Sekar Wibawa belum sempat mencapai pintu belakang ketika Marni Rojali muncul dari sisi lorong dengan payung hitam dan wajah yang lebih keras daripada hujan. Air menetes dari ujung payungnya, jatuh satu-satu ke lantai semen, seperti hitungan mundur yang tidak memberi kesempatan kabur.
“Masuk,” kata Marni Rojali.
Tiga laki-laki di ujung lorong berhenti. Mereka bukan penagih. Mereka tidak membawa map utang, tidak mengucapkan ancaman, hanya berdiri dengan bahu memenuhi jalan sempit dan mata yang menunggu perintah.
Sekar Wibawa menyembunyikan tangan kirinya di balik lipatan rok. Bekas tusukan jarum di lengannya masih terasa nyeri saat kain menyentuh kulit. “Kau yang panggil mereka?”
“Kalau kau tidak suka dicari orang, jangan membuat orang penting gelisah.”
“Aku mau bicara denganmu.”
“Besok.”
“Sekarang.”
Marni Rojali tertawa singkat. Bukan tawa senang, melainkan tawa orang yang sudah menutup semua pintu di kepalanya. “Kau pikir setelah dibawa ke klinik, kau naik pangkat jadi orang yang bisa menjadwalkan ibunya?”
“Kau bukan ibuku kalau kau menjual darahku.”
Kalimat itu membuat wajah Marni Rojali kosong sesaat. Kosong yang terlalu cepat, tetapi cukup untuk terlihat. Lalu ia maju, bukan untuk memukul, melainkan membuka gembok ruang jahit kecil di belakang kios. Anak kunci beradu dengan besi, suaranya tajam di antara gemuruh hujan.
“Masuk.”
Sekar Wibawa memandang ruang itu: mesin jahit tua, rak benang, manekin pinggul patah, tumpukan pesanan yang dibungkus plastik, bau kapur jahit bercampur lembap dan karat.
“Aku tidak akan dikurung.”
“Kau akan menyelesaikan kerjaan yang sudah dibayar.” Marni Rojali mengangkat plastik besar berlogo Sembada. Plastik itu bersih, terlalu bersih untuk lorong pasar yang becek. “Kebaya upacara untuk gala amal. Besok malam Vina Kartasasmita tampil. Semua kamera harus melihat putri kesayangan sudah pulih.”
“Pulih dari apa?”
“Dari penyakit yang bukan urusanmu.”
“Kalau bukan urusanku, kenapa darahku diambil?”
Marni Rojali mendekat sampai ujung payungnya menyentuh lantai semen. Suaranya turun, tetapi justru lebih berat. “Dengar baik-baik. Kau jahit. Kau diam. Kau jangan ke mana-mana sampai aku buka pintu.”
“Dan kalau aku berteriak?”
“Para perempuan di pasar akan menerima tamu Bayu Cakrabuana sebelum azan pertama.”
Sekar Wibawa memandangnya lama. Di luar sana ada kios perempuan tua yang selalu memberinya teh tawar, ada lapak jamu yang tutup paling akhir, ada anak-anak yang tidur di kolong meja dagangan ketika ibunya lembur menimbang sayur. Marni Rojali selalu tahu bagian mana yang harus ditekan.
“Kau selalu membawa orang lain untuk mengikat leherku.”
“Karena lehermu sendiri terlalu licin.”
Marni Rojali mendorongnya masuk. Pintu ditutup. Gembok berbunyi kering, final.
Dari balik pintu, suara Lukman Rojali muncul. “Marni Rojali, jangan begitu.”
“Kau mau menggantikan dia jahit?”
“Dia baru diambil darah.”
“Darahnya masih cukup untuk memasukkan benang ke jarum.”
“Sekar Wibawa,” panggil Lukman Rojali, lebih dekat ke papan pintu. Nada suaranya ragu, seperti setiap kata harus melewati Marni Rojali dulu. “Kerjakan saja dulu. Nanti aku—”
“Nanti apa?” Sekar Wibawa memotong. “Kau akan menyelesaikan kalimatmu?”
Tidak ada jawaban.
Sekar Wibawa menyalakan lampu meja. Cahaya kuning jatuh ke kebaya brokat warna gading, selendang sutra, dan satu kotak beludru merah marun. Kain-kain mahal itu terhampar di atas meja kayu penuh bekas sayatan gunting, seolah dua dunia dipaksa tidur di ranjang yang sama.
Di tutup kotak ada kartu kecil: koleksi kenangan Vina Kartasasmita, untuk dipakai ulang pada gala pemulihan.
“Putri pulih,” gumam Sekar Wibawa. “Dengan ukuran pinggang baru.”
Ia membuka kotak. Di dalamnya ada selempang kecil, krem pudar, disulam lambang keluarga Sembada dengan benang emas tua. Benda itu bukan sekadar aksesori; bagian pinggirnya memuat bekas lipatan lama, minyak tangan, dan label kain yang dijahit ulang terlalu rapi. Ada bau samar kamper dan lemari lama, bau benda yang bertahun-tahun disimpan sebagai bukti kasih sayang, atau bukti kebohongan.
Mata Sekar Wibawa bekerja tanpa izin dari ketakutannya.
Ia mengambil kaca pembesar dari laci. Jahitan utama memakai tusuk rantai halus khas tangan lama. Tetapi label nama di bagian dalam dipasang dengan benang sintetis baru, warna putihnya terlalu bersih. Huruf “Vina Kartasasmita” tampak disulam di atas kain tambahan, bukan langsung pada dasar selempang. Di bawah sambungan, ada bekas lubang jarum lain, lebih rapat, lebih pendek, seolah label sebelumnya pernah dicopot dengan kesabaran seorang pembohong.
Sekar Wibawa menekan sambungan itu dengan ujung kuku. Ada garis lipatan yang tidak cocok dengan tubuh Vina Kartasasmita dewasa—bahkan tidak cocok dengan anak yang tinggi. Selempang itu pernah dipendekkan, lalu dipanjangkan lagi. Untuk anak lain.
Sekar Wibawa memaksa dirinya berhenti sebelum panik mengunyah semua hal sekaligus. Ia menghitung dengan napas pendek: pertama, darahnya diambil untuk penyakit yang tidak pernah dijelaskan; kedua, salinan karbon menyebut jalur donor yang tidak seharusnya menyentuhnya; ketiga, selempang Vina Kartasasmita membawa bekas nama yang dicabut dan ukuran masa kecil yang salah. Tiga benda, tiga arah, satu lubang gelap yang sama.
Dari luar, Marni Rojali berseru, “Jangan rusak!”
Sekar Wibawa tidak menjawab. Ia membuka lapisan dalam selempang sedikit, cukup untuk melihat potongan benang biru tua tertinggal di bawah label baru. Warna itu menampar ingatannya: sama dengan benang pinggir kain pusaka yang sedang ia perbaiki, sama gelapnya dengan malam ketika ia pertama kali sadar bahwa setiap benda lama di rumah ini selalu punya cerita yang dihentikan di tengah jalan.
“Lukman Rojali,” panggilnya.
“Apa?”
“Kapan aku pertama kali dibawa ke rumahmu?”
Suara Marni Rojali meledak duluan. “Jahit!”
Sekar Wibawa menaikkan suara. “Lukman Rojali!”
Beberapa detik berlalu. Hujan mengisi sela diam itu, deras di seng, deras di tenggorokan. Lalu, lirih tetapi jelas, Lukman Rojali berkata, “Malam hujan.”
“Dari mana?”
“Sudah cukup,” kata Marni Rojali.
“Dari mana?”
Pintu dipukul sekali dari luar. “Kalau kau sayang pasar, berhenti bertanya.”
Sekar Wibawa tersenyum tanpa rasa gembira. “Berarti jawabannya ada.”
Di Jakarta, jauh dari pasar yang terkunci, Kemal Darsono duduk sendirian di ruang arsip sewaan yang jendelanya menghadap tembok gedung sebelah. Lampu neon di atas kepalanya berkedip halus, membuat tumpukan kardus arsip tampak seperti saksi yang kelelahan. Di mejanya, laptop tua memuat berkas yang dikirim melalui kanal anonim: metadata laboratorium, catatan waktu akses, kode sampel, satu tabel HLA yang seharusnya tidak pernah keluar dari server klinik pribadi, dan sebuah lembar pengiriman cold chain dengan nama kurir yang dilingkari merah.
Taufan Nugroho.
Di bawah nama itu ada nomor motor, jam keluar dari klinik, dan koordinat terakhir yang tidak masuk akal: bukan menuju gudang pusat, bukan menuju laboratorium rekanan, melainkan berhenti berkedip di sekitar pasar yang baru saja disebut dalam catatan pengambilan sampel Sekar Wibawa.
Kemal Darsono memperbesar foto pelat motor kurir itu. Gambar buram dari kamera jalan memperlihatkan kotak pendingin putih di belakang jok, stiker biru hampir lepas, dan jas hujan gelap yang menghilang di antara lampu toko.
Teleponnya berdering.
Damar Prakoso.
Kemal Darsono mengangkat. “Kalau ini soal sidang etik, aku belum berubah pikiran.”
“Aku justru mau tahu apa kau masih punya pikiran sehat,” kata Damar Prakoso. “Kau membuka kanal gelap lagi?”
“Ada data masuk.”
“Kemal Darsono.”
“Jangan pakai nada penyidik. Lisensiku sudah setengah mati, bukan berarti otakku ikut dikubur.”
“Kau sedang dalam investigasi karena kasus koperasi itu. Mereka bilang kau mengambil dokumen tanpa mandat. Dan sekarang audit summons yang kau kirim ke Sembada sudah memicu laporan balik. Bukan sekadar etik. Ada risiko penahanan kalau mereka berhasil menjualnya sebagai pencurian data dan obstruction.”
“Mereka bilang banyak hal agar Fikri Pambudi tetap terlihat bersih.”
“Nama itu jangan kau lempar sembarangan.”
“Kalau nama itu bisa melukai orang, berarti selama ini memang tajam.”
Kemal Darsono memperbesar tabel. Satu baris ditandai: Sekar Wibawa. Baris lain: Vina Kartasasmita. Di kolom pembanding, arsip genom pribadi Harun Wiratama.
Ia berhenti mengetik. Jarinya menggantung di atas papan ketik, tidak menyentuh apa pun, seolah satu tombol lagi bisa mengubah hidup seseorang yang belum pernah ia temui.
Damar Prakoso bertanya, “Apa yang kau lihat?”
“Ketidakwajaran yang punya tanda tangan mahal.”
“Detail.”
“Sampel perempuan dari Bantul baru masuk. Marker HLA-nya lebih dekat ke vault pribadi Harun Wiratama daripada milik Vina Kartasasmita.”
Di seberang, Damar Prakoso diam sebentar. “Kau yakin itu bukan umpan?”
“Semua umpan punya tali. Ini punya cap waktu, mesin, operator, rute ekspor.” Kemal Darsono melirik lembar pengiriman. “Dan satu kurir cold chain yang keluar jalur.”
“Keluar jalur ke mana?”
“Ke pasar.”
“Kalau benar, kau harus lindungi perempuan itu.”
“Aku harus membuka prosedurnya.”
“Kemal Darsono, dengarkan aku. Manusia dulu, berkas kemudian. Urusanmu audit, rantai bukti, dan dokumen perusahaan. Urusanku memastikan saksi tidak hilang sebelum dokumenmu sempat bicara.”
“Berkas yang benar menyelamatkan manusia lebih lama daripada pelukan.”
“Dan berkas yang salah bisa membuatnya hilang sebelum pagi.”
Kemal Darsono menatap nama Sekar Wibawa. Nama itu tidak punya perisai, tidak punya firma hukum, tidak punya alamat aman. Hanya kode sampel dan jam pengambilan. Di layar, hidupnya diringkas menjadi baris dingin, sedangkan di luar sana mungkin ia sedang dikejar oleh tangan-tangan yang tidak pernah muncul di dokumen.
“Aku akan cari dia,” katanya.
“Untuk melindungi?”
“Untuk memastikan dia bicara di tempat yang tercatat.”
Damar Prakoso mengumpat pelan. “Itu jawaban paling Kemal Darsono dan paling berbahaya.”
“Kalau kau punya jawaban yang lebih bersih, kirim alamatnya.”
“Aku kirim peringatan saja. Jangan datang sebagai orang yang merasa paling benar.”
Kemal Darsono menutup mata sejenak. “Aku sudah lama tidak merasa bersih, Damar Prakoso. Benar pun belum tentu.”
Di klinik pribadi, dr. Bagas Prasetyo tidak berani duduk ketika Vina Kartasasmita masuk dengan kursi roda didorong perawat. Bau antiseptik memenuhi ruangan, tetapi tidak cukup kuat untuk menutupi aroma logam dari ruang penyimpanan sampel. Kaca pendingin memantulkan wajah Vina Kartasasmita yang pucat, mata yang terlalu terang untuk tubuh yang terlalu lemah.
“Semua sampel donor hari ini,” kata Vina Kartasasmita. “Hapus.”
dr. Bagas Prasetyo menyeka keringat di pelipis. “Tidak sesederhana itu.”
“Kalian membuat banyak hal sederhana saat mengambilnya.”
“Ada log mesin. Ada cadangan.”
“Bakar cadangan.”
“Jika jejak hilang mendadak, justru terlihat.”
“Lebih baik terlihat bodoh daripada terbukti menculik darah.”
Perawat di belakang kursi roda menunduk. Tangannya mencengkeram pegangan kursi, ragu antara diam sebagai pegawai atau takut sebagai manusia.
dr. Bagas Prasetyo merendahkan suara. “Perintah keluarga bukan seperti itu.”
“Keluarga sedang membunuhku pelan-pelan sambil memasang pita di kursiku.”
“Harun Wiratama—”
“Jangan pakai nama orang sakit untuk menakutiku.”
“Harun Wiratama masih memegang semua kunci.”
Vina Kartasasmita menatap tabung-tabung di balik kaca pendingin. Label-label kecil berjajar rapi, terlalu rapi, seperti makam yang belum sempat diberi bunga. “Tidak semua kunci membuka pintu yang benar.”
“Jika sampel itu cocok, tindakan bisa menyelamatkan Anda.”
“Jika sampel itu membuktikan sesuatu yang lain?”
dr. Bagas Prasetyo tidak menjawab.
Vina Kartasasmita berkata, “Aku ingin jejak donor Sekar Wibawa musnah sebelum Fikri Pambudi menjadikannya tali gantungan.”
“Dan kalau saya menolak?”
“Kau kira aku masih punya cukup waktu untuk mengancam dengan sopan?”
“Vina Kartasasmita—”
“Aku tahu tubuhku sendiri, dr. Bagas Prasetyo. Aku tahu kapan orang-orang berhenti menyebut hidup dan mulai menyebut opsi.”
dr. Bagas Prasetyo menunduk ke layar komputer. “Sekali saya sentuh sistem ini, semua orang akan tahu.”
“Bagus,” kata Vina Kartasasmita. “Berarti kau masih punya kesempatan memilih diketahui sebagai apa.”
Di rumah besar berpagar tinggi, Harun Wiratama berbaring di kamar yang lebih mirip pos komando daripada ruang sakit. Monitor medis memantulkan angka hijau di dinding panel kayu. Tirai tebal menahan suara hujan, tetapi tidak menahan bau obat, kulit tua, dan bunga segar yang diganti terlalu sering. Fikri Pambudi berdiri di sisi ranjang, membawa map tipis.
Di luar ruang ini, orang menyebutnya kepala penasihat hukum Sembada. Di dalam ruang ini, batas jabatannya lebih luas dan lebih dingin: sekretaris hukum keluarga, pengendali krisis, orang yang mengubah perintah Harun Wiratama menjadi surat, gugatan, penundaan, dan pintu yang tertutup tepat sebelum saksi masuk.
“Metadata bocor,” kata Fikri Pambudi.
Harun Wiratama berbicara dengan suara serak, tetapi tiap suku kata masih seperti perintah rapat. “Siapa?”
“Belum pasti. Kemungkinan jalur laboratorium.”
“Vina Kartasasmita?”
“Vina Kartasasmita menekan dr. Bagas Prasetyo.”
“Anak itu belajar terlambat.”
Fikri Pambudi membuka map. “Sekar Wibawa mulai bergerak. Marni Rojali mengurungnya.”
“Marni Rojali selalu memilih cara kampung.”
“Efektif untuk malam ini.”
“Tidak untuk pengadilan.”
Fikri Pambudi menunggu.
Harun Wiratama memutar kepala sedikit, matanya tertuju pada langit-langit. Di wajahnya, sakit tidak membuatnya tampak lemah; hanya membuat kekuasaannya terlihat lebih telanjang. “Tunda semua orang sampai langkah ketujuh mustahil dilakukan.”
“Laksmi Utami bisa memerintahkan pembukaan dokumen jika permohonannya lengkap.”
“Maka jangan biarkan lengkap.”
Fikri Pambudi merapikan ujung map dengan dua jari, seolah seluruh dunia bisa dikembalikan ke bentuk aman bila urutannya benar. “Saya tidak perlu membuat kebenaran hilang jika prosedurnya bisa saya buat salah alamat.”
“Kemal Darsono mungkin muncul.”
“Beri dia prosedur. Orang seperti dia akan mengejar tangga, bukan pintu.”
Fikri Pambudi tersenyum tipis. “Dan Sekar Wibawa?”
Harun Wiratama menutup mata. “Jangan sampai Sekar Wibawa berdiri di ruangan yang ada mikrofon.”
“Jika Sekar Wibawa sudah memegang sesuatu?”
“Orang yang memegang bukti masih butuh jalan untuk sampai.”
Di ruang jahit, hujan mulai memukul atap seng dengan irama kacau. Listrik berkedip dua kali. Bayangan mesin jahit memanjang di dinding, mirip binatang tua yang menunggu diberi makan. Sekar Wibawa sudah tidak menjahit kebaya. Ia melepas selempang kecil dari kotaknya, menggulungnya bersama salinan karbon, lalu membungkusnya dengan kain polos.
Dari luar, Marni Rojali bertengkar lewat telepon.
“Dia di sini,” kata Marni Rojali. “Tidak, belum tahu semua. Kau bilang cuma sampel. Kau bilang tidak akan ada api.”
Api.
Sekar Wibawa bergerak ke jendela belakang. Terali tua itu pernah ia las sendiri dengan kawat tambahan; ia tahu bagian mana yang lemah. Dengan gunting besar, ia memuntir kawat sampai patah satu per satu. Logam mencicit, lalu menyerah. Suaranya tenggelam dalam hujan.
Lukman Rojali muncul di luar jendela, basah sampai bahu. Rambutnya menempel di dahi, napasnya berembun di udara malam.
Sekar Wibawa nyaris menjatuhkan gunting. “Kau mau menghentikanku?”
“Aku mau memberimu lima menit.” Lukman Rojali menyerahkan kantong plastik kecil berisi ponsel dan uang kusut. “Jangan ke terminal utama. Ada orang menunggu.”
“Siapa Kemal Darsono?”
Wajah Lukman Rojali seperti ditarik dari dalam. “Orang yang dulu bertanya terlalu dekat.”
“Dekat dengan apa?”
“Dengan malam kau datang.”
“Dari mana aku datang?”
Lukman Rojali memegang terali, bukan meremas, hanya menempelkan jari seakan besi itu bisa memberi keputusan. “Ambulans.”
Sekar Wibawa terpaku. Hujan terasa berhenti di kulitnya, meski atap masih ribut dihajar air.
“Punya siapa?”
“Aku tidak tahu semua.”
“Kau tahu cukup.”
“Sekar Wibawa, pergi dulu.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena dulu aku pengecut.” Suara Lukman Rojali pecah di ujungnya, tetapi ia memaksa melanjutkan. “Malam itu aku disuruh tidak melihat. Aku menurut. Besoknya kau sudah di rumah kami, demam, tidak ingat apa-apa, dan Marni Rojali bilang Tuhan memberi rezeki dengan cara aneh.”
Sekar Wibawa menatapnya. “Aku rezeki?”
Lukman Rojali menunduk. “Bukan bagiku.”
“Lalu bagi siapa?”
Suara Marni Rojali mendekat. “Lukman Rojali!”
Lukman Rojali menarik baut terali. “Malam ini aku masih pengecut, tapi pintunya bisa kubuka dari luar kalau kau cepat. Jalan.”
Sekar Wibawa menyelip keluar, lututnya menggores tembok kasar. Perih langsung naik, bercampur dingin air hujan. Ia jatuh di gang belakang di antara karung bekas dan roda gerobak. Lukman Rojali memasang kembali terali dari luar sekadarnya.
“Kalau kau menemui Kemal Darsono,” katanya, “jangan percaya semua yang Kemal Darsono sebut kebenaran.”
“Kenapa?”
“Karena kebenaran juga bisa dijual per halaman.”
Marni Rojali berteriak dari dalam. “Sekar Wibawa!”
Sekar Wibawa berlari.
Gang belakang berubah menjadi arus cokelat setinggi mata kaki. Sandalnya hampir lepas dua kali. Ia memegang bungkusan selempang dan kertas karbon di bawah jaket, melewati kios tertutup, pagar seng, tumpukan peti, dan poster gala amal yang setengah terkelupas di tiang listrik. Wajah Vina Kartasasmita di poster tersenyum pucat di bawah lapisan air.
Di ujung jalan kecil, becak langganan pasar terparkir miring di bawah pohon asam. Di sebelahnya ada motor kurir yang jatuh menyamping, roda belakangnya masih berputar pelan. Kotak pendingin putih terikat di jok, stiker biru hampir lepas, dan kartu nama di dada jas hujan pengendaranya memantulkan cahaya lampu jalan.
Taufan Nugroho.
Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Sekar Wibawa, tetapi cara kartu itu dibalik hujan membuatnya tampak seperti seseorang sengaja diseret sampai ke titik ini dan gagal berdiri satu meter lagi.
“Pak!” Sekar Wibawa memanggil siapa pun yang mungkin tidur di dekatnya. “Bisa jalan?”
Tidak ada jawaban.
Lalu langit di arah klinik menyala jingga.
Bukan petir. Api.
Sekar Wibawa berhenti. Dari kejauhan, sirene pertama meraung. Asap naik di balik atap rumah, tebal dan tergesa, seolah seseorang baru saja menghapus tulisan dengan tangan kotor. Bau terbakar datang terlambat, dibawa angin basah: plastik, obat, kertas, sesuatu yang membuat tenggorokannya menutup.
Di samping becak, tubuh laki-laki itu tergeletak setengah tertutup jas hujan. Tas kurir menempel di dadanya. Sekar Wibawa berlutut.
“Dengar saya?”
Mata laki-laki itu membuka sedikit. Darah keluar dari sudut mulutnya, bercampur air hujan. Ia tampak muda ketika kesakitan membuat wajahnya kehilangan semua usaha untuk terlihat berani.
“Jangan… klinik,” katanya.
Sekar Wibawa mencari ponsel di kantongnya. “Saya panggil bantuan.”
Tangannya yang dingin menangkap pergelangan Sekar Wibawa, lemah tetapi mendesak. “Nama… Taufan Nugroho.”
“Baik. Diam dulu.”
“Tidak. Dengarkan.” Napasnya patah-patah. “Kosim Badar…”
Sekar Wibawa mendekat.
Taufan Nugroho memaksa kata-kata terakhir keluar, seolah setiap huruf digesek dari tulang. “Kosim Badar punya… buku besar.”
“Buku besar apa?”
“Rute.” Matanya bergerak ke bungkusan di dada Sekar Wibawa. “Bayi. Jangan… serahkan ke keluarga.”
“Di mana Kosim Badar?”
“Kampung… dekat rel…” Taufan Nugroho tersedak, lalu suaranya pecah menjadi bisik yang hampir kalah oleh hujan. “Ponsel… tas.”
Sekar Wibawa membuka tas kurir dengan tangan gemetar. Di balik plastik pelindung, ponsel retak menyala redup. Layar terakhir menampilkan gambar buram selembar buku bergaris: kolom tanggal, kolom rute, kolom klinik, kolom uang. Beberapa kata masih terbaca di antara noda air—“bayi perempuan”, “ambulans”, “dr. Bagas Prasetyo”, dan satu nama yang ditulis lebih tebal daripada yang lain: “Kosim Badar”.
“Taufan Nugroho,” bisik Sekar Wibawa. “Bertahan.”
Taufan Nugroho menarik pergelangan Sekar Wibawa sekali lagi, tetapi genggamannya sudah kehilangan arah. “Foto… halaman…”
Lalu jarinya lepas.
Sekar Wibawa berdiri dengan lutut basah dan tangan gemetar oleh dingin, bukan takut saja. Di belakangnya, klinik yang menyimpan sampel darahnya terbakar. Di depannya, pasar menunggu pagi pengosongan. Di bawah jaketnya, selempang masa kecil Vina Kartasasmita dan salinan karbon donor menekan tulang rusuknya seperti dua tuduhan yang belum menemukan hakim. Di ponsel Taufan Nugroho, satu halaman buram baru saja mengubah “buku besar” dari rumor menjadi pisau.
Ponselnya menyala.
Pesan baru dari nomor tak dikenal:
**Jika Taufan Nugroho sudah sampai padamu, mereka gagal membungkam semuanya. Bergerak ke utara. Jangan bawa bukti ke polisi biasa.**
Sekar Wibawa menatap api di kejauhan, lalu becak kosong di sisinya. Ia teringat suara Marni Rojali, suara Lukman Rojali, suara dokter yang tidak ia kenal, dan nama-nama yang malam ini muncul seperti luka lama dibuka paksa: Harun Wiratama, Fikri Pambudi, Kemal Darsono, Kosim Badar.
Selama ini orang lain memilihkan pintu untuknya. Pintu rumah. Pintu klinik. Pintu ruang jahit. Pintu yang dikunci dari luar.
Sekar Wibawa mengusap hujan dari wajahnya. “Baik,” katanya kepada malam yang basah dan jalan yang mulai penuh suara. “Sekarang giliranku memilih arah.”