Aktivasi itu tidak berbunyi keras.
Tidak ada alarm. Tidak ada lampu ruangan berkedip. Tidak ada layar investor yang tiba-tiba berubah menjadi kode. Yang terjadi hanya ponsel aman Arga Prasetya mengirim satu kilatan tipis ke kartu hitam, lalu suhu di telapak tangannya turun mendadak, seolah benda itu baru saja selesai bernapas.
Di layar kecil muncul tiga baris.
`NODE: SCBD-17 CONFIRMED`
`CHAIN: PRI0K ACTIVE`
`FIRST EVIDENCE: INBOUND`
Arga Prasetya membaca baris terakhir dua kali.
Bukti pertama.
Bukan orang. Bukan saksi yang bisa bicara. Dalam aturan lama Raka Sembiring, barang bukti yang bergerak lewat jaringan pengiriman selalu diberi nama seperti saksi, karena paket tidak bisa disuap untuk mengubah ingatan.
Di belakangnya, seorang staf acara muncul dari meja registrasi, wajahnya ragu. Ia memegang tablet daftar tamu dan daftar logistik gedung.
“Maaf,” katanya kepada Bagas Wicaksono, “tadi security bawah juga konfirmasi ada satu kurir lain sudah terdaftar untuk naik. Slot delapan lima puluh. Katanya paket untuk Nadira Kusumadewi.”
Nadira Kusumadewi menoleh cepat. Jam di layar kecil dekat pintu kaca menunjukkan 08.51.
Satu ingatan pagi tadi menyambar kepalanya: ponsel Ratna Handayani berbunyi saat ibunya memaksa amplop cokelat itu masuk ke tas Arga Prasetya. Ratna Handayani sempat membaca pesan, lalu wajahnya makin pucat dan makin kasar.
*Harus sampai sebelum 08.50. Jangan biarkan dia terlambat.*
Saat itu Nadira Kusumadewi mengira pesan itu dari Laras Wicaksono, bagian lain dari tekanan sosial yang sudah terlalu biasa. Sekarang angka itu berdiri di hadapannya seperti paku.
Pintu lift umum terbuka.
Beberapa orang menoleh, mengira dua pria SUV hitam akan bergerak lagi. Tetapi yang keluar bukan mereka.
Seorang kurir lain masuk ke koridor dengan helm masih di lengan, jas hujan plastik menempel di punggung, dan sebuah boks segel putih di tangan. Air dari ujung jas hujannya menitik ke lantai mengilap, meninggalkan jejak kecil yang langsung tampak asing di antara karpet mahal dan aroma bunga potong. Label pengiriman terpampang jelas di bagian atas boks.
Nama pengirim: Arga Prasetya.
Nama penerima: Nadira Kusumadewi.
Alamat asal: Tanjung Priok.
Nadira Kusumadewi melihat label itu, lalu menatap Arga Prasetya. Sejenak, wajahnya seperti kehilangan semua kata yang baru saja ia pakai untuk menjual masa depan perusahaannya.
“Kamu kirim apa?” suaranya hampir tidak keluar.
“Saya tidak mengirim itu.”
Bagas Wicaksono bergerak lebih cepat dari yang pantas untuk orang yang beberapa detik lalu masih bermain elegan. Ia melangkah ke arah kurir itu, senyumnya kembali dipasang, rapi dan terlatih.
“Maaf,” kata Bagas Wicaksono, cukup keras agar orang-orang di dalam ruangan mendengar, “sepertinya ada kekacauan kurir pagi ini.”
Kurir itu menatap Arga Prasetya, bingung. “Ini untuk Nadira Kusumadewi. Tanda tangan penerima diperlukan.”
Arga Prasetya maju satu langkah. Dua pria SUV hitam ikut maju. Nadira Kusumadewi berada di antara pintu kaca dan meja registrasi, terpotong oleh semua tatapan.
“Jangan sentuh boks itu,” kata Arga Prasetya.
Kurir itu tertegun. “Pak?”
Bagas Wicaksono tertawa kecil. “Arga Prasetya, kamu sudah membawa satu amplop dramatis. Sekarang kamu melarang paket lain juga? Ini acara bisnis, bukan pos ronda.”
Beberapa orang di ruang presentasi tertawa gugup. Bukan karena lucu, tetapi karena mereka menunggu tanda dari orang yang menguasai ruangan. Tia Arum, berdiri di dekat layar dengan ponsel menghadap panggung, tidak mematikan rekaman. Di badge acaranya, di bawah nama Tia Arum, tercetak tulisan kecil: *media partner — arranged by Bagas Wicaksono*.
Matanya bergerak cepat dari wajah Nadira Kusumadewi ke jaket kurir Arga Prasetya yang masih lembap oleh hujan dan percikan jalan.
“Ini menarik,” gumam Tia Arum, tidak cukup pelan.
Nadira Kusumadewi berbalik ke arahnya. “Tia Arum, matikan kamera.”
“Ini live pendek untuk behind the scene,” jawab Tia Arum manis. “Bagas Wicaksono mengundangku khusus untuk menangkap prosesnya. Audiens suka proses. Transparansi itu bagus, kan?”
“Matikan.”
Bagas Wicaksono mengangkat telapak tangan ke arah Nadira Kusumadewi, lembut di permukaan, perintah di bawahnya. “Tenang. Kita atur. Jangan memberi kesan panik.”
Arga Prasetya menatap boks putih itu. Segelnya bersih. Terlalu bersih untuk kiriman dari area gudang. Label termalnya baru dicetak. Kode rute di sudut kiri bawah tidak cocok dengan jalur resmi motor mana pun pagi itu.
Ponsel aman di tangannya menampilkan baris baru.
`FALSE CONSIGNMENT: MATCHING ID`
Arga Prasetya berkata kepada kurir itu, “Siapa yang menyerahkan paket?”
Kurir itu menelan ludah. “Dari titik drop. Sistem masuk atas nama Bapak. Saya cuma ambil rute.”
“Jam berapa?”
“Delapan lewat empat puluh dua.”
Sari Mulyani benar. Mereka tidak menunggu Arga Prasetya sampai ke lantai ini. Mereka sudah menyiapkan namanya lebih dulu.
Bagas Wicaksono memiringkan kepala, seperti sedang menilai karyawan yang mengganggu rapat. “Kamu mau menginterogasi kurir di depan investor?”
“Saya mau tahu siapa yang memakai nama saya.”
“Nama kamu?” Bagas Wicaksono menoleh kepada ruangan. “Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon maaf. Kadang urusan domestik datang dengan kostum yang tidak sesuai.”
Tawa kali ini lebih jelas. Ada yang menutup mulut dengan gelas kopi. Ada yang saling pandang. Ada yang justru mengangkat ponsel.
Arga Prasetya tidak bergerak.
Air dari ujung jaketnya menetes ke karpet koridor. Ia baru menyadari betapa basah tubuhnya sejak perjalanan tadi; hujan jalanan menempel sebagai bekas keabu-abuan di bagian bawah celana. Di sekelilingnya, lantai mengilap, lampu lembut, aroma pendingin ruangan dan karangan bunga membuat noda itu tampak seperti kesalahan yang berjalan.
Bagas Wicaksono melihatnya juga.
“Begini saja,” kata Bagas Wicaksono, suaranya kini cukup lantang untuk seluruh ruangan, “biarkan kurir profesional menyelesaikan pekerjaan kurirnya. Yang satu ini”—ia menunjuk Arga Prasetya dengan dua jari, seolah enggan menyentuh udara yang sama—“sepertinya kurir nyasar.”
Tawa pecah.
Tidak meledak sekaligus, tetapi menyebar dari barisan depan ke belakang. Suara gelas. Suara kursi bergeser. Tia Arum tersenyum ke kameranya.
“Kurir nyasar di menara kaca,” katanya pelan ke ponsel. “Jakarta pagi ini punya plot twist.”
Wajah Nadira Kusumadewi berubah.
Bukan marah sepenuhnya. Bukan malu sepenuhnya. Ada sesuatu yang lebih sulit: tubuhnya mengenali penghinaan itu sebelum pikirannya memilih sikap. Ia melihat jaket kurir Arga Prasetya, noda hujan, amplop yang sudah terbuka, kartu hitam, lalu wajah investor yang menunggu reaksinya.
Arga Prasetya menatapnya.
“Kalau kamu ingin saya pergi,” katanya, “katakan sekarang.”
Nadira Kusumadewi membuka mulut.
Bagas Wicaksono memotong, “Tidak perlu dibuat melodrama. Nadira Kusumadewi punya agenda penting. Kamu bisa menunggu di bawah bersama staf gedung.”
Arga Prasetya masih menatap Nadira Kusumadewi. “Katakan sendiri.”
Ruangan menunggu. Kamera Tia Arum tetap menyala. Kurir lain berdiri kaku dengan boks putih di tangan. Dua pria SUV hitam mengukur jarak. Staf acara tampak ingin menghilang.
Nadira Kusumadewi berkata, pelan tetapi terdengar, “Kamu jangan pergi.”
Bagas Wicaksono menoleh tajam. “Nadira Kusumadewi.”
Ia tidak melihat Bagas Wicaksono. “Aku bilang, jangan pergi.”
Arga Prasetya mengangguk singkat. Kali ini bukan tanda tunduk, melainkan konfirmasi bahwa ia sudah menerima pilihan itu.
Bagas Wicaksono tersenyum kembali, namun ada ketegangan di sisi mulutnya. “Baik. Jika semua ingin menyaksikan drama keluarga sebagai bagian dari due diligence, silakan. Tapi kita tetap lanjut profesional.”
Seorang investor dari barisan depan berdeham. Ia sejak awal paling banyak mencatat, bukan paling banyak tersenyum. “Mungkin kita bisa kembali ke presentasi?”
“Betul sekali,” jawab Bagas Wicaksono. “Nadira Kusumadewi, silakan lanjutkan bagian utama. Produk, aset, tanda tangan. Tiga hal itu saja cukup menjawab pagi ini.”
Nadira Kusumadewi menatap Arga Prasetya sekali lagi. “Tunggu di sini. Jangan biarkan boks itu dibuka.”
“Tidak akan.”
Kurir lain menegang. “Tapi saya butuh tanda tangan, Bu.”
“Taruh di meja,” kata Arga Prasetya.
“Saya tidak bisa kalau belum ditandatangani.”
Arga Prasetya mengeluarkan ponsel biasanya, bukan ponsel aman, dan memotret label boks dari tiga sudut. “Sekarang kamu bisa.”
Kurir itu melihat Bagas Wicaksono, mencari otoritas yang lebih rapi.
Bagas Wicaksono berkata, “Ikuti prosedur. Minta tanda tangan penerima.”
Nadira Kusumadewi kembali ke pintu kaca, lalu berhenti. “Tidak. Paket itu belum saya terima.”
Bagas Wicaksono tertawa pelan. “Kamu menolak kiriman atas nama perusahaanmu di depan investor?”
“Aku menolak menerima sesuatu yang tidak pernah aku minta.”
“Dalam bisnis, banyak hal penting datang sebelum kita siap.”
“Dalam bisnis,” balas Nadira Kusumadewi, suaranya mulai mengeras, “dokumen yang sah punya asal-usul yang jelas.”
Bagas Wicaksono menatapnya lebih lama daripada pantasnya di depan orang banyak. “Kita bahas setelah presentasi.”
“Tidak,” kata Arga Prasetya. “Kita bahas sekarang.”
Bagas Wicaksono berbalik kepadanya. “Kamu tidak masuk struktur diskusi.”
“Saya masuk label pengiriman.”
Kali ini tawa tidak muncul. Kalimat itu mendarat tepat di atas boks putih.
Dari dalam ruang kaca, layar presentasi masih menampilkan gambar pertama: foto produk kemasan Nadira Kusumadewi. Kotak makanan berwarna tanah. Cup dengan serat halus. Kertas bungkus bermotif sederhana. Di samping foto itu ada judul: *Biodegradable Halal Craft Packaging for Food SMEs*. Beberapa menit sebelumnya, sebelum Arga Prasetya merobek amplop, ruangan itu memang sempat menjadi milik Nadira Kusumadewi.
Ia berdiri di depan layar, memegang clicker, dan berbicara dengan nada yang membuat investor diam bukan karena sopan, melainkan karena mendengar peluang.
“Masalah terbesar pelaku makanan kecil bukan hanya harga kemasan,” kata Nadira Kusumadewi tadi. “Mereka butuh kemasan yang aman untuk makanan, bisa dipertanggungjawabkan secara halal, dan tidak membuat mereka terlihat murahan saat masuk pasar digital.”
Seorang investor bertanya, “Apa bedanya dengan kemasan ramah lingkungan lain?”
Nadira Kusumadewi menekan clicker. Gambar kedua muncul: foto workshop tua. Meja panjang, cetakan manual, rak bahan, tangan-tangan pekerja perempuan yang sedang menyusun lembaran. Di sudut meja presentasi, Nadira Kusumadewi juga meletakkan satu cetakan kecil dari kayu tua—bekas hitam di pinggirnya, gagang logamnya sudah aus. Itu cetakan pertama Haji Mahendra Kusumadewi, benda yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari workshop.
“Resep material kami bukan beli katalog,” jawabnya. “Ini campuran serat pangan, pati, dan pelapis berbasis nabati yang dikembangkan bertahun-tahun di workshop keluarga. Kami sudah uji untuk minyak ringan, panas sedang, dan distribusi jarak dekat.”
Ponselnya sempat bergetar di atas meja kecil. Nadira Kusumadewi melirik cepat.
Pesan dari Melati Prabasari.
*Mesin sudah jalan, Bu, kami tunggu kabar baik.*
Kalimat sederhana itu membuat punggungnya tegak. Di ruangan kaca, di antara blazer mahal dan kopi dingin, ia mendengar lagi suara mesin tua di workshop yang selalu batuk dua kali sebelum menyala. Ia melihat Melati Prabasari menepuk sisi mesin seperti menenangkan binatang tua yang keras kepala.
Nadira Kusumadewi menekan clicker lagi. Grafik margin muncul. Lalu daftar pelanggan UMKM. Lalu simulasi biaya bahan.
“Kami tidak mengejar volume pabrik besar,” katanya. “Kami mengejar konsistensi untuk pelaku kecil yang tidak bisa memesan satu kontainer sekali jalan. Keuntungan kami datang dari pengulangan order, bukan satu transaksi besar.”
Investor yang mencatat sejak tadi mengangkat kepala. “Angka retensi ini benar?”
“Benar. Semua invoice bisa diaudit.”
“Dan kapasitas naik dua kali lipat kalau mesin kedua aktif?”
“Bukan dua kali lipat penuh. Satu koma enam dalam tiga bulan pertama. Saya tidak mau menjual kapasitas palsu.”
Ada jeda kecil. Lalu beberapa investor mengangguk.
Untuk satu menit yang bersih, Nadira Kusumadewi hampir menang.
Bagas Wicaksono saat itu berdiri di samping, tersenyum bangga seolah setiap kata Nadira Kusumadewi adalah properti yang sedang naik harga.
“Dan keunggulan lahan?” tanya investor lain.
Nadira Kusumadewi sempat berhenti setengah detik. “Workshop kami berada dekat akses distribusi UMKM kuliner. Itu membantu kecepatan produksi dan pengiriman.”
Bagas Wicaksono mengambil alih dengan halus. “Lebih dari itu. Lahan workshop keluarga Nadira Kusumadewi berada di koridor yang sangat menarik untuk redevelopment jangka menengah. Jadi investor tidak hanya masuk ke produk, tetapi juga ke strategic asset backing.”
Nadira Kusumadewi menoleh. “Bagas Wicaksono, fokus presentasi kita produk.”
“Tentu. Produk adalah wajahnya.” Bagas Wicaksono tersenyum kepada investor. “Namun bankability datang dari underlying collateral. Kita semua realistis.”
“Kami tidak sedang menjual tanah,” kata Nadira Kusumadewi.
“Tidak ada yang mengatakan menjual. Ini conditional. Opsi. Perlindungan bagi investor.”
Ia memberi isyarat kepada staf. Gambar ketiga muncul di layar: halaman tanda tangan term sheet yang diperbesar. Sebuah map hitam dibawa ke meja kecil dekat panggung.
“Term sheet?” tanya Nadira Kusumadewi.
“Draft awal. Agar momentum tidak hilang.”
“Kamu bilang dokumen itu untuk nanti.”
“Momentum pendanaan tidak menunggu emosi keluarga.”
Nadira Kusumadewi melihat sudut kanan bawah halaman pertama. Versi dokumen itu bukan versi yang dikirim kepadanya dua malam lalu.
*TS-NK-03B-FINAL.*
Ia tidak pernah menerima versi final. Yang ia baca hanya *TS-NK-02A-REVIEW*, tanpa klausul jaminan transisi, tanpa hak konversi atas tanah workshop, tanpa frasa yang memberi investor kuasa mengalihkan aset jika target produksi gagal.
Di barisan depan, beberapa investor saling berbisik. Tia Arum mengarahkan kamera ke map itu.
Bagas Wicaksono berkata dengan suara jernih, “Nadira Kusumadewi akan tetap memegang kendali operasional. Investor mendapat hak konversi jika target produksi tidak terpenuhi. Lahan workshop hanya menjadi jaminan transisi. Sangat normal.”
Nadira Kusumadewi menatap map itu seperti melihat pintu yang tiba-tiba muncul di lantai. “Kalimat ‘jaminan transisi’ itu tidak ada di deck.”
“Karena deck untuk cerita. Term sheet untuk kenyataan.”
“Ini workshop ayahku.”
“Dan kamu ingin menyelamatkannya, bukan?”
Pertanyaan itu menekan ruangan. Nadira Kusumadewi tidak menjawab. Di layar belakangnya, foto pekerja workshop membeku di bawah lampu projektor. Melati Prabasari terlihat di salah satu foto, sedang memegang cetakan lama dengan tangan penuh tepung serat.
Bagas Wicaksono menurunkan suara, cukup lembut sehingga hanya barisan depan yang mendengar, tetapi cukup tepat untuk menusuk Nadira Kusumadewi.
“Haji Mahendra Kusumadewi pernah bilang padaku, waktu aku bantu melunasi tagihan listrik workshop setelah banjir kecil itu, bahwa satu-satunya hal yang ia takutkan adalah pekerjanya pulang tanpa upah.” Ia menatap cetakan kayu tua di meja. “Aku ingat itu, Nadira Kusumadewi. Aku tidak sedang merebut warisanmu. Aku sedang memastikan nama ayahmu tidak tenggelam bersama utang.”
Nadira Kusumadewi terdiam.
Itu bukan kalimat kosong. Bagas Wicaksono memang pernah datang saat air setinggi mata kaki memenuhi lantai workshop, ketika Ratna Handayani menangis karena listrik hampir diputus dan Haji Mahendra Kusumadewi terlalu sakit untuk turun tangan. Bantuan itu kecil bagi Bagas Wicaksono, tetapi besar bagi workshop. Selama bertahun-tahun, kenangan itu menjadi utang budi yang sulit diberi bentuk.
Tetapi ada bagian lain yang selama ini Nadira Kusumadewi simpan sebagai rasa tidak enak yang tidak pernah ia beri nama. Setelah banjir itu, Bagas Wicaksono pernah menawarkan masuk sebagai pemegang saham minoritas. Haji Mahendra Kusumadewi menolak dengan suara tenang, terlalu tenang untuk membuat Bagas Wicaksono tidak terluka.
*Workshop ini bukan ruang tunggu untuk orang yang mau membeli pintunya,* kata Haji Mahendra Kusumadewi waktu itu.
Bagas Wicaksono tersenyum saat ditolak, tetapi sejak hari itu setiap bantuannya selalu datang dengan kalimat yang mengingatkan siapa yang pernah menyelamatkan siapa.
Bagas Wicaksono melihat keraguan singkat Nadira Kusumadewi dan menekannya lebih pelan.
“Kadang menjaga tanah berarti memberi tanah itu struktur hukum yang membuatnya bertahan.”
Nadira Kusumadewi menatap foto Melati Prabasari, lalu cetakan kayu tua ayahnya. “Atau memberi orang lain kunci untuk masuk.”
Sebelum Bagas Wicaksono menjawab, Arga Prasetya muncul di pintu kaca.
Semua garis yang tadi disusun Bagas Wicaksono berubah.
Sekarang, setelah amplop terbuka, setelah kartu hitam menyala, setelah kiriman palsu masuk dengan namanya, potongan-potongan itu tidak lagi terpisah.
Nadira Kusumadewi kembali ke koridor. Ia berbicara langsung kepada Bagas Wicaksono.
“Term sheet itu dari mana?”
“Dari tim legal investor.”
“Siapa yang memasukkan klausul tanah?”
“Klausul standar.”
“Jangan bohong.”
Bagas Wicaksono menurunkan suara. “Jaga dirimu.”
“Jawab.”
“Jangan melakukan ini di depan mereka.”
“Bukankah kamu yang membawa semuanya ke depan mereka?”
Wajah Bagas Wicaksono tetap terkendali, tetapi matanya tidak lagi ramah. “Aku membawa kesempatan. Kamu membawa suami yang merobek amplop pribadi di acara pendanaan.”
Arga Prasetya berkata, “Amplop itu memanggil kiriman palsu ini.”
Bagas Wicaksono menatapnya. “Kamu dengar dirimu sendiri? Amplop memanggil paket? Ini bukan cerita warung.”
“Buka sistem tracking,” kata Arga Prasetya kepada kurir lain. “Sekarang.”
Kurir itu ragu. “Saya tidak boleh sembarang—”
“Nama saya di label. Buka.”
Bagas Wicaksono berkata, “Jangan.”
Satu kata itu terlalu cepat. Terlalu keras.
Semua orang mendengarnya.
Arga Prasetya menoleh sedikit. “Kenapa?”
Bagas Wicaksono segera memperbaiki nadanya. “Karena keamanan data. Kita tidak membuka aplikasi kurir sembarangan di ruangan investor.”
Ia menunduk sebentar ke ponselnya. Ibu jarinya bergerak cepat, hanya satu baris pesan. Layar mati sebelum siapa pun bisa membaca, tetapi Arga Prasetya melihat gerak itu: bukan gestur panik, melainkan konfirmasi.
Sari Mulyani menelepon ponsel biasa Arga Prasetya.
Nama itu muncul di layar. Arga Prasetya mengangkat tanpa mengalihkan pandangan dari boks.
“Bicara.”
Suara Sari Mulyani masuk tajam, tertahan deru jalan. “Kamu aktifkan?”
“Ya.”
“Dasar kepala beton. Oke, dengar. Ada order hantu muncul di sistem liar, pakai identitasmu. Rute Priok ke SCBD. Kurirnya bukan anakku.”
“Dia di depan saya.”
“Jangan biarkan tanda tangan. Paket itu sudah ditautkan ke penerima. Begitu Nadira Kusumadewi tanda tangan, timestamp-nya jadi bukti rantai.”
Arga Prasetya menatap Nadira Kusumadewi. “Jangan tanda tangan apa pun.”
Nadira Kusumadewi menjawab, “Aku sudah bilang tidak.”
Sari Mulyani bertanya, “Bagas Wicaksono ada di sana?”
“Ada.”
“Kalau dia terlalu tenang, berarti polisi dekat. Bukan karena mereka resmi mengikuti paket dari Priok. Aku tidak lihat tail kepolisian di rute. Kalau polisi muncul sekarang, berarti ada yang mengarahkan mereka ke SCBD lebih dulu.”
Arga Prasetya bertanya singkat, “Bisa tahan order?”
“Aku cuma pegang jaringan rider dan log rute jalanan, bukan bank, bukan server pusat. Aku bisa bikin saksi bergerak dan rekaman aman. Aku tidak bisa menghapus jejak yang sudah mereka tanam.”
“Cukup.”
Seolah menanggapi kalimat itu, pintu lift di koridor lain terbuka.
Empat petugas berseragam keluar, diikuti Ajun Komisaris Fikri Salim dengan kemeja rapi di bawah jaket tipis. Ia tidak terburu-buru. Ia datang dengan ekspresi orang yang sudah tahu letak kamera dan sudut berita terbaik. Sebelum bicara, ia melihat ke kamera gedung di langit-langit, lalu ke ponsel Tia Arum, lalu berdiri pada titik yang membuat wajahnya terang di bawah lampu koridor.
Bagas Wicaksono tidak tampak terkejut.
Nadira Kusumadewi melihat reaksi itu.
“Kamu tahu mereka akan datang,” katanya.
Bagas Wicaksono menjawab cepat, “Aku tidak tahu apa yang kamu maksud.”
Ajun Komisaris Fikri Salim melangkah ke tengah koridor. “Selamat pagi. Nadira Kusumadewi?”
Ruangan presentasi berubah menjadi ruang tontonan. Investor mundur dari pintu kaca. Tia Arum mengangkat ponsel lebih tinggi.
Arga Prasetya berkata ke telepon, “Sari Mulyani, dengarkan.”
“Aku rekam,” jawab Sari Mulyani.
Ajun Komisaris Fikri Salim menatap Arga Prasetya sekilas, lalu kembali kepada Nadira Kusumadewi. Ia mengeluarkan ponsel dinas, memutar layar ke arah mereka selama dua detik, cukup untuk dilihat kamera, tidak cukup untuk dibaca semua orang.
“Ini notifikasi elektronik sementara,” katanya dengan nada seperti membacakan berita acara. “Nomor ET-PRK/08-51/SCBD. Masuk melalui jalur internal dan diperkuat laporan keamanan gedung mengenai pengiriman mencurigakan. Kami menerima informasi yang baru saja berlaku terkait pengiriman ilegal yang menghubungkan perusahaan Anda dengan insiden di gudang Tanjung Priok pagi ini.”
Nadira Kusumadewi berdiri tegak. “Insiden apa?”
“Pertukaran muatan di area gudang. Satu korban meninggal.”
Bisik-bisik menyambar ruangan.
“Tidak,” kata Nadira Kusumadewi. “Perusahaan saya tidak punya pengiriman dari Tanjung Priok pagi ini.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menunjuk boks putih. “Itu apa?”
“Paket yang baru datang tanpa persetujuan saya.”
“Labelnya atas nama pengirim Arga Prasetya dan penerima Nadira Kusumadewi.”
Arga Prasetya berkata, “Label bisa dicetak siapa saja.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menatapnya lebih lama. “Anda Arga Prasetya?”
“Ya.”
“Kurir?”
“Ya.”
Bagas Wicaksono menyisipkan diri, suaranya prihatin untuk konsumsi ruangan. “Ajun Komisaris Fikri Salim, saya yakin ini ada penjelasan. Nadira Kusumadewi sedang dalam acara pendanaan. Mungkin kita bisa pindah ke ruangan tertutup.”
Arga Prasetya memandang Bagas Wicaksono. “Tentu. Ruangan tertutup selalu lebih nyaman untuk orang yang sudah menyiapkan cerita.”
Bagas Wicaksono menahan senyum. “Kamu memperburuk posisi istrimu.”
“Yang memperburuk posisi Nadira Kusumadewi adalah paket palsu yang datang tepat saat kamu mendorong tanda tangan tanah.”
Ajun Komisaris Fikri Salim mengangkat tangan. “Cukup. Kami akan memeriksa boks.”
“Dengan surat perintah?” tanya Arga Prasetya.
“Laporan baru masuk melalui jalur internal, statusnya aktif, dan ada laporan keamanan gedung. Dalam dugaan tindak pidana yang sedang berlangsung, kami punya kewenangan tindakan awal.”
“Dugaan berdasarkan laporan siapa?”
Ajun Komisaris Fikri Salim mendekat. “Anda sedang menghalangi penyelidikan?”
“Saya sedang meminta prosedur.”
“Prosedur akan dicatat.”
“Di kamera siapa?”
Pertanyaan itu membuat Ajun Komisaris Fikri Salim melihat ke sudut koridor. Kamera gedung. Ponsel Tia Arum. Ponsel beberapa investor. Ponsel Arga Prasetya. Semua lensa kecil menghadap.
Ajun Komisaris Fikri Salim meluruskan jaketnya sedikit, seolah memastikan ia tetap menjadi orang paling legal di lorong itu. “Semua tindakan kami dapat dipertanggungjawabkan.”
Bagas Wicaksono berkata, “Tidak ada yang perlu disembunyikan. Buka saja paketnya. Jika Nadira Kusumadewi tidak bersalah, justru ini membersihkan namanya.”
Nadira Kusumadewi menoleh kepadanya. “Kamu terlalu ingin boks itu dibuka.”
“Aku ingin masalah selesai.”
“Masalah mana? Polisi? Paket? Atau aku yang belum menandatangani term sheet?”
Bagas Wicaksono merendahkan suara. “Jangan campur semuanya.”
“Semuanya datang di menit yang sama.”
Ajun Komisaris Fikri Salim memberi isyarat kepada salah satu petugas. “Buka.”
Arga Prasetya bergerak ke depan meja.
Dua petugas langsung menahan jalur.
“Jangan,” kata Nadira Kusumadewi.
Ajun Komisaris Fikri Salim menjawab, “Ibu, kami punya alasan kuat.”
“Alasan kuat itu apa?”
“Nomor segel pada laporan cocok dengan pengiriman ini.”
“Laporan dari siapa?”
“Tidak bisa kami buka.”
“Kalau begitu jangan buka perusahaan saya di depan publik.”
Bagas Wicaksono menghela suara seolah kecewa, bukan marah. “Nadira Kusumadewi, kerja sama. Investor perlu melihat kamu bertanggung jawab.”
“Investor perlu melihat aku tidak menerima jebakan.”
Tia Arum mendekat satu langkah. “Nadira Kusumadewi, boleh komentar? Benarkah bahan kemasan Anda terkait pengiriman gudang yang menyebabkan korban?”
Nadira Kusumadewi menatapnya. “Kamu tahu itu pertanyaan kotor.”
“Aku bertanya sebagai media.”
“Kamu bertanya sebagai corong.”
Beberapa orang bersuara pelan. Bagas Wicaksono segera berkata, “Tia Arum, jangan provokatif.”
Namun matanya memberi Tia Arum izin yang berbeda.
Arga Prasetya menatap ponsel aman. Baris baru muncul.
`EVIDENCE PACKAGE: DO NOT DESTROY`
`TAG INSIDE: BLOOD TRACE`
Jarinya berhenti di atas satu tombol lain.
Ia bisa membuka sebagian identitas saat itu. Bisa memanggil jalur bank. Bisa membuat semua orang tahu bahwa jaket kurirnya hanyalah lapisan paling luar. Tetapi setiap tombol punya alamat balik. Begitu ia menekan, bukan hanya Bagas Wicaksono yang melihatnya. Ajun Komisaris Fikri Salim akan mencatatnya. Kamera Tia Arum akan memakannya. Nadira Kusumadewi akan dipaksa menanggung rahasia yang bahkan belum ia minta.
Keraguan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Terlalu lama.
Petugas membuka segel boks putih dengan cutter kecil.
Arga Prasetya memasukkan ponsel aman kembali ke balik jaket sebelum orang lain melihat pesan itu. Rahangnya mengeras. Kesalahan pertama pagi itu bukan karena ia tidak tahu. Kesalahan pertama adalah ia menunda jalur untuk melindungi rahasia, dan paket itu sekarang sudah terbuka di depan Nadira Kusumadewi.
Nadira Kusumadewi menutup jarak ke Arga Prasetya. Suaranya rendah, cepat. “Apa yang akan mereka temukan?”
“Customs tag.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Amplop itu memberi peringatan.”
“Arga Prasetya.”
“Nanti saya jelaskan.”
“Tidak. Aku lelah diberi nanti oleh semua orang.”
Arga Prasetya menoleh kepadanya. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke koridor itu, sesuatu di wajahnya melunak. “Saya tahu.”
“Apakah kamu bagian dari ini?”
“Tidak.”
“Tapi kamu tahu bahasanya.”
“Ya.”
Ia menahan jawaban lain karena boks terbuka.
Di dalamnya ada kantong bukti bening yang seharusnya tidak berada di paket komersial. Di dalam kantong itu tergulung sebuah tag bea cukai, kertas tebal berlaminasi, sudutnya koyak. Noda merah gelap mengering di sepanjang lubang tali. Ada kode gudang, nomor kontainer, dan stempel Tanjung Priok yang sebagian terhapus.
Seseorang di ruangan mengucap pelan. Seseorang lain memalingkan wajah.
Tia Arum tidak memalingkan kamera.
Ajun Komisaris Fikri Salim mengambil kantong itu dengan sarung tangan. “Nadira Kusumadewi, apakah Anda mengenali kode ini?”
“Tidak.”
“Nama perusahaan Anda muncul dalam rute substitusi.”
“Itu palsu.”
“Dokumen digital menunjukkan permintaan swap muatan masuk dari akun vendor Anda pukul 06.13.”
Nadira Kusumadewi tampak terpukul. “Pukul 06.13? Saya di rumah.”
Bagas Wicaksono berkata, cepat dan lembut, “Akun bisa diretas. Kita jangan menyimpulkan.”
Arga Prasetya menatapnya. “Kamu sudah punya kalimat pembelaan sebelum polisi menyebut jam.”
Bagas Wicaksono membalas, “Karena aku berpikir lebih cepat daripada kamu.”
“Tidak. Karena kamu membaca naskah lebih dulu.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menatap Arga Prasetya. “Anda juga akan kami mintai keterangan. Nama Anda di pengiriman.”
“Baik. Mulai dari siapa yang memasukkan order ke sistem.”
“Itu urusan kami.”
“Kalau itu urusan Anda, kenapa Anda membiarkan paket sampai ke lantai investor sebelum diamankan?”
Pertanyaan itu membuat beberapa investor benar-benar mundur dari Bagas Wicaksono. Nadira Kusumadewi melihat perubahan kecil itu.
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Laporan baru efektif setelah paket masuk gedung. Kami bertindak berdasarkan informasi yang tersedia.”
“Nyaman sekali waktunya.”
“Kami juga perlu melihat siapa yang menerima langsung.”
“Penerimanya tertulis di label.”
“Kami perlu konfirmasi fisik.”
“Dan ketika Nadira Kusumadewi menolak tanda tangan, Anda tetap membuka.”
“Karena bukti tindak pidana.”
“Bukti yang Anda biarkan dibawa kurir sipil ke acara publik.”
Ajun Komisaris Fikri Salim mendekat lagi. “Hati-hati.”
Arga Prasetya menjawab, “Saya sedang sangat hati-hati.”
Bagas Wicaksono bertepuk satu kali, pelan, seolah mengembalikan rapat ke jalurnya. “Baik. Situasi sudah jelas. Ada penyelidikan. Nadira Kusumadewi akan bekerja sama. Investor yang terhormat, kami mohon waktu untuk menangani ini secara profesional.”
Investor yang sejak awal mencatat mengangkat tangan. “Sebelum itu, saya ingin tahu satu hal. Jika ini hanya workshop kecil dengan produk bertahap, kenapa valuasinya didorong setinggi ini dan kenapa klausul asetnya begitu agresif?”
Bagas Wicaksono tersenyum seperti orang yang senang mendapat pertanyaan teknis. “Karena nilai bisnis tidak hanya ada pada mesin hari ini. Ada lisensi, akses vendor, izin kemasan halal lama, rekam pengiriman, dan posisi operasional yang sulit direplikasi.”
“Sejauh mana akses vendor itu relevan dengan Priok?” tanya investor itu.
Sepersekian detik, senyum Bagas Wicaksono terlalu tetap.
“Relevan sebagai distribusi,” jawabnya. “Bukan sebagai isu kriminal.”
Nadira Kusumadewi menatapnya.
Arga Prasetya juga.
Bagas Wicaksono segera melanjutkan, “Justru term sheet bisa menjadi struktur penyelamatan. Dengan governance investor, risiko operasional dapat dikendalikan.”
Nadira Kusumadewi menatapnya tidak percaya. “Kamu masih mendorong tanda tangan?”
“Ini saat paling penting untuk menunjukkan stabilitas.”
“Perusahaan saya baru saja dituduh terhubung dengan kematian seseorang.”
“Karena itu kamu butuh payung.”
“Payung atau borgol yang lebih cantik?”
Bagas Wicaksono berhenti. Beberapa investor saling pandang lagi.
Arga Prasetya melihat kesempatan itu, tipis namun nyata. “Nadira Kusumadewi, jangan tanda tangan.”
“Aku tidak akan.”
Bagas Wicaksono berkata dingin, “Tanpa pendanaan, workshop itu tidak bertahan sebulan.”
“Kalau bertahan dengan menyerahkan tanah, itu bukan bertahan.”
“Tanah itu aset mati kalau kamu sentimental.”
“Tanah itu tempat orang bekerja.”
“Orang bekerja butuh gaji. Gaji butuh uang. Uang butuh jaminan.”
“Jaminan bukan berarti menyerahkan leher.”
Bagas Wicaksono menarik napas, lalu kembali kepada investor yang bertanya. Ia tidak lagi bisa sekadar menghina Arga Prasetya; ia harus meyakinkan uang yang mulai ragu.
“Lahan itu bukan cuma halaman tua,” katanya, suaranya makin halus, tetapi kata-katanya makin jelas. “Workshop Haji Mahendra Kusumadewi masih punya izin kemasan halal lama, akses vendor yang belum diputus, dan catatan gudang yang memberi jalur distribusi ke Priok dengan pemeriksaan administratif yang lebih ringan. Dalam struktur yang tepat, itu meningkatkan valuasi. Itu sebabnya investor serius. Itu sebabnya tempat itu penting.”
Arga Prasetya menatapnya tajam.
Bagas Wicaksono baru saja mengatakan terlalu banyak, bukan karena bodoh, melainkan karena investor memaksanya menjelaskan harga.
Nadira Kusumadewi menangkapnya juga. “Jadi bukan tanahnya.”
Bagas Wicaksono membeku sepersekian detik.
“Bukan hanya tanahnya,” lanjut Nadira Kusumadewi. “Kalian butuh workshop sebagai pintu masuk.”
“Jangan dramatis.”
“Kamu baru saja bilang sendiri.”
Bagas Wicaksono hampir menjawab, tetapi Ajun Komisaris Fikri Salim memotong dengan suara resmi.
“Nadira Kusumadewi, kami meminta Anda ikut ke kantor untuk klarifikasi.”
“Sekarang?” tanya Nadira Kusumadewi.
“Sekarang.”
“Apakah saya ditangkap?”
“Dimintai keterangan.”
“Apakah saya boleh didampingi kuasa hukum?”
“Tentu.”
Bagas Wicaksono langsung berkata, “Tim saya bisa menyediakan—”
“Tidak,” potong Nadira Kusumadewi.
Bagas Wicaksono menatapnya.
Nadira Kusumadewi mengulang, lebih terang, “Tidak dari kamu.”
Ruang itu menyerap kalimat tersebut dengan rakus. Tia Arum tersenyum kecil. Bagas Wicaksono menahan sesuatu yang hendak naik ke wajahnya.
Ada jeda sepuluh detik yang terasa lebih panjang daripada semua teriakan pagi itu.
Nadira Kusumadewi berdiri di antara boks putih, tag bernoda, dan map term sheet. Arga Prasetya berdiri setengah langkah di sampingnya, tidak menyuruhnya memilih, tidak menawarkan kalimat indah, tidak mengambil map itu dari tangannya. Bagas Wicaksono terus memberi jalan keluar yang ujungnya adalah tanda tangan. Arga Prasetya hanya memberi satu larangan: jangan tanda tangan apa pun.
Di tempat yang sejak tadi membuatnya merasa kecil, perbedaan itu tiba-tiba menjadi sangat jelas.
Bagas Wicaksono ingin ia menyerahkan sesuatu.
Arga Prasetya ingin ia tidak menandatangani apa pun yang belum ia pahami.
Nadira Kusumadewi mendekati meja tempat map term sheet tergeletak. Ia mengambil map itu. Bagas Wicaksono tampak hampir lega, mengira ia akhirnya memilih jalur yang disediakan.
Nadira Kusumadewi membuka halaman pertama, membaca cepat, lalu berhenti pada halaman tanda tangan. Di belakangnya, layar masih menampilkan foto workshop: Melati Prabasari, pekerja-pekerja lama, meja kayu, rak bahan, dan cetakan pertama Haji Mahendra Kusumadewi yang sekarang tergeletak nyata di meja.
Nadira Kusumadewi menyentuh cetakan itu dengan dua jari.
Sebentar saja.
Cukup untuk membuat ruangan melihat bahwa yang dipertaruhkan bukan bidang tanah di peta, melainkan tangan-tangan yang setiap pagi membuka gembok, mesin tua yang masih batuk-batuk hidup, dan nama ayah yang tertinggal di bekas minyak pada kayu.
Ponselnya menyala lagi di meja.
Pesan Melati Prabasari masih di sana.
*Mesin sudah jalan, Bu, kami tunggu kabar baik.*
Nadira Kusumadewi mengangkat wajah.
“Ini bukan soal menang melawan Bagas Wicaksono,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada kamera. “Ini soal tidak membiarkan orang mengambil tempat kerja yang ayahku tinggalkan untuk mereka.”
Lalu ia mencabut halaman tanda tangan. Dengan gerakan bersih, ia merobeknya menjadi dua. Lalu empat.
Suara sobekan itu lebih tajam daripada tawa tadi.
“Nadira Kusumadewi,” kata Bagas Wicaksono, rendah.
Ia meletakkan potongan kertas di atas meja, tepat di samping cetakan tua. “Pendanaan yang datang bersama polisi bukan investasi.”
Investor yang tadi bertanya berdiri. “Kami tidak tahu ada klausul seperti itu.”
Bagas Wicaksono segera menghadap mereka. “Ini salah paham. Draft belum final.”
Nadira Kusumadewi berkata, “Draft cukup final untuk disodorkan di panggung. Versinya final. Saya tidak pernah menerima versi itu.”
Investor itu menutup foldernya. “Kalau begitu tanda tangan kami ditarik sampai audit independen selesai.”
Investor lain mengangguk. “Kami juga.”
Wajah Bagas Wicaksono tetap rapi, tetapi ruangan mendengar bunyi pertama dari sesuatu yang retak.
Tia Arum mendekat lagi. “Apakah ini berarti Anda menuduh Bagas Wicaksono menjebak perusahaan Anda?”
Bagas Wicaksono menoleh tajam. “Tia Arum.”
Nadira Kusumadewi menatap kamera. “Saya menuduh siapa pun yang memasukkan paket itu ke sini. Saya menuduh siapa pun yang memakai nama Arga Prasetya. Saya menuduh siapa pun yang mengira workshop saya bisa direbut dengan membuat saya takut.”
Arga Prasetya melihat Bagas Wicaksono. Kalimat Nadira Kusumadewi bukan kemenangan penuh. Namun di ruang yang sejak tadi dibeli dengan senyum dan istilah keuangan, itu cukup untuk memecahkan permukaan.
Ajun Komisaris Fikri Salim mengetukkan jari pada kantong bukti. “Pernyataan di media tidak mengubah bukti.”
“Bukti itu belum diuji,” kata Nadira Kusumadewi.
“Karena itu Anda ikut kami.”
“Baik. Tapi saya berjalan sendiri. Tidak ada yang memegang saya.”
Ajun Komisaris Fikri Salim memberi isyarat agar petugas mundur setengah langkah.
Bagas Wicaksono mendekati Nadira Kusumadewi. “Pikirkan baik-baik. Di luar ruangan ini, dunia tidak akan sebaik aku.”
Nadira Kusumadewi menatapnya. “Kamu salah menilai dirimu.”
Wajah Bagas Wicaksono membeku sekejap.
Arga Prasetya mengambil amplop cokelat, kartu hitam, dan dokumen cerai dari meja. Ia menyelipkan semuanya kembali ke tas selempang, tetapi ponsel aman tetap aktif di balik jaket. Di layarnya, tanpa dilihat orang lain, muncul satu instruksi baru.
`BANK NODE AWAITING COMMAND`
Lalu:
`PORT NODE AWAITING COMMAND`
Lalu:
`PUBLIC RECORD MIRROR READY`
Tiga pintu. Tiga arah. Semua meminta keputusan.
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Arga Prasetya, ikut.”
Arga Prasetya menatap Nadira Kusumadewi. “Kamu percaya saya?”
Pertanyaan itu datang terlambat bertahun-tahun dan terlalu cepat untuk hari ini. Nadira Kusumadewi tidak menjawab dengan kata manis.
“Aku percaya kamu tidak mengirim paket itu,” katanya.
“Cukup untuk sekarang.”
“Tidak.” Ia menatap tas selempangnya. “Nanti kamu jelaskan kartu hitam itu.”
“Ya.”
“Bukan nanti yang kabur.”
“Ya.”
Bagas Wicaksono menyela, “Mengharukan. Tapi polisi menunggu.”
Arga Prasetya menghadapnya. “Kamu juga.”
“Aku?”
“Orang yang terlalu dekat dengan panggung biasanya lupa pintu keluar.”
Bagas Wicaksono tersenyum tipis. “Aku punya lebih banyak pintu daripada yang bisa kamu hitung.”
Ponsel aman di balik jaket Arga Prasetya mengirim getar tunggal. Di layar kecil muncul nama pertama dari jaringan lama: Surya Hadinata.
`READY FOR FREEZE`
Arga Prasetya tidak menekan apa pun. Belum di depan semua orang. Belum sebelum Nadira Kusumadewi aman dari lift, dari mobil, dari tangan yang bisa memindahkan saksi seperti memindahkan barang.
Tetapi ia menatap Bagas Wicaksono cukup lama hingga laki-laki itu memahami satu hal: sesuatu sudah berubah bentuk, dan bukan lagi mengikuti tata acara investor.
Di koridor, petugas membawa kantong bukti berisi tag bernoda. Kurir palsu berdiri makin pucat.
Arga Prasetya menunjuknya. “Dia ikut juga.”
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Kami yang menentukan.”
“Kalau dia hilang, semua kamera melihat terakhir kali dia berada di sini bersama Anda.”
Kurir itu langsung berkata, “Saya mau ikut! Saya cuma antar. Saya nggak tahu isinya.”
Bagas Wicaksono memandang kurir itu dengan ketidaksabaran yang hampir tidak tertutup. “Tidak ada yang menuduhmu.”
“Pak, tadi Bapak suruh saya prosedur.”
“Saya menyuruh semua orang tertib.”
Arga Prasetya berkata kepada kurir itu, “Simpan aplikasi tetap terbuka. Jangan logout.”
Kurir itu mengangguk cepat.
Ajun Komisaris Fikri Salim menunjuk dua petugas. “Amankan dia juga. Masukkan dalam catatan pendamping barang bukti.”
Ia mengucapkan kalimat itu sambil melihat ke kamera gedung, seperti memastikan setiap kata punya bentuk resmi.
Tia Arum masih merekam. “Ajun Komisaris Fikri Salim, apakah benar ini terkait korban meninggal di Tanjung Priok?”
Ajun Komisaris Fikri Salim berbalik dengan ekspresi resmi yang sudah siap siar. “Kami masih mendalami dugaan keterlibatan jaringan distribusi dalam pertukaran muatan berbahaya. Kami minta publik tidak berspekulasi.”
Tia Arum menoleh ke kamera. “Jaringan distribusi, pertukaran muatan, dan startup kemasan halal yang sedang mencari dana. Pagi yang mengejutkan di SCBD.”
Nadira Kusumadewi menghentikan langkah di depan Tia Arum. “Kalau kamu potong pernyataanku, aku akan tuntut.”
Tia Arum tersenyum. “Aku hanya menayangkan fakta.”
“Fakta tidak butuh musik latar.”
Tia Arum tidak menjawab. Namun ponselnya turun sedikit.
Mereka bergerak menuju lift. Investor menyingkir. Beberapa wajah menunjukkan simpati, beberapa menghitung kerugian reputasi, beberapa sudah mengetik pesan kepada orang yang tidak terlihat.
Di depan pintu lift, Bagas Wicaksono berdiri di samping Nadira Kusumadewi untuk terakhir kali, seolah masih berhak menempati posisi itu.
“Aku bisa memperbaiki ini,” katanya pelan.
Nadira Kusumadewi tidak menatapnya. “Kamu menikmati ketika ini rusak.”
“Aku menawarkan jalan keluar.”
“Kamu menawarkan jalan yang ujungnya sudah kamu beli.”
Bagas Wicaksono mendekatkan wajah sedikit. “Hati-hati dengan Arga Prasetya. Ada banyak hal tentang dia yang tidak kamu tahu.”
Nadira Kusumadewi akhirnya menoleh. “Pagi ini aku belajar ada banyak hal tentang kamu yang aku tidak ingin tahu.”
Pintu lift terbuka.
Arga Prasetya masuk lebih dulu, lalu Nadira Kusumadewi, lalu dua petugas. Ajun Komisaris Fikri Salim ikut masuk dengan kantong bukti. Kurir palsu digiring ke lift sebelah.
Sebelum pintu menutup, Bagas Wicaksono menatap Arga Prasetya.
“Ini belum selesai,” katanya.
Arga Prasetya menjawab, “Memang baru dimulai.”
Pintu lift menutup.
Begitu angka lantai turun, Nadira Kusumadewi berbalik kepada Arga Prasetya, tidak peduli pada dua petugas dan Ajun Komisaris Fikri Salim yang berdiri terlalu dekat.
“Kamu punya satu menit,” katanya. “Apa itu war order?”
Ajun Komisaris Fikri Salim langsung menoleh.
Arga Prasetya menahan tatapan Nadira Kusumadewi. “Perintah darurat dari jaringan lama.”
“Jaringan apa?”
“Logistik data.”
“Kenapa nama Priok ada di sana?”
“Karena ini bukan hanya tentang perusahaanmu.”
“Jangan bicara melingkar.”
“Saya tidak bisa buka semua di lift.”
“Buka yang bisa.”
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Percakapan ini akan dicatat.”
Arga Prasetya menatapnya. “Bagus.”
Lalu ia kembali kepada Nadira Kusumadewi.
“Ayahmu pernah menyimpan sesuatu. Raka Sembiring juga. Tanda di amplop, tag itu, term sheet tanah—semuanya mengarah ke jalur yang sama. Workshop itu bukan cuma aset. Izin lama, akses gudang, dan catatan vendor ayahmu bisa dipakai sebagai pintu masuk ke rantai Priok tanpa terlihat seperti rantai Priok.”
Nadira Kusumadewi tampak menahan marah dan takut dalam satu garis wajah. “Kamu tahu tentang ayahku?”
“Saya tahu sebagian.”
“Kenapa tidak pernah bilang?”
“Karena saya belum punya bukti.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang mereka membawa buktinya sendiri ke hadapan kita.”
Nama Raka Sembiring menancap lebih dalam setelah beberapa detik.
Nadira Kusumadewi pernah melihat nama itu.
Bukan di berita. Bukan di dokumen resmi. Di rumah lama, dalam laci bawah meja Haji Mahendra Kusumadewi, terselip sebuah kartu nama kusam yang disimpan bersama buku kas workshop tahun pertama. Ia masih ingat karena kartu itu tidak cocok berada di antara catatan tepung serat, tagihan listrik, dan daftar upah pekerja.
*Raka Sembiring — routing audit.*
Di belakang kartu itu ada tulisan tangan ayahnya: *kalau jalur lama hidup lagi, jangan percaya pintu depan.*
Nadira Kusumadewi tidak pernah mengerti maksudnya. Ia mengira itu catatan kerja yang sudah lewat.
Sekarang lift turun dan semua kata lama itu seperti ikut jatuh bersamanya.
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Menarik. Anda mengakui mengetahui jaringan ini.”
“Saya mengakui mengenali pola,” jawab Arga Prasetya.
“Kami akan gali.”
“Silakan.”
Ponsel aman di balik jaket kembali bergetar. Kali ini dua kali pendek. Arga Prasetya menundukkan pandangan sepersekian detik.
`SURYA HADINATA: CONFIRMED`
`ESCROW MAP FOUND`
`BAGAS WICAKSONO / BIMO HARTANTO LINK PENDING`
Ia menutup layar sebelum Ajun Komisaris Fikri Salim melihat.
Nadira Kusumadewi menangkap gerakan itu. “Masih ada yang kamu sembunyikan.”
“Ya.”
“Setidaknya kamu jujur soal itu.”
“Untuk pertama kali hari ini, itu paling aman.”
Lift turun melewati beberapa lantai. Suara mekanis lembut memenuhi ruang sempit.
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Di bawah, Anda berdua ikut kendaraan kami.”
Arga Prasetya menjawab, “Kami ikut kendaraan resmi, dengan nomor tercatat, rute tercatat, dan saya mengirim posisi langsung.”
Ajun Komisaris Fikri Salim tersenyum tipis. “Anda banyak syarat.”
“Saya pernah melihat saksi salah mobil.”
Nadira Kusumadewi menatapnya. “Pernah?”
“Ya.”
Ajun Komisaris Fikri Salim tidak bertanya lanjut. Justru sikap diamnya memberi jawaban yang lebih buruk.
Lift mencapai lobi servis, bukan lobi utama. Pintu terbuka ke lorong belakang gedung. Tidak ada marmer di sini. Hanya dinding polos, troli katering, kardus, dan pintu darurat yang mengarah ke area parkir tertutup. Udara lebih pengap, berbau kardus basah, minyak katering, dan logam pintu darurat yang terlalu sering disentuh.
Arga Prasetya berhenti.
“Kenapa lewat sini?”
Ajun Komisaris Fikri Salim menjawab, “Menghindari media.”
“Media ada di atas.”
“Kami menghindari kerumunan.”
“Di lobi utama ada kamera gedung lebih banyak.”
Dua petugas saling pandang.
Nadira Kusumadewi berkata, “Saya mau lewat lobi utama.”
“Tidak memungkinkan,” kata Ajun Komisaris Fikri Salim.
“Kalau saya belum ditangkap, saya memilih jalur.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menatapnya. “Jangan menguji kesabaran kami.”
Arga Prasetya mendengar bunyi ban pelan dari balik pintu parkir. Bukan suara ramai kendaraan gedung. Satu kendaraan berhenti dekat pintu servis. Terlalu dekat.
Ponsel aman menyala lagi.
`BLACK VEHICLE: SERVICE EXIT`
`RISK: TRANSFER`
Sari Mulyani menelepon lagi. Arga Prasetya mengangkat.
“Aku di bawah,” kata Sari Mulyani tanpa salam. “Jangan keluar pintu servis. Ada SUV hitam nempel di akses belakang. Dua orang turun. Salah satunya bawa tas hitam.”
Arga Prasetya menatap Ajun Komisaris Fikri Salim. “Kami lewat lobi utama.”
Ajun Komisaris Fikri Salim berkata, “Tidak.”
Nadira Kusumadewi mundur satu langkah dari pintu servis. “Saya tidak ikut mobil yang tidak saya lihat.”
Petugas di belakangnya bergerak.
Arga Prasetya mengangkat tangan, kali ini bukan menyerah, melainkan menunjukkan ponsel yang masih tersambung. “Semua terekam.”
Suara Sari Mulyani dari speaker terdengar jelas, keras, sengaja. “Arga Prasetya, tiga rider di lobi utama. Dua di ramp. Kalau mereka paksa pintu belakang, kami masuk. Tapi ingat, aku bukan pasukan sulap. Aku cuma bisa bikin jalur ramai dan saksi banyak.”
Ajun Komisaris Fikri Salim menatap ponsel itu dengan kebencian singkat. “Matikan.”
“Ubah rute.”
“Ini perintah kepolisian.”
“Kalau resmi, tidak takut kamera utama.”
Ketegangan merambat di lorong belakang. Di balik pintu servis, seseorang mengetuk dua kali dari luar. Petugas terdekat menegang.
Nadira Kusumadewi berbisik, “Itu siapa?”
Arga Prasetya menjawab, “Bukan orang yang ingin kita temui.”
Ajun Komisaris Fikri Salim akhirnya berkata, “Baik. Lobi utama.”
Sari Mulyani di telepon mendengus. “Akhirnya otaknya dipakai.”
Arga Prasetya memutus panggilan sebelum kalimat berikutnya lebih kasar.
Rombongan berbalik. Kali ini Ajun Komisaris Fikri Salim berjalan paling depan, tetapi langkahnya kehilangan kepastian awal. Nadira Kusumadewi berada di samping Arga Prasetya.
“Arga Prasetya,” katanya pelan.
“Ya.”
“Kalau kita keluar dari gedung ini, hidupku tidak kembali seperti tadi pagi, kan?”
“Tidak.”
“Workshop?”
“Akan mereka tekan.”
“Ibuku?”
“Akan mereka pakai.”
Ia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan wajah yang lebih dingin. “Kalau begitu jangan biarkan mereka lebih dulu sampai ke workshop.”
Arga Prasetya menatapnya. “Kamu memberi perintah?”
“Aku meminta suamiku memilih sisi.”
Kata itu—suamiku—tidak lembut. Tidak romantis. Tetapi di lorong servis gedung SCBD, di antara polisi, paket bernoda, dan perang data yang baru aktif, kata itu memiliki berat yang tidak bisa dibeli Bagas Wicaksono.
Arga Prasetya mengeluarkan ponsel aman.
Ajun Komisaris Fikri Salim langsung berkata, “Apa itu?”
Arga Prasetya tidak menjawabnya. Ia menatap Nadira Kusumadewi.
“Kalau saya tekan ini, mereka akan tahu saya bukan hanya kurir.”
Nadira Kusumadewi menelan jawaban yang mudah. Ia melihat jaket basahnya, tas selempang, ponsel hitam tanpa logo, lalu pintu menuju lobi utama.
“Mereka sudah tahu cukup untuk mencoba menghancurkan kita,” katanya. “Buat mereka tahu sisanya.”
Arga Prasetya menekan perintah pertama.
Di layar, baris putih muncul dan terkirim.
`FREEZE: ESCROW-LINKED ACCOUNTS`
`TARGET: BAGAS WICAKSONO / BIMO HARTANTO / PRI0K CHAIN`
`EXECUTE`
Jauh dari koridor itu, sesuatu mulai berhenti.
Bukan dengan ledakan. Bukan dengan sirene. Dengan penolakan dingin dari sistem yang tiba-tiba menutup akses, membekukan angka, menolak transfer, dan mengirim tanda merah ke meja-meja yang selama ini percaya uang selalu punya jalan keluar.
Ponsel aman bergetar sekali lagi.
`SURYA HADINATA: FREEZE EXECUTED`
`ESCROW-03: LOCKED`
`BAGAS WICAKSONO PERSONAL BRIDGE: TRANSFER FAILED`
`BIMO HARTANTO SHELL NODE: PARTIAL HOLD`
Nadira Kusumadewi melihat layar itu. “Apa yang baru saja kamu lakukan?”
Arga Prasetya menyimpan ponsel aman.
“Saya mengantar paket kedua.”
“Ke siapa?”
“Ke rekening mereka.”
Di saat yang sama, jauh di atas mereka, ponsel Bagas Wicaksono bergetar tanpa henti di atas meja presentasi yang masih dipenuhi potongan term sheet. Satu notifikasi merah muncul, lalu satu lagi.
*Transfer failed.*
*Escrow access suspended.*
*Bridge facility rejected.*
Bagas Wicaksono mengangkat ponsel itu. Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya tidak sempat memilih ekspresi. Panggilan dari Bimo Hartanto masuk hanya satu dering, lalu terputus, lalu masuk lagi. Bagas Wicaksono menatap layar seperti menatap pintu yang mendadak dikunci dari sisi lain.
Di lorong bawah, ponsel aman Arga Prasetya menyala lagi.
Bukan dari Surya Hadinata.
Satu pesan pendek masuk dari kotak mati yang seharusnya tidak pernah berbunyi kecuali rantai lama benar-benar aktif.
`RAKA SEMBIRING DEAD DROP: IF PRI0K WAKES, FOLLOW MAHENDRA'S LEDGER.`
Arga Prasetya membaca pesan itu sekali.
Nadira Kusumadewi melihat nama Raka Sembiring di layar sebelum ia menutupnya.
“Ayahku punya buku kas lama,” katanya pelan. “Di laci bawah. Ada kartu nama Raka Sembiring di sana.”
Arga Prasetya berhenti setengah langkah.
Untuk pertama kalinya sejak war order muncul, ia tampak benar-benar terkejut.
“Buku itu masih ada?”
“Kalau mereka belum sampai ke workshop.”
Di ujung lorong, pintu menuju lobi utama terbuka. Cahaya putih gedung masuk, bersama suara orang ramai, kamera, dan langkah banyak kaki. Sari Mulyani mungkin ada di luar sana. Bagas Wicaksono pasti sedang menerima panggilan pertama. Polisi masih mengawal mereka. Tag berdarah masih di kantong bukti.
Tetapi Nadira Kusumadewi berjalan maju.
Kali ini Arga Prasetya berjalan di sampingnya, bukan di belakang.