Sebelum azan pertama—hari pengosongan tersisa tiga puluh hari—Pasar Batik Bantul masih seperti paru-paru tua: lembap, gelap, dan berbau malam yang belum selesai. Air menetes dari talang seng, satu-satu, jatuh ke ember penyok dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di lorong kosong. Kain-kain mori digantung di tali rafia, berayun pelan ketika angin sawah masuk lewat celah pintu kios, membawa bau tanah basah, daun pisang, dan asap dapur yang baru dinyalakan jauh di kampung belakang pasar.
Sekar Wibawa duduk di bawah lampu kuning, telunjuknya bernoda malam. Di pangkuannya terbentang kain pusaka Sembada—sobek di bagian pinggir, motif parang rusak terputus seperti luka yang sengaja dibuka kembali. Lilin panas dalam canting menguap tipis. Bau malam, getah, dan kain tua bercampur dengan bau kertas basah dari surat-surat pengosongan yang ditempel di setiap daun pintu.
“Jangan terlalu dekat apinya, Nduk,” kata seorang pedagang tua dari kios sebelah. Suaranya serak oleh usia dan semalam suntuk tidak tidur. “Itu kain orang besar. Kalau gosong, kita yang kecil ikut habis.”
Sekar tidak mengangkat kepala. Ujung cantingnya menahan napas di atas garis yang putus. “Kalau tidak disambung malam ini, robeknya melebar.”
“Seperti nasib pasar ini.”
Sekar berhenti sebentar. Di depan kios, kertas putih berkop perusahaan menampar-nampar pintu kayu: PEMBERITAHUAN PENGOSONGAN. Tiga puluh hari. Tanda tangan dingin. Bahasa sopan untuk mengusir orang yang lahir, makan, jatuh cinta, dan mati di lorong sempit itu.
“Bu, simpan dulu suratnya,” ujar Sekar. “Nanti basah, tintanya luntur.”
“Bagus kalau luntur.” Perempuan itu tertawa hambar, lalu batuk pelan. “Mungkin malaikat juga malas membaca.”
“Kalau malaikat malas, manusia harus lebih keras kepala.”
“Manusia lapar, Nduk. Keras kepala saja tidak mengenyangkan.”
Sekar menunduk lagi. Garis malam yang ia tarik tipis, nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk menahan serat kain agar tidak makin tercerai. “Setidaknya kain ini belum menyerah.”
Dari ujung lorong, suara sandal keras mendekat. Ritmenya cepat, menahan marah, diseret sedikit di kaki kanan. Sekar mengenali iramanya sebelum melihat wajahnya.
“Sekar.”
Marni Rojali berdiri dengan kebaya kusut dan kerudung yang dipasang tergesa. Bedaknya tidak rata di bawah mata, seperti seseorang yang sempat bercermin hanya untuk memastikan wajahnya masih bisa memerintah. Di belakangnya, Lukman Rojali memegangi helm, mata merah kurang tidur, bahunya jatuh seolah helm itu lebih berat daripada kepalanya sendiri.
Sekar menegakkan punggung. “Aku belum selesai.”
“Bawa tasmu.” Suara Marni pendek. “Sekarang.”
“Pasar belum buka. Kain ini harus diambil orang Sembada jam delapan.”
“Justru itu.” Marni melirik kain di pangkuan Sekar seolah benda itu bisa menggigit. “Kau ikut kami dulu.”
Lukman mendekat, lebih pelan. Sandalnya berhenti satu langkah dari genangan kecil di lantai semen. “Sekar, jangan bikin ramai.”
Sekar melihat dari satu wajah ke wajah lain. Marni yang tegang seperti benang ditarik terlalu kuat. Lukman yang tidak berani menatap lebih dari sedetik. “Ke mana?”
“Periksa darah,” jawab Marni.
Canting di tangan Sekar hampir menetes. Setitik malam jatuh di pinggir kain, membeku menjadi bintik hitam. “Untuk apa?”
Marni menahan rahang. “Untuk membayar nasi tiga puluh empat tahun.”
Pedagang tua di sebelah langsung diam. Di kios lain, dua perempuan yang sedang mengikat kain pura-pura sibuk, tapi simpul di tangan mereka berhenti bergerak.
Sekar meletakkan canting ke dudukannya. Logam kecil itu berdenting, suaranya tipis dan kering. “Aku tidak mengerti.”
“Kau mengerti kalau selama ini makan dari siapa?” Marni mendekat. Bau minyak kayu putih dan panik menempel di tubuhnya. “Kau mengerti utang di pasar ini atas nama siapa? Kalau aku bilang tanda tangan, kau tanda tangan.”
“Periksa darah bukan bayar utang.”
“Ini bukan cuma periksa,” kata Lukman lirih.
Sekar menatapnya. “Pak?”
Lukman menunduk. Jari-jarinya meremas tali helm sampai buku-bukunya memutih.
Marni menyambar pergelangan Sekar. “Vina Kartasasmita butuh donor jaringan. Diam-diam. Tidak boleh bocor. Orang-orang besar sudah mengurus.”
Nama itu jatuh seperti koin emas di lantai becek. Vina Kartasasmita—wajah di baliho yayasan, perempuan yang tersenyum di samping anak-anak sekolah, ahli waris kesayangan keluarga Sembada. Nama yang biasa menempel pada gedung baru, beasiswa, dan berita peresmian, bukan pada lorong pasar yang atapnya bocor.
Sekar menarik tangan. “Kenapa aku?”
“Karena cocok.”
“Siapa bilang?”
“Dokter.”
“Dokter mana?”
“Jangan banyak tanya.”
“Cocok untuk apa?” Sekar menajamkan suara. “Kalau cuma darah, mereka punya rumah sakit. Ini pasti bukan soal transfusi biasa.”
Lukman menelan ludah. “Katanya pemeriksaan kecocokan jaringan. Kalau hasilnya keluar, hubungan darah bisa ikut terbaca.”
Marni menoleh cepat. “Lukman.”
Sekar menatap mereka bergantian. Kalimat itu masuk perlahan, lebih dingin daripada gerimis subuh. Bukan sekadar tubuhnya yang mereka minta. Mereka meminta sesuatu yang bisa membuka silsilah.
Sekar tertawa sekali, pahit. “Aku bukan karung beras.”
Marni mencondongkan wajah. “Bukan. Karung beras lebih gampang dijual.”
“Marni,” Lukman menegur.
“Diam, Lukman.” Marni tidak menoleh. Matanya menancap pada Sekar. “Dengar baik-baik. Kalau kau menolak, besok pagi daftar utang semua perempuan di lorong ini pindah tangan. Bukan ke koperasi. Ke Bayu Cakrabuana.”
Suhu pasar seperti turun. Nama Bayu Cakrabuana membuat udara yang sudah lembap terasa berlumut di tenggorokan. Dua kios di ujung lorong bahkan sudah ditempeli cap merah kecil sejak kemarin malam; orang-orang bilang itu tanda anak buah Bayu Cakrabuana sudah menghitung barang yang akan disita sebelum pemiliknya sempat berdoa.
Pedagang tua di kios sebelah memegangi dadanya. “Marni Rojali…”
“Jangan ikut campur,” potong Marni.
“Utang kami bukan leher anak,” kata perempuan itu, tapi suaranya goyah.
Sekar menoleh. Wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil muncul di balik kain: takut, malu, memohon agar ia jangan jadi pahlawan kalau harga pahlawan itu rumah mereka. Ada perempuan yang dulu menyelipkan tempe goreng ketika Sekar pulang sekolah tanpa uang jajan. Ada penjual kain yang mengajarinya membedakan sogan tua dan sogan muda. Ada anak-anak yang masih tidur di bawah meja kios, tidak tahu nama mereka sedang ditukar dalam percakapan orang dewasa.
Sekar menutup mata sekejap. Di bawah kelopak, ia melihat kertas pengosongan itu mengepak seperti sayap burung bangkai.
“Kalau aku ikut,” katanya pelan, “utang mereka tidak dijual.”
Marni langsung menjawab, “Tidak.”
“Bersumpah.”
“Sekar—”
“Bersumpah di depan mereka.”
Marni menggertakkan gigi. “Aku bersumpah. Hari ini tidak kujual.”
“Bukan hari ini. Selama aku belum dengar sendiri dari mereka bahwa utangnya lunas.”
Lukman mengangkat kepala. Ada sesuatu seperti rasa sakit lewat di wajahnya, cepat dan licin, lalu hilang sebelum bisa dinamai. Matanya jatuh ke pergelangan tangan Sekar, ke bekas kulit yang dulu pernah dilingkari gelang bayi plastik kekecilan—gelang yang, bertahun-tahun lalu saat Sekar demam tinggi, hampir ia buang karena Sekar mengigau menyebut nama yang bukan pernah mereka ajarkan. Ia tidak membuangnya. Ia hanya menyembunyikannya. Dan sejak itu, ia belajar diam lebih lama daripada orang sehat seharusnya mampu.
Marni berkata, “Kau makin pintar melawan.”
“Aku belajar dari orang yang menagih bunga.”
Hening. Air dari talang menetes lagi. Satu. Dua. Tiga.
Lalu Marni mencengkeram lengan Sekar. “Naik motor.”
Sekar melipat kain pusaka dengan tangan gemetar. Ia menyelipkan kertas minyak di antara lipatan, lebih hati-hati daripada saat ia menjaga tubuhnya sendiri. Pedagang tua menyentuh ujung jarinya.
“Nduk, jangan.”
Sekar memaksakan senyum. “Jaga malamnya, Bu. Jangan sampai mengeras.”
“Yang keras itu hati mereka.”
“Kalau hati bisa dicanting,” Sekar berbisik, “sudah kutambal duluan.”
Klinik pribadi itu berdiri di balik pagar tinggi, jauh dari jalan besar, dengan taman terlalu rapi untuk tempat orang sakit. Rumputnya dipangkas setinggi kuku, bunga-bunga putih berjajar seperti saksi yang sudah disuap untuk diam. Di lobi, lantainya licin dan dingin, memantulkan lampu plafon tanpa noda. Tapi di dalam ruang tindakan, Sekar mencium sesuatu yang tidak seharusnya ada: antiseptik yang menusuk hidung bercampur bau lilin panas, seperti pasar dibunuh lalu disemprot karbol.
Seorang perawat menyodorkan map. Wajahnya rapi, suaranya rata, matanya menghindari segala sesuatu yang bisa membuatnya tampak manusia. “Tanda tangan di sini.”
Sekar membaca sebelum menyentuh pena.
Marni mendesis, “Cepat.”
Sekar membalik halaman. “Tanggalnya mundur dua minggu.”
Perawat tidak berkedip. “Administrasi.”
“Kolom saksi kosong.”
“Nanti diisi.”
“Stempelnya tidak ada.”
“Sudah prosedur internal.”
Sekar menatapnya. “Persetujuan donor jaringan tanpa saksi, bertanggal palsu, dan penerima tidak disebut jelas. Ini bukan prosedur. Ini lubang kubur.”
Marni mencubit lengannya dari samping. Rasa sakitnya tajam, kecil, hina. “Tanda tangan.”
Lukman berdiri dekat pintu, pucat. Ia seperti ingin berada di ruangan lain, di hidup lain, tapi kakinya dipaku di sana. “Sekar, lakukan saja. Setelah ini selesai.”
“Apa yang selesai, Pak?”
Lukman membuka mulut, lalu menutupnya.
Dari balik kaca gelap di dinding, Sekar merasakan tatapan. Kaca itu memantulkan tubuhnya: kurus, blouse murah, rambut diikat asal, bekas malam di telunjuk yang tidak sempat dibersihkan. Namun di balik pantulan ada bayang perempuan duduk di kursi roda, mengenakan syal sutra dan kacamata hitam meski ruangan remang.
Sekar melangkah mendekat.
Perawat menahan. “Tidak boleh ke sana.”
“Dia di sana, kan?”
Tidak ada jawaban.
Sekar mengangkat suara. “Vina Kartasasmita.”
Bayangan di balik kaca bergerak.
Marni memucat. “Jangan sebut nama.”
“Kenapa? Publik tidak boleh tahu putri yayasan sakit?”
Sebuah speaker kecil di sudut langit-langit berdesis. Lalu suara perempuan muncul, halus tetapi retak, seperti porselen mahal yang sudah pernah jatuh.
“Biarkan dia tanda tangan setelah membaca.”
Marni menoleh tajam ke kaca. “Nona Vina—”
“Aku bilang biarkan.”
Sekar menatap kaca gelap itu. “Kau tahu formulir ini ilegal?”
Diam sejenak. Mesin pendingin berdengung di atas kepala, terlalu tenang untuk ruangan yang penuh kebohongan.
“Aku tahu banyak hal dibuat legal kalau keluarga menginginkannya,” jawab Vina Kartasasmita.
“Dan kau ingin jaringanku?”
“Aku ingin tetap hidup.”
Kata-kata itu tidak angkuh. Justru karena itu, Sekar lebih marah. Lebih sulit membenci orang yang terdengar takut.
“Dengan tanda tangan curian?”
“Aku tidak mencurinya.”
“Orang tuaku menyeretku sebelum subuh.”
Marni menyela, “Kami membesarkanmu!”
Sekar berbalik. “Membesarkan anak bukan kuitansi.”
Marni menampar meja. Map bergetar, pena bergulir sampai menyentuh tepi. “Kau hidup karena kami pungut!”
Lukman tiba-tiba berkata, “Cukup.”
Semua menoleh. Suaranya kecil, tapi pecah.
Marni membelalak. “Apa?”
Lukman menatap Sekar sebentar, lalu kembali menunduk. “Jangan bertengkar di sini.”
Sekar menangkap sesuatu yang disembunyikan dalam jeda itu. Bukan belas kasihan. Ketakutan. Bukan takut pada Marni. Takut pada sesuatu yang sudah lama disimpan dan kini mulai mengetuk dinding.
Perawat menyiapkan jarum. “Kami hanya ambil sampel darah hari ini. Pemeriksaan kecocokan lanjutan menyusul.”
“Jadi donor jaringan itu belum pasti?” tanya Sekar.
“Kalau cocok, jadwal tindakan ditentukan.”
“Kalau tidak cocok?”
Perawat menekan kapas ke lengan Sekar. “Tidak akan ada masalah.”
“Itu bukan jawaban.”
Dari speaker, Vina berkata pelan, “Kalau tidak cocok, kau pulang.”
Sekar menatap kaca. “Kau percaya itu?”
Tidak ada suara.
Jarum masuk. Rasa dingin dan nyeri merambat dari lipatan siku. Darah Sekar mengalir ke tabung kecil, merah gelap, terlalu nyata untuk semua kebohongan yang berputar di sekelilingnya. Ia memperhatikan cairan itu naik garis demi garis, dan untuk pertama kalinya darahnya terasa bukan miliknya, melainkan barang bukti.
Marni mengawasi tabung itu seperti melihat emas.
Sekar berkata, “Berapa mereka bayar?”
“Sekar,” Lukman berbisik.
“Berapa harga nasi tiga puluh empat tahun?”
Marni mengencangkan bibir. “Tidak semua hal soal uang.”
Sekar tertawa pelan. “Kalimat itu mahal. Biasanya cuma orang kaya yang sanggup mengucapkannya.”
Perawat mencabut jarum, menempelkan plester. Tabung darah itu langsung diberi dua label: satu kode pasien tanpa nama, satu stiker kecil bertuliskan pengiriman rantai dingin ke unit laboratorium dr. Rina Puspita. Di bawahnya ada kolom tanda tangan kurir yang masih kosong, dan jam pengambilan tercetak rapi: 07:16.
Sekar menatap angka itu. Semua yang gelap selalu punya jam kerja.
“Tunggu di luar,” kata perawat.
Sekar bangkit, agak limbung. Lantai putih bergeser sesaat di bawah kakinya. Saat map dibawa ke meja samping, ia melihat kertas karbon tipis terselip di bawah formulir utama. Perawat berbalik mengambil segel plastik untuk tabung.
Sekar tidak berpikir. Tangannya bergerak seperti saat menyelamatkan kain dari tetesan malam: cepat, tepat, tanpa napas. Selembar salinan karbon masuk ke balik blouse, dingin di kulit dadanya.
“Sekar,” Marni memanggil curiga.
“Aku pusing.”
“Jangan manja.”
Dari balik kaca, bayangan Vina mendekat. Untuk sesaat, kacamata hitamnya turun. Sekar melihat wajah pucat, bibir tanpa warna, dan mata seseorang yang sejak lahir diajari menerima sembah—lalu mendadak takut pada darah orang miskin. Di mata itu ada rasa bersalah yang belum tentu cukup kuat untuk menyelamatkan siapa pun.
Vina menekan tombol. “Sekar Wibawa.”
Sekar berhenti.
“Jika kau merasa dipaksa, katakan sekarang.”
Marni mendesis, “Dia tidak—”
“Aku tanya dia.”
Sekar memandangi kaca. Kalau ia berkata ya, utang pasar dijual. Kalau ia berkata tidak, kebohongan ini memakan bagian tubuhnya selanjutnya. Di belakangnya, napas Lukman terdengar berat. Di sampingnya, kuku Marni sudah siap mencengkeram lagi.
“Aku merasa semua orang di ruangan ini berbohong,” kata Sekar. “Termasuk kau.”
Vina menunduk. “Mungkin.”
“Maka simpan rasa terima kasihmu.”
“Aku tidak menawarkan itu.”
“Apa yang kau tawarkan?”
Jeda panjang. Lalu Vina berbisik, “Peringatan. Jangan kembali sendirian kalau mereka memanggilmu lagi.”
Marni menarik Sekar ke luar sebelum ia bisa menjawab.
Malam turun saat Sekar kembali ke pasar, kurang dari empat belas jam sejak ia duduk di bawah lampu kuning dengan canting dan kain pusaka di pangkuan. Bantul basah oleh gerimis halus. Lampu kios satu-satu menyala, seperti kunang-kunang yang keras kepala hidup di atas tanah yang sudah dijual. Air mengalir di sela paving, membawa serpihan daun, puntung rokok, dan tinta hitam dari surat pengosongan yang mulai luntur di bagian pinggir.
Di kios bumbu dekat pintu belakang, seorang perempuan sedang melepas cap merah dari tiang kayu sambil menangis marah. Cap itu bukan dari perusahaan pengembang; semua orang tahu bentuknya. Bayu Cakrabuana sudah mengirim tanda tanpa perlu datang sendiri.
Lengannya berdenyut. Plester di siku bernoda merah. Di balik blouse, salinan karbon menggesek kulitnya setiap kali ia menarik napas, seolah kertas itu ikut bernapas dan menuntut disembunyikan lebih dalam.
Pedagang tua menghampiri begitu melihatnya. “Nduk! Kau pucat.”
“Cuma darah sedikit.”
“Darah orang kecil selalu dibilang sedikit.” Perempuan itu menyentuh pipinya. Telapak tangannya kasar oleh malam dan sabun cuci. “Mereka ambil apa lagi?”
Sekar ingin menjawab: mungkin masa laluku. Mungkin masa depanku. Mungkin sesuatu yang belum punya nama.
Tapi ia hanya berkata, “Utang belum dijual.”
Perempuan itu menangis tanpa suara. Bahunya naik turun, tapi mulutnya terkunci, seperti pasar telah lama mengajarinya bahwa bahkan tangis pun bisa dijadikan alasan menagih.
Sekar masuk ke kiosnya. Kain pusaka Sembada masih terbentang. Lilin di wajan kecil sudah mengeras, permukaannya keruh seperti mata orang mati. Ia menyalakan kompor, menunggu malam meleleh lagi. Tangan kirinya gemetar ketika menyentuh sobekan kain.
Di serat mori tua itu, ada noda cokelat kecil yang tadi pagi ia kira bekas karat. Bentuknya tidak bulat, melainkan meresap mengikuti benang, seperti pernah diteteskan lalu disembunyikan oleh waktu. Sekarang, setelah melihat tabung darahnya sendiri, ia tidak yakin lagi.
Ia pernah percaya hidupnya sederhana: Marni Rojali yang galak, Lukman Rojali yang lebih banyak diam, tanggal lahir yang dirayakan dengan bubur merah putih, nama Sekar Wibawa yang ditulis Lukman di sampul buku sekolah dengan huruf miring jelek. Hal-hal kecil itu dulu cukup untuk disebut rumah. Malam ini semuanya terasa seperti kain yang dicelup terlalu lama: warnanya masih ada, tapi air di bawahnya sudah hitam.
Ponselnya bergetar.
Nomor Jakarta. Tidak tersimpan. Pesan masuk melalui aplikasi yang tidak pernah ia pasang. Ikonnya hitam polos, tanpa nama. Layar meminta sidik jari, lalu terbuka sendiri sebelum ia menyentuhnya.
Sekar menahan napas.
Pesannya pendek, huruf putih di latar hitam:
**Golongan darahmu mustahil untuk donor. Mungkin untuk ahli waris. Lari sebelum mereka menghapus sampelnya.**
Di bawah kalimat itu, ada satu baris kecil yang membuat tengkuknya dingin:
**Kode internal: ahli waris cadangan—jangan masuk arsip yayasan.**
Kompor mendesis. Lilin panas menggelembung, hampir tumpah.
Sekar membaca pesan itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Kata “ahli waris” terasa lebih tajam daripada jarum yang tadi menembus lengannya.
Di luar, surat pengosongan pada pintu kios mengepak diterpa angin malam. Di dalam, kain pusaka terbaring di mejanya dengan sobekan menganga, dan di bawah blouse-nya selembar formulir ilegal menempel pada kulit seperti akta lahir yang belum berani menyebut nama.
Ponsel bergetar lagi.
**Jangan percaya Marni Rojali. Jangan percaya Lukman Rojali. Jika kau ingin hidup, cari Kemal Darsono.**
Sekar mematikan kompor. Kali ini tangannya tidak gemetar.
Nama Kemal Darsono tidak asing. Ia pernah melihatnya di belakang foto lama yang disimpan Lukman dalam kotak rokok kosong, foto yang selalu buru-buru disembunyikan setiap kali Sekar masuk kamar. Dulu ia mengira itu nama teman kerja. Sekarang, huruf-huruf itu berdiri seperti pintu yang baru terbuka setengah.
Dari ujung lorong pasar, suara motor berhenti. Bukan satu. Tiga.
Pedagang tua berbisik dari balik tirai kain, “Nduk… ada orang.”
Sekar melipat salinan karbon, menyelipkannya ke dalam jahitan pinggang rok. Ia mengambil canting panas, menggenggamnya seperti pisau kecil berisi api. Panasnya merambat ke telapak, tapi ia tidak melepas.
“Bu,” katanya pelan, “matikan lampu.”
“Sekar, kau mau ke mana?”
Ke luar, bayangan laki-laki bergerak di antara shutter dan surat pengosongan, mencari kios yang masih bernapas. Suara sepatu mereka berhenti, maju, berhenti lagi. Seseorang menyentuh pintu kios sebelah. Kertas pengosongan berdesir seperti berbisik memberi tahu arah.
“Salinan karbonnya harus ketemu,” bisik salah satu laki-laki di luar. “Jangan sampai keluar dari pasar.”
Sekar menatap kain pusaka sekali lagi. Pada motif yang terputus, pada noda gelap yang mungkin darah, pada nama Sembada yang sejak pagi menindih dadanya seperti batu. Ia belum tahu apa bedanya kain pusaka, selempang, atau kebaya yang sering disebut orang Sembada dalam pesanan-pesanan rahasia mereka. Tapi malam ini ia mengerti satu hal: kain pusaka ini menyimpan darah, dan darahnya sendiri baru saja dijadikan kunci untuk pintu yang tidak pernah ia minta.
Lalu ia meniup lampu.
“Lari,” bisiknya, entah untuk dirinya sendiri atau untuk pasar yang membesarkannya. “Sekarang.”