh usia, tetapi terbuka setelah ia memukulnya ke sisi kaki meja.
Di dalamnya, bukan uang.
Gelang bayi kecil, gosong di satu sisi, tergeletak di atas kapas tua. Huruf “SW” tercetak di pelat mungilnya. Di sampingnya ada tag klinik yang tepinya hangus, tulisannya tinggal pecahan angka dan satu kata: Wiratama. Benda terakhir membuat Sekar Wibawa membeku: serpihan emas tipis berpola canting, bukan bentuk hiasan biasa, melainkan potongan berlekuk presisi. Permukaannya tampak indah dari jauh, tetapi ketika dekat, lekuknya terlalu tajam, terlalu terukur, seperti gigi sesuatu yang pernah mengunci.
Marni Rojali berkata, “Itu bukan milikmu.”
Sekar Wibawa mengangkat gelang itu. Logam kecilnya dingin, tidak sebanding dengan panas yang naik di dadanya. “Hurufnya kebetulan?”
“Banyak nama bisa mulai dengan S dan W.”
“Tag ini?”
“Barang titipan.”
“Dari siapa?”
Marni Rojali memandang Lukman Rojali. “Kau puas? Kau buka kuburan yang bahkan bukan milikmu.”
Lukman Rojali berbisik, “Siapa yang memberi?”
“Diam.”
“Marni Rojali,” katanya lagi, kali ini bukan sebagai suami yang takut, melainkan orang yang lelah menghafal dusta. “Kalau kau masih tutup mulut, mereka akan datang membawa api lain.”
Sekar Wibawa memasukkan gelang, tag, dan serpihan emas ke saputangan. “Jawab aku.”
Marni Rojali mendekat, matanya licin oleh amarah yang menahan runtuh. Tangannya sempat terangkat seolah hendak merampas saputangan itu, tetapi geraknya berhenti di udara. Ia malah mendorong tubuh Sekar Wibawa setengah langkah menjauh dari pintu, melindunginya dari pandangan dua lelaki berhelm hitam di luar yang mulai menoleh ke arah kios.
“Jangan angkat tinggi-tinggi,” desis Marni Rojali. “Mereka tidak perlu lihat.”
Sekar Wibawa terpaku. Perlindungan itu datang terlalu kasar untuk disebut kasih, tetapi terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kalau kau bawa itu keluar, orang yang punya cerita aslinya akan menghapus kita semua.”
“Berarti cerita itu ada.”
“Cerita tidak memberi makan. Cerita tidak bayar utang.”
“Aku bukan utangmu.”
Marni Rojali menampar meja sampai benang-benang kecil meloncat. “Kau hidup karena aku setuju menerimamu.”
“Dan siapa yang membayarmu?”
Tidak ada jawaban. Hanya napas orang-orang di ruang sempit itu saling bertabrakan. Di luar, seseorang menjatuhkan keranjang, dan bunyinya terdengar terlalu jauh untuk tempat yang sedekat itu.
Lalu Marni Rojali berkata sangat pelan, hampir tidak ingin didengar siapa pun, “Kalau aku tidak menerimamu malam itu, kau tidak akan sampai matahari pertama.”
Sekar Wibawa menatapnya.
Marni Rojali segera mengeraskan wajah, seolah kalimat tadi bukan miliknya. “Jangan salah paham. Aku tidak melakukannya gratis.”
Di antara mobil boks dan angkutan sayur, sebuah van hitam parkir tanpa mesin menyala. Kacanya gelap, tetapi di celah kecil jendela, lensa ponsel mengarah ke kios.
Kosim Badar menurunkan layar setelah rekaman tersimpan. Wajahnya kusut oleh kurang tidur yang berbeda dari orang pasar: kurang tidur orang yang menunggu mesin rumah sakit berbunyi stabil. Semula ia datang ke utara untuk bertemu Taufan Nugroho di belakang deretan kios onderdil, setelah lelaki itu mengirim pesan pendek tentang “buku besar” dan meminta jalur yang tidak melewati kantor polisi. Tetapi dua panggilan tak terjawab, kabar bisik tentang kurir cold-chain yang menghilang, dan foto buram dari ponsel Taufan Nugroho membuatnya berbelok mengikuti jejak Sekar Wibawa. Di kursi depan, amplop rumah sakit dengan nama Ilham Badar terselip di bawah dashboard, ujungnya terlipat karena terlalu sering disentuh. Ia menatap gambar Sekar Wibawa di ponsel: tangan membuka kaleng, gelang terangkat, wajah Marni Rojali pecah sesaat sebelum kembali keras.
“Sudah cukup?” bisik seseorang dari panggilan aktif.
Suara itu rapi, rendah, seperti orang yang terbiasa membaca klausul dan membuat ancaman terdengar sebagai nasihat.
Kosim Badar menjawab tanpa melihat nama di layar. “Cukup untuk membuat semua orang saling membunuh kalau jatuh ke tangan salah.”
“Bawa ke saya.”
“Tidak.”
“Kosim Badar—”
“Kalau anak saya masih bernapas karena belas kasihan kalian, jangan sebut itu seperti ikatan. Itu borgol.”
“Kau lupa siapa yang membayar ruang ICU?”
“Aku ingat. Itu sebabnya aku belum membuang ponsel ini ke selokan.”
“Kosim Badar, jangan salah memilih pihak.”
Kosim Badar menatap amplop Ilham Badar. Jari-jarinya memutih di setir. “Saya belum punya pihak. Saya cuma punya anak.”
Ia memutus panggilan, lalu menyalakan mesin.
Sekar Wibawa tidak melihat van itu pergi. Ia sudah keluar dari kios melalui sisi depan, melewati pertanyaan yang dilemparkan tanpa menunggu jawaban. Beberapa orang memanggil namanya, beberapa pura-pura tidak melihat saputangan di tangannya. Di ujung pasar, Kemal Darsono berdiri dekat papan pengumuman pengosongan lahan. Kertas pengumuman itu basah oleh embun, tetapi cap Sembada Nusantara masih terbaca jelas di sudut bawah.
“Dapat sesuatu?” tanyanya.
Sekar Wibawa berhenti. “Kau duluan. Siapa yang sedang dihapus?”
Kemal Darsono melihat saputangan di tangan Sekar Wibawa. “Taufan Nugroho tidak akan masuk berita sebagai kurir.”
“Apa masuknya?”
“Pemabuk tertabrak lari, kalau mereka cepat.”
“Kalau mereka lambat?”
“Mayat tanpa identitas yang terlalu lama ditemukan.”
Sekar Wibawa menahan napas. “Dia tidak kebetulan sampai padaku, kan?”
“Tidak sepenuhnya,” kata Kemal Darsono. “Aku sudah mengikuti rute pengiriman cold-chain yang dipakai klinik sejak dua hari lalu. Taufan Nugroho membawa sesuatu yang ia sendiri belum berani sebut buku besar. Ia tahu kau tinggal di utara karena ada orang yang membisikkan namamu kepadanya. Aku mencoba mencegah ia lewat pasar, tapi ia lebih percaya jalur yang ia kenal.”
“Jadi dia diarahkan.”
“Kepadamu, atau ke pembunuhnya. Aku belum tahu mana yang lebih dulu.”
“Dan klinik?”
“Kegagalan listrik.”
“Padahal ada malam batik.”
“Kau yakin?”
“Aku pernah membersihkan canting lebih banyak daripada polisi itu membaca laporan.”
Kemal Darsono mengangguk sedikit. “Ada orang yang tahu cara membuat api tampak sabar.”
“Dan kau tahu itu dari mana?”
“Dari klaim-klaim yang terlalu rapi. Gudang, arsip tanah, satu kantor notaris, sekarang klinik.”
“Semua milik Sembada?”
“Semua pernah menyimpan sesuatu yang Sembada ingin orang lupa.”
Sekar Wibawa membuka saputangan sebagian. Kemal Darsono tidak menyentuhnya.
“SW,” katanya.
“Sekar Wibawa.”
“Atau Sekar Wiratama.”
Nama itu jatuh di antara mereka terlalu berat untuk diambil segera. Di belakang Kemal Darsono, orang-orang pasar mulai bergerak lagi, tetapi bagi Sekar Wibawa suara mereka seperti masuk dari ruangan lain.
Sekar Wibawa berkata, “Jangan pakai nama itu seperti kau sudah berhak.”
“Aku tidak berhak. Bukti yang mungkin berhak.”
“Kalau kau mau melihat, ikut. Kalau kau mau mengambil, kita selesai.”
“Kita ke orang yang bisa baca logam. Bukan polisi. Bukan keluarga.”
“Siapa?”
“Kemarin malam Melati Kusumawardani memberi satu nama. Hendra Gunawan. Tukang perhiasan lama, pernah memeriksa arsip fisik Sembada Nusantara waktu perusahaan itu masih menyimpan saham dalam bentuk sertifikat dan kunci logam.”
“Jadi bukan kebetulan kau tahu toko yang buka pagi-pagi.”
“Aku mengirim pesan sebelum datang ke klinik. Dia setuju menerima kalau kau sendiri yang membawa barangnya.”
“Kenapa?”
“Karena tadi aku membuatmu terlihat sendiri. Sekarang biarkan kau terlihat memimpin.”
Sekar Wibawa menatapnya lama, mencari sisa senyum palsu yang tadi ia pakai di depan polisi. Tidak ada. Yang ada hanya kewaspadaan seseorang yang mengerti bahwa setiap kalimat bisa menjadi bukti atau jerat.
“Kalau kau bohong lagi,” kata Sekar Wibawa, “aku tidak akan menampar tasmu.”
“Aku tahu.”
“Bagus. Jangan buat aku membuktikan.”
Mereka tidak langsung pergi. Pasar yang selama ini menjadi tempat Sekar Wibawa bersembunyi mendadak terasa seperti ruangan yang menahan napas. Beberapa pedagang menunduk ketika ia lewat, bukan karena benci, melainkan karena tidak tahu apakah melihat wajahnya berarti memilih pihak. Seorang perempuan yang biasa memberinya potongan tempe hangat menarik anaknya masuk ke balik meja. Seorang lelaki tua di kios rempah justru mengangkat dagu kecil, memberi salam tanpa suara. Di dekat papan pengumuman, stiker merah lain ditempelkan pada pintu kios jahit yang belum buka.
Sekar Wibawa berhenti di depan kios itu. Ia mengenal pemiliknya, mengenal bunyi mesin jahitnya, mengenal cara perempuan itu menyimpan uang receh di kaleng susu. Semua urusan besar—darah, saham, nama keluarga—mendadak turun menjadi satu pintu kecil yang mungkin tidak akan dibuka lagi minggu depan.
“Kalau mereka membuatku tampak seperti penipu,” katanya, “orang-orang ini akan menjauh sebelum sempat digusur.”
Kemal Darsono mengikuti arah pandangnya. “Itu salah satu tujuan mereka.”
“Dan kalau aku benar-benar Sekar Wiratama?”
“Sebagian akan takut padamu. Sebagian akan berharap terlalu banyak.”
“Dua-duanya berat.”
“Ya.”
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Suara pasar kembali naik pelan: pisau memotong sayur, ember diseret, sendok mengetuk gelas. Kehidupan melanjutkan dirinya dengan cara yang nyaris kejam. Sekar Wibawa memasukkan saputangan lebih dalam ke jaket, lalu berjalan lebih dulu.
Di ujung gang, sebuah mobil patroli berhenti terlalu lama. Dua orang berseragam memeriksa motor yang parkir sembarangan, tetapi mata mereka mengikuti Sekar Wibawa. Kemal Darsono tidak menoleh. Ia hanya berkata, “Jangan lewat jalan besar.”
“Kenapa?”
“Karena mereka sudah menunggu orang panik memilih jalan besar.”
Sekar Wibawa berbelok ke lorong kain. Seorang pedagang menggeser gantungan batik seolah sedang merapikan dagangan, padahal kain-kain itu menutup tubuh Sekar Wibawa dan Kemal Darsono dari pandangan jalan. Di belakang mereka, suara salah satu lelaki berhelm hitam bertanya kasar, “Perempuan itu lewat sini?”
Pedagang itu menjawab malas, “Perempuan yang mana? Pasar ini isinya perempuan semua.”
Sekar Wibawa terus berjalan tanpa mengucapkan terima kasih, karena ucapan sekecil itu bisa membuat orang tersebut ikut terseret. Tetapi ketika melewati tumpukan karung beras, ia menyentuhnya sekali, tanda yang hanya orang pasar pahami: aku ingat.
Toko perhiasan kecil di jalan besar baru membuka separuh rolling door ketika Sekar Wibawa mengetuk dari pintu samping, bukan dari depan. Besi pintu berderit, menyisakan garis cahaya tipis di lantai keramik. Lelaki tua di dalam mengangkat kepala dari meja pembesar. Kacamata lensanya membuat satu matanya tampak lebih besar, seperti mata burung yang curiga.
“Kami belum buka.”
“Kami tidak beli,” kata Sekar Wibawa. “Kami butuh pemindaian logam.”
Lelaki itu menatap Kemal Darsono, lalu saputangan. “Kau yang disebut Melati Kusumawardani?”
Sekar Wibawa tidak langsung menjawab. “Tergantung dia menyebutku apa.”
“Perempuan yang membawa potongan canting dan tidak boleh disentuh siapa pun selain dirinya sendiri.”
“Kalau begitu ya.”
“Hendra Gunawan,” kata lelaki itu singkat. “Masuk. Jangan berdiri di garis pintu.”
Pemilik toko membuka pintu lebih lebar tanpa berkata lagi. Di dalam, bau logam, alkohol pembersih, dan debu laci tua memenuhi ruangan. Ia menurunkan rolling door hingga tinggal celah satu jengkal, lalu menyalakan alat kecil di meja. Ketika serpihan emas berpola canting diletakkan di alas hitam, garis-garisnya muncul di layar sebagai kontur tajam, lebih mirip komponen mesin daripada ornamen. Hendra Gunawan berhenti bergumam.
“Ini bukan perhiasan.”
Kemal Darsono maju setengah langkah. “Apa?”
“Emasnya cuma lapisan. Di bawahnya ada paduan penghantar. Lihat lekuk ini? Kunci fisik. Dipatahkan.”
Sekar Wibawa merasa ruangan mengerut. “Kunci untuk apa?”
Hendra Gunawan memperbesar pola. Bentuk canting berubah menjadi rangkaian takik, titik, dan lengkung yang punya urutan. Di layar, keindahan motif itu hilang; yang tersisa hanya perintah mekanis.
“Ini dibuat supaya dikenali alat pembaca khusus. Biasanya untuk brankas lama, surat kuasa tertutup, atau saham fisik bernilai tinggi.” Ia menunjuk satu tanda mikro di ujung serpihan. “Ada cap kecil.”
Kemal Darsono mengeluarkan ponsel, lalu berhenti sebelum memotret. “Boleh?”
Sekar Wibawa menatapnya. “Tidak.”
Ia memasukkan ponsel kembali.
Hendra Gunawan menggeser lampu pembesar. Tanda mikro itu membesar di layar, pecah sedikit karena serpihan patah, tetapi masih cukup terbaca. Huruf-hurufnya muncul satu per satu seperti sesuatu yang bangkit dari abu.
**Sembada Nusantara.**
Ruangan menjadi sunyi.
Hendra Gunawan berkata pelan, “Ada istilah di kalangan kolektor dokumen korporasi lama: saham emas. Bukan karena warnanya. Karena satu lembar bisa mengalahkan satu ruangan pemegang suara.”
“Saham?” Sekar Wibawa hampir tertawa, tetapi tidak ada ringan di dadanya. “Dari gelang bayi?”
“Potongan ini bukan gelang. Ini fragmen kunci untuk mengaktifkan sesuatu yang tidur lama.”
Kemal Darsono menatap layar. Semua kepura-puraan audit di wajahnya hilang. “Jika ini terhubung dengan saham emas Sembada Nusantara…”
Hendra Gunawan menyelesaikan kalimatnya, “Maka pemegang kunci bisa membuka hak suara tertentu. Hak yang sengaja dibuat tidak bergerak sampai pemilik sahnya dikenali.”
“Klausul apa?” tanya Sekar Wibawa.
Kemal Darsono tidak langsung menjawab. Kali ini ia menahan diri, seolah tahu satu penjelasan yang terlalu cepat bisa merampas guncangan yang masih harus ia miliki sendiri.
“Kita perlu anggaran dasar lama,” katanya. “Bukan salinan publik. Versi yang memuat lampiran kunci.”
Sekar Wibawa melihat gelang bayi di telapak tangannya, tag klinik hangus, dan serpihan kunci yang terlalu kecil untuk menanggung begitu banyak nyawa. Akta lahir yang hilang tiba-tiba bukan sekadar kertas; ia berubah menjadi pintu yang sengaja ditutup dari luar.
“Jadi mereka bukan cuma mengambil namaku,” katanya.
Kemal Darsono menatapnya dengan suara rendah. “Mereka mungkin mengambil hak suaramu.”
“Kalau hak itu benar milikku,” kata Sekar Wibawa, “mereka akan datang mengambil sisanya.”
“Mereka sudah mulai.”
Sekar Wibawa menggenggam saputangan sampai buku jarinya memucat. “Maka kita cari siapa yang pertama kali menulis namaku.”
Di luar toko, pagi pasar mulai ramai seperti hari biasa. Klakson angkot, seruan penjual, dan denting rolling door toko lain naik satu per satu, seakan kota tidak pernah menyimpan abu di balik kukunya. Tetapi di layar alat pemindai, pola canting itu tetap menyala, dan di ujung pecahannya nama itu tidak mau padam:
**Sembada Nusantara.**