Pintu menuju lobi utama mengayun dari dalam, dan gedung itu seketika berganti suara.
Bukan lagi lorong servis yang pendek, lembap, dan penuh derit roda troli, melainkan dengung manusia yang terkejut tetapi enggan menyingkir. Orang-orang berdasi berhenti di dekat meja keamanan. Beberapa investor dari lantai presentasi sudah turun lebih cepat melalui lift lain; wajah mereka masih membawa sisa perhitungan, tetapi jari-jari mereka sibuk mengirim potongan kejadian ke grup-grup yang lebih lapar daripada ruang rapat.
Ajun Komisaris Fikri Salim berjalan lebih cepat, seolah kecepatan bisa mengembalikan kendali yang baru saja direbut dari tangannya. Dua petugas di belakangnya membawa kantong bukti dan tablet pencatatan. Kurir pembawa paket, yang wajahnya pucat sejak tadi, digiring dari arah lift lain dengan tangan gemetar di dekat dada.
“Lewat pos keamanan,” kata Ajun Komisaris Fikri Salim kepada petugas gedung. “Bukan di tengah lobi.”
Petugas gedung tergagap membuka jalur samping. Namun sebelum rombongan sempat berbelok, suara kamera dari depan sudah menyambar seperti hujan batu kecil. Beberapa ponsel terangkat. Satu satpam mencoba menahan arus orang, tetapi arus itu hanya pecah lalu menyatu lagi di belakangnya.
Nadira Kusumadewi berhenti begitu melihat kurir pembawa paket itu.
“Dia ikut?” tanyanya.
Ajun Komisaris Fikri Salim menjawab tanpa memperlambat langkah, “Dia saksi pengantaran.”
“Dia juga bisa dijadikan kambing hitam.”
“Jangan mengarahkan penyidikan.”
Arga Prasetya berkata, “Kalau penyidikannya lurus, diarahkan fakta tidak akan sakit.”
Petugas yang memegang kantong bukti melirik Arga Prasetya dengan jengkel. Ajun Komisaris Fikri Salim menahan jawaban. Ada terlalu banyak mata di lobi untuk memperlihatkan watak aslinya.
Dari sisi resepsionis, Tia Arum muncul dengan langkah ringan yang tidak cocok dengan suasana. Ia tidak lagi berbicara sekeras di lantai atas; ia berbisik kepada perangkatnya, memilih kata seolah sedang menata pisau di atas meja.
“Ini dia,” ucapnya, cukup keras untuk didengar rombongan. “Nadira Kusumadewi turun bersama kepolisian setelah paket terkait kasus Tanjung Priok diamankan.”
Nadira Kusumadewi berbalik. “Aku belum ditetapkan sebagai apa pun.”
Tia Arum menurunkan perangkatnya beberapa senti. “Aku bilang bersama kepolisian.”
“Kamu menanam makna dengan jeda.”
“Publik yang menafsirkan.”
“Publik menafsirkan bahan yang kamu racik.”
Arga Prasetya bergerak ke samping Nadira Kusumadewi. “Simpan rekaman mentahnya.”
Tia Arum memandangnya dari ujung sepatu sampai wajah. “Kamu memberi instruksi media?”
“Saya memberi peringatan hukum.”
“Dari kurir?”
“Dari orang yang akan meminta salinan utuh begitu perlu.”
Tia Arum tertawa pendek, tetapi suaranya kehilangan sedikit kepastian. “Menarik. Kurir bisa bicara pasal.”
“Kurir bisa membaca jam pengiriman juga,” kata Arga Prasetya. “Dan jam pengiriman kadang lebih jujur daripada pembawa acara.”
Ajun Komisaris Fikri Salim memotong, “Cukup. Kita lanjut.”
“Ke mana?” tanya Nadira Kusumadewi.
“Ruang pemeriksaan sementara di pos keamanan gedung. Setelah itu kantor.”
“Saya minta pendamping hukum.”
“Kami hanya meminta keterangan awal.”
“Kalau begitu saya boleh menelepon.”
“Nanti.”
“Tidak. Sebelum saya duduk.”
Ajun Komisaris Fikri Salim berhenti. Ia mengukur situasi: orang-orang merekam, petugas gedung kebingungan, dan di pintu masuk lobi beberapa pengendara berjaket kurir berdiri terpisah, seolah hanya sedang menunggu pesanan.
Salah satu dari mereka perempuan, tubuh ramping, rambut diikat ketat di bawah helm setengah terbuka. Matanya tajam, tidak menunggu izin siapa pun untuk memahami keadaan.
Sari Mulyani.
Arga Prasetya mengenalinya sebelum ia mendekat, tetapi Sari Mulyani lebih dulu memberi isyarat kecil dengan dua jari ke arah ramp parkir. Bukan sapaan. Laporan. Di belakang pintu kaca sisi timur, dua rider lain sudah menahan daun pintu belakang dengan tubuh dan motor mereka, pura-pura menata tas pengiriman tetapi jelas menutup jalur keluar yang tidak resmi.
Ajun Komisaris Fikri Salim mengikuti arah pandang Arga Prasetya. “Siapa mereka?”
“Orang yang tahu rute,” jawab Arga Prasetya.
“Saya tidak menanyakan fungsi.”
“Kalau begitu pertanyaannya kurang berguna.”
Nadira Kusumadewi menahan Arga Prasetya dengan ucapan rendah. “Jangan pancing dia.”
“Saya belum memancing. Saya baru menggoyang airnya.”
“Arga Prasetya.”
Ia menoleh kepadanya.
“Jangan membuat aku harus memilih antara selamat dan percaya padamu setiap lima menit.”
Kalimat itu menghentikannya lebih cepat daripada perintah polisi. Untuk pertama kalinya sejak paket dibuka, wajah Arga Prasetya kehilangan satu lapis ketenangan. Ia mengangguk sekali.
“Baik.”
Nadira Kusumadewi menatapnya lebih lama. “Di lantai atas aku sudah menolak tim hukum Bagas Wicaksono karena aku akan memilih sendiri siapa yang berdiri di sampingku. Jangan buat pilihanku tampak bodoh.”
Arga Prasetya menerima kalimat itu tanpa membela diri. “Saya tidak akan.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menunjuk pos keamanan. “Lima menit telepon. Di sana. Di bawah pengawasan.”
Nadira Kusumadewi berjalan lebih dulu, dagunya tegak. Rombongan bergerak dari tengah lobi ke pos keamanan berdinding kaca buram di sisi kanan. Perubahan ruang itu membuat suara gedung berubah lagi: kamera tertahan di luar, bisik-bisik terpantul di kaca, bunyi radio satpam mendesis dari meja sempit.
Arga Prasetya hendak mengikuti, tetapi petugas menahan dengan lengan.
“Anda terpisah.”
“Status saya?”
“Saksi.”
“Saksi punya hak tahu barangnya dicatat.”
Petugas itu mendekat. “Jangan pintar.”
“Saya dibayar karena mengantar barang ke alamat benar,” jawab Arga Prasetya. “Hari ini seseorang memakai alamat salah untuk membunuh reputasi orang. Saya akan pintar sebanyak yang perlu.”
Salah satu satpam gedung tiba-tiba meraih ponsel Arga Prasetya. “Semua perangkat yang merekam diserahkan dulu.”
Gerakan itu terlalu cepat untuk orang yang hanya menjalankan prosedur. Arga Prasetya memutar pergelangan tangannya, membuat tangan satpam itu menangkap udara. Ponsel aman sudah berpindah ke sisi dalam jaket.
“Jangan sentuh barang pribadi tanpa daftar sita,” katanya datar.
Satpam itu tersipu marah. Petugas polisi maju setengah langkah. Di luar kaca, Sari Mulyani mengangkat dagu. Dua rider di pintu belakang langsung menutup celah lebih rapat, seolah hanya menggeser motor, tetapi kini siapa pun yang hendak membawa seseorang keluar lewat akses servis harus melewati mereka.
Ajun Komisaris Fikri Salim melihat semuanya. Matanya menyipit.
“Lewat lobi utama,” katanya mendadak kepada petugas. “Jangan lewat koridor belakang. Terlalu ramai.”
Petugasnya ragu. “Pak, tadi pos—”
“Saya bilang lewat lobi utama setelah pencatatan awal.”
Arga Prasetya menangkap perubahan itu. Fikri Salim baru saja kehilangan rute samping karena Sari Mulyani menutupnya.
Ajun Komisaris Fikri Salim menoleh kepadanya. “Perlihatkan label pengiriman itu kepadanya. Sebentar. Setelah itu ambil lagi.”
Petugas membuka plastik luar dari kantong bukti tanpa mengeluarkan benda utama. Waybill digital yang tercetak di sisi label sudah dilindungi lembar transparan. Arga Prasetya merunduk untuk membaca dari jarak yang diizinkan.
Nadira Kusumadewi belum masuk pos keamanan; ia memperhatikan dari pintu. “Apa yang kamu lihat?”
Arga Prasetya tidak segera menjawab. Matanya bergerak cepat menyisir angka, titik koordinat, kode vendor, rute pickup, dan tanda tangan sistem.
Ada tiga data yang membuat tengkuknya dingin.
Bukan karena canggih.
Justru karena ceroboh dengan cara yang sengaja.
“Arga,” panggil Nadira Kusumadewi.
Ia berkata perlahan, “Ada tiga titik yang dipalsukan dari API publik.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menyela, “Bahasa sederhana.”
“Koordinat pickup dekat Priok memakai format lama. Signature vendor mengambil hash demo, bukan produksi. Timestamp request memakai zona waktu server mirror, bukan server transaksi.”
Petugas yang memegang kantong bukti tidak memahami semuanya, tetapi ia memahami nada suara Arga Prasetya. “Artinya?”
“Artinya seseorang mengambil data terbuka dari platform logistik saya, menempelkannya ke dokumen palsu, lalu sengaja meninggalkan bekas yang bisa ditemukan.”
Nadira Kusumadewi mendekat satu langkah. “Untuk menuduhku?”
“Untuk menuduh kamu melalui sistem vendor. Dan menuduh saya sebagai pengirim.”
Ajun Komisaris Fikri Salim mencatat sesuatu di ponselnya. “Platform logistik Anda?”
Arga Prasetya diam setengah detik. Nadira Kusumadewi menangkap jeda itu seperti menangkap ujung kain yang terbakar.
“Kamu bilang platform logistik kamu,” katanya.
“Saya punya akses.”
“Itu bukan jawaban.”
“Bukan untuk lobi.”
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Justru bagus dibahas di kantor.”
Arga Prasetya menyahut, “Kalau Anda ingin membahas API, bawa ahli digital forensik yang tidak menerima telepon dari orang di lantai atas.”
Ajun Komisaris Fikri Salim mendekat, suaranya turun. “Hati-hati menuduh aparat.”
Arga Prasetya menjawab dengan volume cukup untuk orang sekitar, “Saya hati-hati. Itu sebabnya saya menyebut prosedur.”
Dari arah eskalator, suara Bagas Wicaksono terdengar sebelum tubuhnya muncul.
“Nadira.”
Ia datang dengan jaket jas tersampir di lengan, ponsel menempel di telinga. Wajahnya tidak lagi seutuh tadi di ruang presentasi; ada garis kecil di sekitar mulutnya, seperti seseorang baru menggigit bagian dalam pipi karena kabar buruk. Ia memutus panggilan tanpa pamit.
“Bagas Wicaksono,” kata Ajun Komisaris Fikri Salim, seolah menyebut nama tamu penting.
Bagas Wicaksono tidak menyahut. Ia langsung menuju Nadira Kusumadewi. “Aku sudah bicara dengan beberapa orang. Ini bisa diredam.”
Nadira Kusumadewi menertawakannya tanpa kegembiraan. “Kamu cepat sekali menemukan pemadam untuk api yang kamu bantu nyalakan.”
“Aku mengerti kamu marah.”
“Tidak. Kamu mengerti aku terpojok.”
Bagas Wicaksono menoleh ke petugas, lalu kembali merendahkan suara. “Dengar aku dua menit. Setelah itu kamu boleh benci aku seharian.”
Arga Prasetya menyisip, “Ia sudah penuh jadwal.”
Bagas Wicaksono akhirnya menghadapnya. “Kamu masih di sini?”
“Barang kiriman belum sampai tujuan.”
“Yang satu sudah diamankan polisi.”
“Bukan itu paketnya.”
Ketegangan melintas di wajah Bagas Wicaksono, sangat cepat, tetapi Arga Prasetya menangkapnya. Nadira Kusumadewi juga.
Bagas Wicaksono memulihkan nada. “Aku tidak punya waktu untuk sandiwara kurir.”
“Bagus,” kata Nadira Kusumadewi. “Aku juga tidak punya waktu untuk sandiwara penyelamat.”
Bagas Wicaksono mendekat kepadanya, cukup dekat untuk membuat percakapan tampak pribadi di tengah kerumunan. “Kontrol sementara. Itu saja. Serahkan pengelolaan tanah workshop ke perusahaanku selama krisis. Aku bisa bicara dengan investor, tekan media, siapkan pengacara, pastikan polisi tidak mempermalukan kamu lebih jauh.”
Nadira Kusumadewi berkata, “Kamu menawarkan rantai dengan bantalan beludru.”
“Aku menawarkan perlindungan.”
“Dari siapa?”
“Dari pasar. Dari opini. Dari orang-orang yang akan membuat label melekat seumur hidup.”
Kata-kata itu baru saja keluar ketika ponsel Tia Arum di dekat meja resepsionis mengeluarkan notifikasi beruntun. Ia menoleh, membaca, dan wajahnya berubah: bukan terkejut, melainkan menemukan judul yang lebih tajam.
Arga Prasetya melihat arah pesan yang dipantulkan dari layar perangkat Tia Arum cukup untuk menangkap frasa pertama.
Murder-package heiress.
Ia menatap Bagas Wicaksono. “Cepat sekali pasar bekerja.”
Bagas Wicaksono berkata, “Aku tidak mengendalikan semua akun.”
“Tidak perlu semua. Cukup yang pertama.”
Nadira Kusumadewi meminta, “Tia Arum. Baca keras-keras apa yang masuk.”
Tia Arum pura-pura tidak dengar.
Nadira Kusumadewi mengeras. “Baca.”
Tia Arum menghela napas pendek. “Beberapa akun media mengambil potongan kejadian. Mereka menyebut—”
“Lengkap.”
“Mereka menyebutmu ‘murder-package heiress’.”
Hening yang jatuh sesaat bukan hening; ia penuh notifikasi yang berdetak dari banyak ponsel.
Nadira Kusumadewi berbalik kepada Bagas Wicaksono. “Kamu bahkan sudah menyiapkan bahasa Inggrisnya.”
Bagas Wicaksono menampakkan sakit hati yang indah dilatih. “Tuduhanmu makin liar.”
“Lucu. Fitnahku liar, fitnah mereka rapi.”
Arga Prasetya berkata, “Siapa yang pertama unggah?”
Tia Arum menahan perangkatnya. “Aku bukan timmu.”
“Bukan. Kamu saksi penyebaran.”
Ajun Komisaris Fikri Salim memotong, “Urusan media bukan prioritas kami.”
“Bagi orang yang sedang difitnah, itu bagian dari senjata,” kata Nadira Kusumadewi.
Bagas Wicaksono berkata, “Makanya biarkan aku mengurus.”
“Dengan syarat tanah workshop.”
“Dengan mandat sementara.”
“Nama lain dari kunci yang kamu bawa pulang.”
Ponsel Bagas Wicaksono kembali bergetar. Ia melihat sebentar, dan untuk pertama kali, ia tampak tidak menyukai angka di sana.
Arga Prasetya memperhatikan perubahan itu. Perintah freeze sudah mulai menggigit.
Bagas Wicaksono menekan layar cepat. “Bimo Hartanto, aku bilang jangan pakai akun itu.” Ia memunggungi mereka setengah badan, tetapi kalimat berikutnya terdengar jelas. “Apa maksudnya transfer ditolak? Pakai jalur cadangan.”
Lalu layar ponselnya menyala lagi dengan notifikasi pendek yang tidak sempat ia sembunyikan.
`ESCROW BRIDGE FAILED`
`SECONDARY TRANSFER REJECTED`
Bagas Wicaksono kehilangan kendali selama satu detik. Tangannya mengencang sampai buku jarinya memutih, dan ia hampir melempar ponsel itu ke meja resepsionis sebelum sadar puluhan kamera masih mengarah ke wajahnya. Ia menarik napas tajam, memasang kembali senyum, tetapi retak kecilnya sudah terlihat.
Arga Prasetya tidak perlu tersenyum. Nadira Kusumadewi mendengarnya dan berpaling kepada Arga Prasetya dengan pertanyaan yang belum bisa ia ucapkan.
Bagas Wicaksono menyadari ia terdengar. Ia memutus panggilan.
“Ada masalah?” tanya Arga Prasetya.
“Urus bisnismu sendiri.”
“Saya baru saja melakukannya.”
Seolah dipanggil oleh kekacauan itu, keributan muncul dari pintu masuk utama.
Ratna Handayani menerobos petugas keamanan dengan tas tangan menggantung di siku. Kain mahal di bahunya agak miring, napasnya pendek, matanya merah bukan karena menangis, melainkan karena takut dipermalukan di hadapan orang yang ia anggap lebih tinggi. Ia melihat Nadira Kusumadewi, lalu melihat Bagas Wicaksono, lalu Arga Prasetya.
Ia berjalan lurus ke Arga Prasetya.
“Bu—” Nadira Kusumadewi mulai.
Tamparan Ratna Handayani mendarat keras di pipi Arga Prasetya.
Suara itu membuat beberapa orang di sekitar menoleh serempak. Arga Prasetya tidak membalas. Kepalanya hanya bergeser sedikit, lalu kembali.
Ratna Handayani mengguncang tasnya seakan tas itu bisa menunjuk. “Ini semua karena kamu!”
Nadira Kusumadewi maju. “Ibu!”
“Diam, Nadira Kusumadewi. Kamu juga! Kamu bawa laki-laki ini ke rumah, kamu biarkan dia jadi bayangan di dapur, di bengkel, di hidupmu, dan lihat apa yang dia antar hari ini.”
Arga Prasetya berkata tenang, “Saya tidak mengirim paket itu.”
Ratna Handayani menatapnya seperti ia baru bicara dalam bahasa asing. “Kamu kurir. Paket datang dengan namamu. Apa lagi yang perlu dijelaskan?”
“Banyak.”
“Banyak alasan, maksudmu.”
Nadira Kusumadewi memegang lengan ibunya. “Ibu, dengar aku. Ada orang yang menukar pengiriman. Ada data yang dipalsukan.”
Ratna Handayani menarik lengannya. “Selalu ada orang lain. Selalu ada cerita besar. Yang orang lihat apa? Mereka lihat namamu, nama keluarga kita, nama almarhum ayahmu, diseret ke kasus mayat di pelabuhan.”
Nadira Kusumadewi tersentak pada kata terakhir. “Jangan bawa ayah seperti itu.”
“Aku yang menahan wajahku di arisan ketika mereka tanya kenapa menantuku masih antar paket. Aku yang menjawab saat mereka tertawa di belakang. Aku yang menelan malu waktu Laras Wicaksono bilang keluarga kita harus diselamatkan dengan koneksi yang benar.”
Bagas Wicaksono mengambil celah dengan suara lembut yang dibuat bagi seorang ibu. “Ratna Handayani, saya bisa bantu. Saya tadi sudah menawarkan—”
Ratna Handayani langsung menghadapnya. “Bagas Wicaksono, kamu bantu. Tolong bantu. Jangan biarkan Nadira Kusumadewi dibawa seperti penjahat.”
Nadira Kusumadewi menegang. “Ibu, jangan minta apa pun dari dia.”
Ratna Handayani berbalik, hampir memohon dan memarahi sekaligus. “Kamu tidak mengerti cara dunia bekerja.”
“Aku baru saja melihat caranya.”
“Yang kamu lihat hanya harga diri. Aku melihat akibatnya.”
Bagas Wicaksono berkata, “Tidak perlu bertengkar. Mandat sementara atas lahan workshop cukup untuk menunjukkan kepada investor bahwa aset dikelola pihak stabil. Itu bisa menurunkan tekanan.”
Arga Prasetya menyela, “Itu tidak menurunkan tekanan. Itu memindahkan kepemilikan de facto.”
Ratna Handayani menunjuk wajahnya. “Kamu jangan bicara soal kepemilikan. Kamu masuk keluarga ini tanpa membawa apa-apa.”
Nadira Kusumadewi berkata tajam, “Ia suamiku.”
Kata itu tidak keluar seperti pembelaan kosong. Ia keluar seperti pintu yang akhirnya dikunci dari dalam. Nadira Kusumadewi menatap ibunya, lalu Bagas Wicaksono, lalu semua kamera yang menunggu ia malu. “Aku yang memilih siapa berdiri di sampingku. Dan hari ini kalian semua sedang memintaku memilih sisi.”
“Suami macam apa membiarkan istrinya digiring polisi?” Ratna Handayani membalas.
Arga Prasetya menjawab sebelum Nadira Kusumadewi. “Suami yang memastikan mobilnya resmi, rutenya tercatat, dan buktinya tidak hilang.”
Sari Mulyani mendekat dari sisi lobi. Helmnya ia jepit di pinggang. Ia tidak minta izin pada polisi, tidak pada Bagas Wicaksono, tidak pada gedung.
“Kalau mau nama bersih,” katanya, “mulai dari rute barang.”
Ratna Handayani menoleh kesal. “Siapa kamu?”
“Sari Mulyani.”
“Temannya dia?”
“Kapten yang tahu anak buah mana berbohong dan paket mana dibajak.”
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Anda tidak berwenang masuk percakapan.”
Sari Mulyani menatapnya langsung. “Saya punya tiga rider di loading dock, dua rekaman jalur Semanggi, dan satu saksi yang lihat orang Bagas Wicaksono memotong pengiriman asli.”
Bagas Wicaksono berubah dingin. “Hati-hati.”
Sari Mulyani mendekat setengah langkah. “Saya hati-hati sejak adik saya masuk penjara karena bukti yang tiba-tiba ‘ditemukan’. Jangan ajari saya mengeja jebakan.”
Arga Prasetya berkata rendah, “Sari Mulyani.”
Ia menoleh kepadanya. Selama sepersekian waktu, ekspresinya berganti: dari kapten jalanan menjadi orang yang mengenali panglima yang lama pura-pura mengendarai motor tua.
“Arga Prasetya,” ucapnya. “Akhirnya kamu berhenti main miskin-miskinan?”
Beberapa kepala menoleh.
Nadira Kusumadewi menatap Arga Prasetya. “Apa maksudnya?”
Arga Prasetya tidak mengalihkan wajah. “Nanti.”
“Nanti sudah penuh sejak tadi.”
Sari Mulyani menyadari ia membuka terlalu banyak di tempat salah. Namun ia tidak menarik kata. “Aku tidak peduli urusan rumah tangga kalian. Yang penting: paket asli tidak sampai sini. Anak buahku lihat mobil Yudha Pramana berhenti dekat Semanggi. Ada tas kontainer kecil pindah dari van legal ke SUV. Kurir yang naik ke gedung ini cuma bawa boks pengganti dari titik drop.”
Bagas Wicaksono berkata, “Fitnah.”
Sari Mulyani menjawab, “Kamu selalu suka kata pendek untuk dosa panjang.”
Sari Mulyani mengeluarkan ponsel, memutar video tanpa menyerahkannya. Dari layar terdengar suara jalan, klakson terputus, lalu gambar berguncang menunjukkan kendaraan berhenti di bahu jalan. Sosok Yudha Pramana terlihat sebagian, cukup untuk dikenali orang yang pernah bertemu dengannya, sedang memberi instruksi kepada seseorang dengan rompi pengiriman. Sebuah paket berpindah tangan.
Seorang petugas bergerak hendak merebut ponsel itu.
Sari Mulyani menarik tangan ke belakang, memutar helm dengan tangan lain. “Sekali lagi kamu sentuh, yang pecah bukan ponsel.”
“Serahkan bukti itu,” kata Ajun Komisaris Fikri Salim.
“Ke penyidik bersih.”
“Saya penyidik di lokasi.”
“Kalau begitu lokasi sedang kekurangan penyidik bersih.”
Petugas maju. Arga Prasetya menempatkan dirinya di antara mereka dan Sari Mulyani tanpa gerakan teatrikal. Cukup hadir, cukup menghalangi.
Ajun Komisaris Fikri Salim memandang Arga Prasetya. “Anda menghalangi tugas.”
“Saya menjaga saksi tambahan agar tidak ikut lenyap.”
“Kata-kata Anda makin berat.”
“Karena barang bukti makin banyak.”
Nadira Kusumadewi mendekat. “Itu paket asliku?”
“Belum tahu,” kata Sari Mulyani. “Tapi waktunya cocok dengan order hantu. Dan setelah itu, label atas namamu muncul di sistem liar.”
Arga Prasetya bertanya, “Siapa rider yang ambil video?”
“Joko Santoso melihat dari seberang. Hampir ditabrak waktu mengikuti SUV.”
“Di mana dia?”
“Disembunyikan. Lututnya bocor, tapi mulutnya masih tajam.”
Bagas Wicaksono berkata kepada Ratna Handayani, “Lihat? Inilah yang saya maksud. Nadira Kusumadewi dikelilingi orang jalanan yang menyeretnya makin dalam.”
Ratna Handayani memandang Sari Mulyani dengan curiga, lalu Arga Prasetya dengan kemarahan yang sudah menemukan rumah. “Kamu bawa semua ini ke keluarga kami.”
Arga Prasetya berkata, “Keluarga ini sudah diburu sebelum saya datang.”
“Jangan sok tahu tentang keluarga saya.”
Nadira Kusumadewi menyela, suaranya bergetar tetapi tidak pecah. “Cukup, Ibu. Kalau Ibu percaya Bagas Wicaksono lebih dari aku, bilang saja.”
Ratna Handayani seperti ditampar balik oleh kalimat itu. “Aku percaya orang yang bisa menyelamatkanmu.”
“Selamat versi siapa? Versi arisan? Versi orang yang menukar workshop ayah dengan undangan makan malam?”
Ratna Handayani membuka mulut, lalu menutupnya. Nama Haji Mahendra Kusumadewi yang tak terucap berdiri di antara mereka.
Bagas Wicaksono mengambil kesempatan lagi. “Nadira Kusumadewi, ayahmu membangun workshop itu supaya kamu punya masa depan. Jangan biarkan sentimentalisme menghancurkannya.”
Nadira Kusumadewi berbalik kepadanya. “Jangan sebut ayahku untuk membungkus transaksi.”
“Dia juga pebisnis.”
“Dia tidak menjual orang yang sedang berdiri di sebelahnya.”
Sari Mulyani menoleh kepada Nadira Kusumadewi. “Anak buahku di loading dock bilang ada satu paket pendingin kecil yang harusnya ke workshop Nadira Kusumadewi. Labelnya hilang. Benda itu tidak ikut SUV.”
Nadira Kusumadewi menegang. “Pendingin kecil? Kami memang menunggu sampel pelapis nabati dari pemasok.”
Arga Prasetya bertanya, “Di mana?”
“Terakhir di area bongkar B2. Setelah polisi naik, sistem gedung menutup akses barang. Kalau mereka sempat ambil, kita kehilangan pembanding.”
Nadira Kusumadewi berkata, “Pembanding apa?”
“Bau rute,” jawab Sari Mulyani.
Ratna Handayani mengernyit. “Bau?”
Sari Mulyani berkata, “Setiap pengiriman punya jejak: suhu, waktu jeda, siapa yang pegang, titik mati GPS. Paket asli bisa membuktikan paket palsu datang dari rantai berbeda.”
Arga Prasetya menambahkan, “Kalau waybill palsu memakai tiga data dari API publik, paket asli bisa menunjukkan data internal yang tidak mereka punya.”
Nadira Kusumadewi memandangnya. “Kamu bisa bedakan?”
“Ya.”
“Karena itu platformmu?”
Arga Prasetya diam.
Nadira Kusumadewi berkata lebih pelan, “Aku akan ikut polisi. Kamu cari paket asli.”
Ajun Komisaris Fikri Salim langsung menolak. “Tidak ada yang bergerak ke loading dock.”
“Saya saksi, bukan tahanan,” kata Arga Prasetya.
“Anda ikut dimintai keterangan.”
“Saya akan hadir setelah memastikan barang milik istri saya tidak dicuri di gedung ini.”
Ajun Komisaris Fikri Salim memberi isyarat pada petugas. “Borgol bila perlu.”
Nadira Kusumadewi maju di antara mereka. “Coba.”
Satu kata itu membuat petugas berhenti. Bukan karena takut pada tubuh Nadira Kusumadewi, melainkan karena semua perangkat di sekitar seketika naik lagi. Tia Arum bahkan lupa menyembunyikan minatnya.
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Anda ingin membuat ini makin buruk?”
Nadira Kusumadewi menjawab, “Buruknya sudah disiarkan. Setidaknya biarkan kebenaran ikut punya dokumentasi.”
Ratna Handayani memegang bahu putrinya. “Nadira Kusumadewi, jangan melawan polisi.”
“Aku tidak melawan. Aku meminta prosedur.”
“Prosedur tidak akan menenangkan orang-orang yang menertawakan kita.”
“Kalau kita selalu hidup untuk menenangkan mereka, kita tidak punya hidup.”
Ratna Handayani menatap putrinya seolah baru melihat orang asing. “Kamu berubah.”
“Tidak. Aku baru berhenti meminta izin untuk tetap utuh.”
Pada saat itu, Surya Hadinata menelepon ponsel aman Arga Prasetya. Nama itu muncul tanpa nada, hanya getaran pendek yang terasa di tulang. Arga Prasetya tidak mengangkat di depan mereka. Ia menolak panggilan dan menerima pesan berikutnya.
`FIRST FREEZE SUCCESSFUL`
`BIMO HARTANTO: ESCROW ACCESS DENIED`
`PORT NODE REQUESTING WAYBILL SAMPLE`
Ia mengunci layar.
Nadira Kusumadewi melihat cahaya singkat itu di wajahnya. “Kamu mendapatkan kabar.”
“Ya.”
“Baik atau buruk?”
“Berguna.”
“Itu bukan jawaban yang membuat istrimu tenang.”
“Kalau saya bilang baik, kamu akan menuntut detail. Kalau saya bilang buruk, kamu akan tetap menuntut detail.”
“Karena aku tidak bodoh.”
“Saya tahu.”
“Kalau tahu, berhenti memperlakukanku seperti orang yang hanya perlu dilindungi.”
Kalimat itu memukul lebih dalam daripada tamparan Ratna Handayani. Arga Prasetya merapatkan tas selempangnya. “Saya cari paket asli. Sari Mulyani bantu. Kamu jangan tanda tangan apa pun.”
Nadira Kusumadewi berkata, “Aku sudah bosan mendengar itu, tapi kali ini akan kupatuhi.”
Ratna Handayani menyela, “Kalau Bagas Wicaksono membawa dokumen yang bisa menolong—”
“Ibu,” kata Nadira Kusumadewi, “kalau Ibu menyodorkan kertas dari Bagas Wicaksono kepadaku hari ini, aku akan menganggap Ibu memilih dia.”
Ratna Handayani terdiam. Matanya basah, tetapi amarah masih menahan air itu agar tidak jatuh.
Ajun Komisaris Fikri Salim memberi perintah kepada dua petugas. “Bawa Nadira Kusumadewi ke pos. Kita mulai berita acara awal. Setelah itu lewat lobi, bukan akses belakang.”
Sari Mulyani mendengar perubahan rute itu. Ia mengirim isyarat pendek ke rider di pintu timur. Mereka tidak bubar. Mereka hanya bergeser, menjaga agar setiap pintu punya mata.
Nadira Kusumadewi menghadap Arga Prasetya. “Berapa lama?”
“Sepuluh menit untuk turun ke B2. Lima untuk cek titik bongkar. Kalau paketnya masih ada, saya kirim foto data internal. Kalau tidak—”
“Kalau tidak?”
“Saya kejar orang yang membawa.”
“Sari Mulyani?” Nadira Kusumadewi bertanya tanpa mengalihkan pandang dari Arga Prasetya.
Sari Mulyani menjawab, “Aku ikut dia. Bukan karena dia manis, tapi karena dia sering lupa tubuhnya bisa rusak.”
“Pastikan dia kembali.”
“Dia bukan barang yang bisa kujamin.”
“Kalau begitu ancam dia.”
Sari Mulyani melirik Arga Prasetya. “Itu bisa.”
Arga Prasetya berkata, “Kalian selesai?”
Nadira Kusumadewi mendekat satu langkah, cukup dekat hingga suaranya hanya terdengar oleh Arga Prasetya. “Belum. Kamu pulang dengan jawaban.”
“Saya pulang dengan bukti dulu.”
“Bukti tanpa jawaban juga bisa jadi kebohongan.”
Ia mengangguk. “Saya mengerti.”
“Tidak. Kamu baru mencatat. Mengerti nanti, kalau kamu benar-benar bicara.”
Petugas membawa Nadira Kusumadewi ke pos keamanan. Ratna Handayani hendak mengikuti, tetapi Ajun Komisaris Fikri Salim menahannya.
“Keluarga menunggu di luar.”
“Saya ibunya.”
“Justru itu. Keterangan awal tanpa intervensi.”
Ratna Handayani menatap Arga Prasetya lagi, kebencian dan kepanikan berdesakan. “Kalau sesuatu terjadi pada anak saya—”
“Saya akan cegah.”
“Kamu sudah gagal.”
Arga Prasetya menerima kata itu tanpa membela diri. “Mungkin. Tapi belum selesai.”
Ratna Handayani menggenggam tasnya kuat-kuat. “Aku memberi kamu amplop pagi ini supaya kamu pergi baik-baik.”
Arga Prasetya terdiam.
Nadira Kusumadewi, yang hampir masuk pos, menoleh tajam. “Amplop apa?”
Ratna Handayani tampak menyesal telah mengucapkannya, tetapi kesombongan menutupinya. “Urusan rumah tangga.”
Nadira Kusumadewi menatap Arga Prasetya. “Kamu membawa sesuatu dari ibuku?”
Arga Prasetya menyentuh sisi dalam tas selempang. Amplop itu masih ada, terlipat rapi seperti keputusan yang belum dibacakan.
“Ya.”
“Isinya?”
Ratna Handayani berkata cepat, “Tidak penting.”
Nadira Kusumadewi tidak berpaling dari Arga Prasetya. “Isinya?”
“Saya belum buka,” jawab Arga Prasetya.
Ratna Handayani mengeluarkan suara mengejek. “Pengecut pun kadang sabar.”
Nadira Kusumadewi berkata, “Buka.”
Arga Prasetya memandang pos keamanan, polisi, Bagas Wicaksono, Sari Mulyani, Tia Arum, semua orang yang sedang menunggu sesuatu pecah.
“Bukan di sini.”
“Kenapa?”
“Karena kalau isinya yang saya kira, itu urusan kita. Kalau isinya bukan yang saya kira, mungkin ini urusan perang.”
Ratna Handayani kebingungan sesaat. “Apa maksudmu?”
Arga Prasetya tidak menjawab. Ajun Komisaris Fikri Salim mendorong proses. Nadira Kusumadewi akhirnya masuk pos keamanan, tetapi matanya masih membawa perintah yang belum gugur.
Sari Mulyani menepuk lengan Arga Prasetya dengan punggung jarinya. “B2.”
Arga Prasetya bergerak ke arah akses samping. Bagas Wicaksono memotong jalurnya.
“Aku belum selesai denganmu.”
“Ambil nomor antrean.”
“Lucu. Tapi dengar.” Bagas Wicaksono mendekat, parfum mahalnya menutupi bau lobi yang penuh manusia. “Kalau kamu menyentuh urusan escrow-ku lagi, aku pastikan masa lalumu keluar lebih kotor daripada jaketmu.”
Arga Prasetya berkata, “Kamu harus punya masa laluku dulu.”
“Aku punya orang.”
“Saya punya data orangmu.”
Bagas Wicaksono tersenyum, kali ini tanpa kehangatan palsu. “Data tidak menghentikan peluru.”
“Tidak. Tapi data menunjukkan siapa yang membayarnya.”
Sari Mulyani menyela, “Kalau kalian mau adu maskulinitas, pakai lift sendiri. Paket asli tidak menunggu.”
Mereka menuju koridor samping yang mengarah ke area staf. Dua rider Sari Mulyani mengikuti dari jarak aman. Di belakang, suara Tia Arum naik lagi.
“Nadira Kusumadewi resmi dibawa untuk dimintai keterangan…”
Arga Prasetya berhenti setengah langkah.
Sari Mulyani berkata, “Jangan. Kalau kamu balik, mereka dapat adegan baru.”
“Dia akan dihancurkan oleh kata-kata.”
“Kata-kata bisa dilawan setelah paket asli aman.”
Ia melanjutkan langkah. Tangga turun ke area parkir memiliki bau semen tua, cat terkelupas, dan kabel panas. Lampu darurat berkedip lemah. Di tempat semacam itu, gedung mewah memperlihatkan tulang belakangnya: pipa, panel, dan suara mesin yang tidak pernah muncul di brosur.
Sari Mulyani berbicara sambil turun. “Kamu benar-benar menekan freeze?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
“Cukup untuk membuat mereka salah langkah. Belum cukup untuk membuat mereka bakar bukti.”
“Kamu selalu main catur waktu orang lain lagi tawuran.”
“Dan kamu selalu masuk tawuran lalu memaki papan caturnya.”
“Karena papanmu sering pakai orang sebagai bidak.”
Arga Prasetya tidak membalas. Mereka melewati pintu B1, terus ke B2.
Sari Mulyani melirik pipinya yang masih merah akibat tamparan Ratna Handayani. “Sakit?”
“Tidak penting.”
“Jawaban orang yang sakit.”
“Fokus.”
“Baik, Raja Fokus. Aku perlu tahu: kamu bilang API publik. Platform mana?”
“Ksatria Logistik Data.”
Sari Mulyani berhenti di anak tangga berikutnya. “Kamu akhirnya menyebut namanya.”
“Kamu sudah tahu.”
“Aku tahu karena aku tidak bodoh. Tapi mendengar kamu mengaku sambil pakai jaket kurir butut tetap lucu.”
“Tidak ada yang lucu hari ini.”
“Justru ada. Kalau tidak, aku sudah mematahkan helm di kepala seseorang.”
Area bongkar B2 lebih sepi daripada lobi, tetapi ketegangannya lebih jujur. Di sini tidak ada orang pura-pura menunggu kopi. Ada truk kecil, petugas gedung, troli kosong, dan garis kuning di lantai beton. Bau solar tipis bercampur plastik kemasan dan air got dari saluran parkir.
Salah satu rider Sari Mulyani, tubuhnya kurus dengan jaket kebesaran, menunjuk ke sudut dekat pintu pendingin.
“Di sana tadi,” katanya.
Sari Mulyani bertanya, “Siapa yang terakhir lihat?”
“Joko Santoso. Sebelum dia kejar SUV.”
“CCTV?”
Petugas gedung di dekat pos B2 langsung berkata, “Kami tidak bisa buka tanpa izin manajemen.”
Arga Prasetya menunjukkan ponsel biasa, bukan ponsel aman. “Saya minta dicatat: ada barang milik tenant yang hilang di area bongkar pada saat operasi kepolisian berlangsung.”
Petugas gedung kebingungan. “Saya cuma jaga shift.”
“Nama dan waktu.”
“Saya tidak boleh—”
Sari Mulyani maju. “Kalau kamu tidak boleh bicara, tunjuk benda. Paket pendingin putih kecil, label hilang. Masih ada atau tidak?”
Petugas gedung menelan ludah. “Ada satu boks masuk ruang pendingin sementara. Tapi tadi ada orang minta keluarkan.”
“Siapa?” tanya Arga Prasetya.
“Orang pakai kartu akses kontraktor. Katanya dari tim event lantai atas.”
Sari Mulyani mengumpat pelan. “Yudha Pramana?”
Petugas gedung ragu. Arga Prasetya membuka galeri foto dari tangkapan layar video Sari Mulyani yang baru dikirim. “Ini orangnya?”
Petugas gedung memucat. “Saya tidak mau masalah.”
“Masalah sudah memilih kamu,” kata Sari Mulyani. “Jawab.”
“Iya. Mirip.”
Arga Prasetya bertanya, “Boksnya keluar lewat mana?”
“Belum keluar. Saya bilang perlu tanda tangan supervisor. Dia marah, lalu telepon seseorang. Setelah itu polisi datang ke lobi, saya disuruh standby.”
Sari Mulyani menepuk meja kecil pos. “Kunci ruang pendingin.”
“Saya tidak bisa—”
Arga Prasetya menyela, “Kalau boks itu rusak atau hilang, Anda jadi orang terakhir yang mengakui melihatnya.”
Petugas gedung menatapnya, lalu Sari Mulyani, lalu pintu pendingin. Ia mengambil kartu akses dengan tangan gemetar.
“Lima menit,” katanya. “Setelah itu saya tidak tahu apa-apa.”
“Bagus,” kata Sari Mulyani. “Aku juga sering tidak tahu apa-apa secara profesional.”
Pintu pendingin terbuka dengan bunyi gesekan karet. Udara dingin keluar membawa bau bahan pangan mentah, kardus beku, dan logam rak. Di rak bawah, sebuah boks pendingin kecil terletak miring. Label luarnya memang robek, tetapi segel suhu masih menyala hijau.
Nadira Kusumadewi benar: itu sampel pelapis nabati.
Arga Prasetya berlutut, tetapi tidak menyentuh langsung. “Foto.”
Sari Mulyani mengambil gambar dari tiga sisi. “Segel utuh.”
“Putar sedikit, jangan pecahkan.”
Ia memakai ujung sarung tangan kurir untuk memutar boks. Di sisi bawah, ada microtag pengiriman yang nyaris lepas.
Arga Prasetya mendekatkan ponsel aman. Layar membaca tanpa suara.
`INTERNAL ROUTE VERIFIED`
`ORIGIN: SUPPLIER NODE CLEAN`
`HANDOFF GAP: SEMANGGI / 07.42-07.49`
`UNAUTHORIZED PROXIMITY: YUDHA PRAMANA DEVICE SIGNATURE`
Sari Mulyani membaca dari bahunya. “Device signature? Kamu bisa lihat perangkat Yudha Pramana?”
“Kalau perangkatnya pernah masuk radius node kami saat pengiriman sensitif.”
“Dia ceroboh.”
“Dia percaya orang di belakangnya lebih kuat daripada catatan.”
“Biasanya benar.”
“Hari ini kita ubah statistik.”
Ponsel aman bergetar lagi.
`PORT NODE REQUEST: WAYBILL SAMPLE ACCEPTED`
`MATCHING FALSE CONSIGNMENT AGAINST TRUE SHIPMENT`
`PUBLIC RECORD MIRROR: READY`
Sari Mulyani menunjuk layar. “Mirror?”
“Kalau saya tekan, semua metadata yang sudah diverifikasi masuk ke arsip publik terenkripsi. Tidak bisa dihapus tanpa meninggalkan bekas.”
“Kenapa belum ditekan?”
“Karena Nadira Kusumadewi masih di tangan Ajun Komisaris Fikri Salim. Kalau mereka merasa kalah sebelum ia keluar, mereka bisa mengubah statusnya.”
Sari Mulyani mengangguk lambat. “Jadi kita butuh dia aman dulu.”
“Dan paket ini keluar.”
Petugas gedung berkata dari pintu, “Cepat. Ada orang turun.”
Suara langkah datang dari ramp B2. Berat. Lebih dari satu orang.
Sari Mulyani mematikan lampu kecil ponselnya. “Bukan riderku.”
Arga Prasetya mengambil boks pendingin dengan hati-hati dan menyerahkannya kepada rider Sari Mulyani. “Bawa lewat jalur motor. Jangan lewat pintu utama.”
Rider itu mengangguk. “Kalau dicegat?”
“Jatuhkan ke warung kopi sebelah timur. Ada orang Sari Mulyani?”
Sari Mulyani menjawab, “Ada.”
“Bagus.”
Langkah makin dekat. Suara Yudha Pramana terdengar dari luar. “Saya sudah bilang boks itu milik tim saya.”
Petugas gedung terbata, “Pak, saya—”
Sari Mulyani berbisik, “Pergi.”
Rider membawa boks menyelinap lewat pintu kecil sisi lain ruang pendingin yang menuju jalur sampah. Arga Prasetya dan Sari Mulyani keluar dari ruang pendingin tepat ketika Yudha Pramana muncul bersama dua orang berpakaian kontraktor.
Wajah Yudha Pramana tidak berubah banyak sejak terakhir kali Arga Prasetya melihatnya di tempat yang lebih gelap dan lebih kejam. Tubuhnya besar, matanya seperti orang yang menilai bagian tubuh mana paling cepat patah. Ia mengenali Arga Prasetya dan rahangnya bergerak.
“Kurir rajin,” katanya.
Arga Prasetya menjawab, “Kamu salah lantai.”
“Saya mengambil barang event.”
“Event pembunuhan reputasi?”
Sari Mulyani berkata, “Barangnya sudah pindah.”
Yudha Pramana menatapnya. “Kamu selalu muncul di tempat yang bisa membuatmu terluka.”
“Aku suka lokasi strategis.”
Dua orang kontraktor bergerak. Sari Mulyani mengambil helmnya dari pinggang, memutarnya sekali di tangan. “Coba.”
Arga Prasetya berkata kepada petugas gedung, “Keluar.”
Petugas itu langsung mundur ke pos dan menghilang.
Yudha Pramana menoleh kepada Arga Prasetya. “Bagas Wicaksono ingin bicara.”
“Teleponnya berfungsi.”
“Bukan bicara begitu.”
“Saya sedang sibuk.”
Yudha Pramana maju. “Kamu kira setelah menekan rekening, kamu aman?”
Sari Mulyani menyela, “Ah, jadi benar rekeningnya kena.”
Yudha Pramana sadar ia salah bicara. Arga Prasetya menangkap celah itu.
“Terima kasih konfirmasi.”
Salah satu orang kontraktor menerjang. Sari Mulyani mengayunkan helm ke pergelangan tangannya, bukan kepala. Bunyi benturan pendek, orang itu mengaduh dan mundur. Orang kedua mencoba memotong ke arah pintu jalur sampah, tetapi Arga Prasetya menjegal langkahnya dengan troli kosong. Troli menghantam lutut, orang itu jatuh ke samping rak.
Yudha Pramana bergerak langsung ke Arga Prasetya. Tidak ada gaya. Hanya tenaga. Arga Prasetya menghindar sempit, bahunya membentur pilar, rasa nyeri menjalar cepat. Ia meraih tali pengikat palet, melilitkannya ke lengan Yudha Pramana saat pukulan berikutnya datang, lalu menarik ke bawah. Sari Mulyani masuk dari samping, menendang bagian belakang lutut Yudha Pramana.
Yudha Pramana turun satu lutut, tetapi belum kalah. Ia menyambar jaket Arga Prasetya dan menghantamkannya ke rak logam. Udara keluar dari paru-paru Arga Prasetya. Ponsel biasa jatuh, layarnya retak.
Sari Mulyani menghantam tangan Yudha Pramana dengan helm. “Lepas!”
Yudha Pramana mendorongnya hingga ia terpental ke troli, tetapi waktu sekecil itu cukup. Arga Prasetya menarik kunci pas kecil dari rak peralatan dan menekan ujungnya ke sendi pergelangan Yudha Pramana.
“Lepaskan,” kata Arga Prasetya.
Yudha Pramana tertawa berat. “Kamu tidak akan patahkan.”
Arga Prasetya menekan lebih dalam. Yudha Pramana mendesis dan genggamannya melemah.
“Aku tidak perlu patahkan,” kata Arga Prasetya. “Cukup buat kamu tidak bisa memegang setir.”
Sari Mulyani sudah berdiri lagi. “Riderku keluar.”
“Bagus.”
Dari ramp, suara sirene pendek terdengar. Bukan sirene kota, melainkan alarm internal parkir. Seseorang memicu tombol darurat.
Yudha Pramana meludah ke lantai. “Ini belum menyentuh Darmawan Santoso.”
Nama itu jatuh begitu saja.
Sari Mulyani membeku sesaat. Arga Prasetya menekan kunci pas lebih keras. “Ulangi.”
Yudha Pramana menyadari kesalahannya kedua kali. Ia mencoba bangkit, tetapi Sari Mulyani menempelkan helm ke lehernya.
“Ulangi,” kata Sari Mulyani. “Kami suka dengar orang sombong menyebut atasan.”
Yudha Pramana mengunci mulut.
Arga Prasetya berkata, “Kirim suara tadi?”
Sari Mulyani mengangkat ponselnya. “Terekam.”
Yudha Pramana mengumpat.
Arga Prasetya melepasnya bukan karena belas kasihan, tetapi karena alarm makin keras dan petugas keamanan akan datang. “Sampaikan ke Bagas Wicaksono: paket asli sudah bicara.”
“Dia akan menguburmu,” kata Yudha Pramana.
“Banyak yang mencoba. Tanahnya penuh, saya masih di sini.”
Sari Mulyani menarik Arga Prasetya ke pintu samping. “Ayo. Sebelum Ajun Komisaris Fikri Salim turun dan pura-pura menemukan kita sebagai pelaku keributan.”
Mereka bergerak lewat jalur utilitas. Napas Arga Prasetya tidak stabil, bahunya nyeri, pipinya masih panas, tapi ponsel aman tetap utuh di dalam jaket. Di ujung lorong, rider Sari Mulyani mengirim pesan: boks aman.
Sari Mulyani membaca. “Paket sampai titik timur.”
“Suruh scan microtag.”
“Sudah. File masuk jalur kedua.”
Arga Prasetya berhenti di dekat tangga perawatan. “Saya harus buka amplop.”
“Di sini?”
“Tidak ada tempat baik.”
“Memang. Hidupmu desainnya begitu.”
Ia masuk ke ruang tangga yang lebih sempit, hanya ditemani bunyi mesin gedung dari balik dinding. Sari Mulyani berdiri di pintu, menjaga pandangan ke koridor.
Arga Prasetya mengeluarkan amplop dari Ratna Handayani.
Kertas itu kusut di sudut karena terbawa sepanjang pagi. Ia membayangkan isi yang selama ini sengaja ia tunda: surat cerai, keputusan Ratna Handayani, mungkin tanda tangan Nadira Kusumadewi yang dipaksa atau dipalsukan. Ia pernah menghadapi gudang gelap, rekening tersembunyi, kontainer yang nomornya dihapus. Namun amplop keluarga bisa lebih berbahaya daripada pelabuhan karena melukai tanpa saksi.
Sari Mulyani berkata dari pintu, “Kalau isinya surat cerai, jangan pingsan. Aku buruk menangani pria melodrama.”
Arga Prasetya merobek sisi amplop.
Tidak ada berkas tebal.
Tidak ada salinan gugatan.
Tidak ada tanda tangan Nadira Kusumadewi.
Hanya satu kartu hitam, lebih tua daripada kartu yang sudah aktif di ponsel aman. Permukaannya matte, tepinya dipres dengan garis perak kusam. Di tengahnya ada lambang kecil Ksatria Logistik Data yang tidak pernah dipakai untuk publik. Di bawah lambang itu, stempel timbul terbaca jelas:
`WAR ORDER ACTIVE`
Sari Mulyani mendekat. “Itu bukan surat cerai.”
Arga Prasetya merasakan seluruh suara gedung menjauh. “Bukan.”
“Ratna Handayani tahu?”
“Tidak. Ia pikir ini alat untuk mengusir saya.”
“Siapa yang memasukkan?”
Arga Prasetya membalik kartu. Di belakangnya ada ukiran mikro, hanya terlihat ketika ia memiringkan ke cahaya tangga.
`R.S. / H.M.K. / PRI0K IF FAMILY LINE BREACHED`
Raka Sembiring.
Haji Mahendra Kusumadewi.
Sari Mulyani membaca perlahan. “Ayah Nadira Kusumadewi dan mentormu menyimpan kartu perang di amplop ibu mertuamu?”
“Bukan amplopnya. Jalurnya.”
“Jelaskan cepat.”
“Ratna Handayani pasti menerima amplop ini dari seseorang yang ia percaya sebagai dokumen cerai. Mungkin lewat Laras Wicaksono, mungkin lewat lingkaran Bagas Wicaksono. Tapi kartu ini hanya muncul kalau garis keluarga ditembus.”
“Garis keluarga?”
“Workshop. Tanah. Nadira Kusumadewi. Nama Haji Mahendra Kusumadewi. Semua.”
Sari Mulyani bersiul pelan. “Jadi orang tua itu memasang jebakan di masa lalu?”
“Bukan jebakan. Wasiat operasional.”
Ponsel aman menyala sendiri ketika kartu hitam disentuhkan. Tidak ada getaran. Tidak ada bunyi. Hanya layar yang menampilkan daftar baru yang lebih panjang daripada sebelumnya.
`WAR ORDER ACTIVE`
`BANK NODE: PHASE 2 READY`
`PORT NODE: HOLD AUTHORITY READY`
`PUBLIC RECORD MIRROR: ARMED`
`FIRST WITNESS: SECURED?`
`FAMILY LINE: NADIRA KUSUMADEWI AT RISK`
`MOTHER LINE: RATNA HANDAYANI COMPROMISED`
Sari Mulyani mengeluarkan napas kasar. “Compromised bukan berarti jahat.”
“Berarti bisa dipakai.”
“Sudah dipakai.”
Arga Prasetya menekan kontak Nadira Kusumadewi. Tidak tersambung.
Ia mencoba lagi. Masih gagal.
Sari Mulyani melihat layar. “Pos keamanan mungkin dibuat zona mati.”
“Ajun Komisaris Fikri Salim tidak akan berani kalau lobi ramai.”
“Dia tidak perlu berani. Dia perlu pintu samping.”
Arga Prasetya menyentuh opsi public mirror, lalu berhenti. Nadira Kusumadewi belum keluar. Kalau arsip publik terbuka, Bagas Wicaksono dan orang di belakangnya akan tahu paket asli aman. Mereka akan bergerak ke target paling lunak.
Ratna Handayani.
Workshop.
Nadira Kusumadewi di pos keamanan.
Sari Mulyani bertanya, “Perintah?”
Arga Prasetya melihat kartu hitam di telapak tangannya. Selama bertahun-tahun, ia menyembunyikan Ksatria Logistik Data di balik jaket kurir, membiarkan penghinaan menjadi pelindung. Pagi itu pelindungnya robek oleh tangan ibu mertuanya, oleh kesombongan Bagas Wicaksono, oleh kantong bukti yang dipindahkan seperti properti panggung, oleh nama Nadira Kusumadewi yang dijadikan umpan.
“Pertama,” katanya, “bawa kartu ini difoto ke jalur terenkripsi. Jangan kirim mentah.”
“Siap.”
“Kedua, minta rider dekat pos keamanan cek Nadira Kusumadewi. Kalau dipindah tanpa saya, blokir kendaraan. Jangan pukul polisi kecuali mereka mulai.”
Sari Mulyani mendengus. “Sayang. Tapi baik.”
“Ketiga, paket asli ke workshop, bukan kantor polisi. Melati Prabasari harus terima langsung.”
“Nama itu aman?”
“Lebih aman daripada sebagian keluarga.”
Sari Mulyani mengetik cepat. “Dan kamu?”
Arga Prasetya menatap layar ponsel aman, lalu menekan satu perintah baru.
`PORT NODE: HOLD SELECTED`
`CONTAINERS LINKED TO PRI0K CHAIN: TEMPORARY STOP`
`AUTHORITY: WAR ORDER`
Di tempat jauh, di dekat air asin dan derek raksasa, jalur muat tertentu berhenti menerima instruksi. Nomor-nomor kontainer yang selama ini bergerak dengan izin mahal tiba-tiba menunggu validasi ulang. Sopir truk akan memaki. Mandor akan menelepon. Orang-orang yang terbiasa memindahkan bukti di antara jadwal kapal akan menemukan jam mereka kehilangan gigi.
Sari Mulyani membaca perintah itu. “Kamu baru menghentikan pelabuhan?”
“Sebagian jalur.”
“Sebagian jalur bisa membuat setengah kota batuk.”
“Biarkan mereka batuk. Mungkin keluar nama.”
Ponsel aman menerima pesan baru dari Surya Hadinata.
`BANK NODE PHASE 2 REQUIRES VERBAL CONFIRMATION`
`CALL SECURE?`
Arga Prasetya menekan panggilan.
Suara Surya Hadinata masuk setelah satu nada. “Arga Prasetya.”
“Status.”
“Freeze pertama berhasil. Bimo Hartanto mencoba memecah dana melalui tiga escrow kecil. Dua tertahan, satu sedang dipaksa lewat bank mitra. Saya butuh konfirmasi untuk pembekuan lintas rekening terafiliasi.”
“Risiko.”
“Nama Anda terbuka di level eksekutif dalam enam puluh menit.”
“Nama saya sudah keluar dari mulut orang yang salah.”
Surya Hadinata berhenti sesaat. Ketika berbicara lagi, suaranya lebih rendah. “Apakah ini war order penuh?”
Arga Prasetya melihat kartu hitam. “Aktif.”
Di seberang, Surya Hadinata menarik napas yang nyaris tidak terdengar. “Saya akan menjalankan protokol. Ada hal lain?”
“Lindungi payroll workshop Nadira Kusumadewi. Jangan biarkan rekening operasionalnya dibekukan karena framing.”
“Nama entitas?”
Arga Prasetya menyebutkannya.
“Diterima. Arga Prasetya…”
“Ya.”
“Kalau ini dimulai, mereka tidak akan hanya menyerang bisnis.”
“Saya tahu.”
“Mereka akan menyerang istri Anda.”
Arga Prasetya melihat pintu tangga, membayangkan Nadira Kusumadewi duduk di pos keamanan dengan lampu putih di atas kepala, menjawab pertanyaan yang disusun untuk membuat orang bersih tampak gugup.
“Maka pastikan uang mereka tidak bisa membeli jam tambahan,” katanya.
“Dipahami.”
Panggilan terputus.
Sari Mulyani menatapnya. “Aku pernah lihat orang marah, Arga Prasetya. Kamu bukan marah.”
“Apa saya?”
“Kamu jadi jadwal eksekusi.”
Ia menyimpan kartu hitam di dalam amplop yang sama, lalu memasukkan amplop ke bagian terdalam jaket. “Kita naik.”
“Mau ke pos?”
“Ya.”
“Dengan bahu habis dihantam Yudha Pramana dan pipi bekas ibu mertua?”
“Penampilan saya konsisten.”
“Buruk?”
“Tidak mengancam sampai terlambat.”
Mereka keluar dari ruang tangga. Di koridor B2, alarm sudah berhenti. Dari jauh terdengar suara orang keamanan berbicara cepat. Yudha Pramana dan dua orangnya tidak terlihat, tetapi jejak keributan masih ada: troli miring, rak bergeser, satu sarung tangan kontraktor tertinggal di lantai.
Saat mereka naik lewat tangga, ponsel Sari Mulyani berbunyi.
Ia membaca pesan, lalu wajahnya berubah.
“Apa?” tanya Arga Prasetya.
“Rider di lobi bilang Nadira Kusumadewi tidak ada di pos.”
Arga Prasetya berhenti.
Sari Mulyani melanjutkan, “Ajun Komisaris Fikri Salim bilang dipindah ke kendaraan resmi.”
“Nomor?”
“Belum sempat dicatat. Mereka pakai akses samping.”
Arga Prasetya menekan panggilan ke Nadira Kusumadewi. Gagal.
Ia menekan ponsel aman.
`FAMILY LINE TRACK REQUEST`
`NADIRA KUSUMADEWI DEVICE: SIGNAL MASKED`
`LAST KNOWN: LOBBY SECURITY / EXIT EAST`
Sari Mulyani sudah berlari naik. “Riderku ke timur!”
Arga Prasetya menyusul, nyeri bahunya berubah menjadi bunyi tumpul di kepala. Di antara anak tangga, ia mendengar suara Ratna Handayani dari atas, pecah dan panik.
“Di mana anak saya? Bagas Wicaksono, kamu bilang kamu bisa urus!”
Suara Bagas Wicaksono menjawab, lebih tajam daripada di lobi, “Saya sedang mengurus.”
Arga Prasetya mempercepat langkah.
Ketika ia mencapai pintu lobi samping, Ratna Handayani berdiri di dekat dinding dengan wajah kehilangan warna. Bagas Wicaksono memegang ponsel, berbicara cepat kepada seseorang. Tia Arum berada beberapa meter di belakang, kali ini perangkatnya tidak terangkat penuh; naluri media dan rasa takut sedang bertarung di wajahnya.
Ratna Handayani melihat Arga Prasetya.
“Kamu,” katanya, tetapi suara itu tidak lagi penuh amarah. “Mereka membawa Nadira Kusumadewi.”
“Siapa?”
“Polisi. Katanya prosedur. Aku pikir—aku pikir Bagas Wicaksono—”
Bagas Wicaksono memotong, “Jangan buat panik. Ajun Komisaris Fikri Salim hanya memindahkan lokasi.”
Arga Prasetya berjalan mendekatinya. “Ke mana?”
“Ke kantor.”
“Nomor kendaraan.”
“Aku bukan petugas parkir.”
Arga Prasetya mencengkeram kerah Bagas Wicaksono. Gerakannya tidak keras, tetapi cukup membuat seluruh lobi menahan napas.
“Nomor kendaraan.”
Bagas Wicaksono menatap tangannya, lalu wajahnya. “Lepaskan.”
Ratna Handayani berbisik, “Arga Prasetya…”
Sari Mulyani sudah berdiri di samping pintu keluar timur, ponsel menempel di telinga. “Satu rider lihat mobil hitam keluar dari akses samping. Pelat ditutup lumpur. Ada pengawal, bukan patroli.”
Arga Prasetya tidak melepas Bagas Wicaksono. “Kamu bilang sedang mengurus.”
Bagas Wicaksono menelan ludah, tetapi senyumnya masih berusaha hidup. “Kalau kamu membuat keributan, kamu hanya memperburuk posisi Nadira.”
“Posisinya sudah kau jual.”
“Aku mencoba menyelamatkannya.”
“Dari siapa?”
Bagas Wicaksono tidak menjawab cukup cepat.
Arga Prasetya mendekatkan wajahnya. “Dari Darmawan Santoso?”
Nama itu membuat mata Bagas Wicaksono bergerak sepersekian detik ke kiri.
Cukup.
Arga Prasetya melepas kerahnya dan membuka ponsel aman.
`PUBLIC RECORD MIRROR: ARMED`
`FAMILY LINE: HOSTILE TRANSFER CONFIRMED`
`EXECUTE?`
Ratna Handayani melihat layar tanpa mengerti, tetapi rasa takut membuatnya bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan?”
Arga Prasetya menatap pintu timur, tempat cahaya siang terpotong oleh kaca gedung dan bayangan kendaraan.
“Mengambil kembali istri saya,” katanya.
Lalu ia menekan perintah.
`PUBLIC RECORD MIRROR: EXECUTED`
`WAR ORDER: FULL CASCADE`
Di luar gedung, jauh di pelabuhan, di bank, di ruang server, di ponsel orang-orang yang merasa aman karena memiliki nama besar, sesuatu mulai berhenti, terbuka, dan berbalik arah.
Di lobi, notifikasi pertama meledak di perangkat Tia Arum.
Ia membaca judulnya, kali ini tanpa berani mengarang jeda.
“Metadata pengiriman palsu Tanjung Priok terverifikasi,” katanya pelan. “Nama Yudha Pramana muncul. Ada kaitan escrow Bimo Hartanto. Ada… ada hold authority pelabuhan.”
Bagas Wicaksono memucat.
Ratna Handayani menatap Arga Prasetya seperti baru menyadari bahwa laki-laki yang ia tampar bukan hanya menahan sakit, tetapi menahan perang.
Sari Mulyani membuka pintu timur. “Rider sudah mengejar. Kalau kita cepat, kita dapat mereka sebelum masuk jalur tol.”
Arga Prasetya melangkah keluar.
Di belakangnya, suara lobi pecah oleh telepon, teriakan tertahan, dan kamera yang mulai merekam terlambat.
Di depannya, jalan timur gedung terbentang panas, bising, dan penuh kendaraan.
Arga Prasetya menyentuh pipinya yang masih terasa terbakar, lalu bahunya yang nyeri, lalu amplop di balik jaket.
“Nadira Kusumadewi,” gumamnya, cukup pelan sehingga hanya Sari Mulyani yang mendengar, “bertahan sedikit lagi.”
Sari Mulyani menatapnya sekilas. “Dia bukan tipe yang hanya bertahan.”
Arga Prasetya menyalakan ponsel aman. Titik terakhir perangkat Nadira Kusumadewi masih berkedip merah di layar.
“Benar,” katanya.
Lalu mereka berlari.